KONTROVERSI SOEKARNO

 Memed Jafareksa

 

KRONOLOGIS BARANG-BARANG AMANAH SOEKARNO:

trilyun USD Peninggalan Bung Karno (dikenal dng Barang Amanah BK)

 

1). Pd Awal Abad 17 ASET HARTA Raja2 & Kesultanan Nusantara (Cirebon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makasar, Bone, Goa, Luwut,Ternate, dLL,) Dalam Nilai Ratusan Trilyun USD (dalam bentuk emas,logam mulia,berlian,dsb) diSimpan di Bank Zuchrigh (bagi yang tau,tlg di revisi nama Bank-nya) – Jerman (karena pada saat itu Jerman adalah negara makmur, menguasai DUNIA & Bank tsb adalah yg tertua di Jerman)

 

2). Pd Thn 1620 Nusantara di JAJAH BELANDA selama 3,5′Abd. Bgi Kesultanan / Raja2 Nusantara yg Melawan Belanda, DATA Administrasi HARTA di Bumi Hanguskan, Hanya bagi Kerajaan Amangkurat I tetap memiliki DATA UTUH, Krn PnJiLat Blanda.

NOTTE:

Salah satu bukti Amangkurat I sbg penjilat Belanda : Pangeran Girilaya – Raja Cirebon II selaku menantu dari Raja Amangkurat I, atas tipuan ‘Undangan Makan’ ternyata Raja Cirebon II beserta kedua putranya yg berumur 11 & 9 thn ditahan selama 10 thn, hingga wafatnya Raja Cirebon II yg dimakamkan di Girilaya. Atas wafatnya Raja Cirebon II, Sultan TRUNUJOYO diutus untuk menjemput kedua putra mahkota tsb untuk menggantikan tahta Kerajaan Cirebon. Dgn melalui peperangan, akhirnya Trunojoya berhasil membawa Putra Mahkota yg kedua/adiknya. Sedangkan Putra Mahkota yg pertama/kakaknya,diamankan oleh paman dr Ibunya ke Gn.Lawu. Hingga akhirnya berdiri Kerajaan Cirebon mnjadi dua kesultanan,yaitu; KANOMAN & KASEPUHAN.

 

3). Pd Th 1939, AS Setting “Bung Karno” untuk Menata ASET Raja2 Nusantara dan Pngalihan HAK atas nama Pribadi SOEKARNO.

NOTTE:

a].PENYERAHAN HIBAH REKAYASA dilakukan oleh Raja SoLo & Yogya yg Mengatasnamakan Raja2 Nusantara. Selanjutnya Aset Ke 2 RAJA Tsb UTUH/TDK DI HIBAHKAN.

b].HAK AHLIWARIS RajaNusantara, SPESERPUN NIHIL (tdk menerima hak waris).

 

4). Th.1944 Berdirilah BANK DUNIA atas DASAR COLETRAL ASET RajaNusantara!! Dengan dana tsb, Bank Dunia memberikan pinjaman kepada 40 Negara. Semenjak itu AS semakin KUAT utk CETAK UANG & SUSUN STRATEGI PERSENJATAAN utk menguasai dunia.

 

5). Th.1945 ‘PD.-II. JEPANG MNYERAH, Mbri Kmerdekaan.

Beberapa fakta :

a]. Bung Karno dlam salah satu pidatonya pernah berkata (kurang lebih) “..kalau Jepang tidak menyerahkan kemerdekaan kepada kita,maka saya akan minta AS utk mem-bom Jepang..”

b]. Bung Karno diangkat Jdi KETUA PBB, Bukankah pada Waktu itu org Asing Banyak yg Lebih Pintar dr Bung Karno? “TDK ANEH LAGI”. Krn Brdirinya Bank Dunia berasal dr Aset RAJA NUSANTARA. Smp saat ini,tidak ada jabatan Ketua PBB selain Bung Karno,yang ada hanyalah SEKJEN.

NOTTE:

Th.45′ utk Bngun NEGARA Klau Bung Karno JUJUR & BENAR (TDK AMBISIUS), Hrsnya Kumpulkn Sultan2 Nusntara Utk diberi tahu Klau Buyutnya (Raja Nusantara) pd Abd.17′SimpnHrta di Bank Juchrigh-Jerman. Knpa Bung Karno BUNGKAM….?

 

6). Antara thn ’50 – ’53,Bung Karno memberikan PELIMPAHAN COLETERAL kepada Kolega & Keluarganya,yg berasal dari ASET RAJA2 NUSANTARA yg dihibahkan atas nama pribadi Bung Karno. Skrg byk yg sdh pd Balik Nama.

 

7). Th.54, sebagian sisa Dana Koleteral tsb dibagi2kan dalam bentuk AMANAH kpd 73 org Tkoh Negara & Ulama, Krn Ada Kpentingan POLITIK PRAKTIS. Th.55 Pmilu Pertama, Bung Karno diangkat Presiden “SEUMUR HIDUP”

NOTTE:

a]. Penerima PELIMPAHAN COLETERAL mendapatkan Royalti, namun pemegang AMANAH tdk mendapatkan Royalti. Siapakah yg Nikmati Royalti atas Dana Coleteral dr Bank Dunia? Siapa Lagi Kalau Bukan Colega & KLrgnya.

b]. Perlu Pndirian “LEVARN” / Lembaga Executive Verifiksi AsetRaja Nusantra

c]. MKSD+TJUAN: AtsTrsimpannya Aset Raja Nusantra, baik Milik Rja/Ksultanan: Cerbon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Mksar, Bone, Goa, Luwut,Trnate, dLL, yg disimpn pd Awal Abd.17diBank Zuchrigh – Jerman dg Nilai RatusnTrliyun USD yg telah diHibahkan ke Pribadi Ir.Soekarno (Rekyasa JO. AS), Utk MODAL AWAL Pmbentukan BANK DUNIA, kini sdh pd Balik nama bgi a/n Kelrga & Coleganya (di_Luar AMANAH). Hrs Di VERIFIKASI/ Tata Juridis FormiL Utk Ktetapn HAK bgi Ahli WARIS & NEGARA.

d]. Dlm Prtemuan Para Sultan SeIndonesia diBali pd thn lalu. Selaku Ahliwaris Mengharapkan KEADILAN HAK, atas HartaYg di Gelapkan. Smg Para AMANAH dLL, Mnyadari ats Kganjilan Hibah tsb.

 

8). Mngapa BK Keluar dr PBB & Pidatonya antara Th 1959 s/d 1963, Ber-API2 ANTI IMPERIALIS, ANTI NEKOLIM..! Krn ColetraLnya TERNYATA TDK BS DICAIRKAN & DIGUNAKAN UTK PEMBANGUNAN NKRI sesuai dgn REPELITA yg telah diprogram. Alias dipersulit oleh AS

 

9). AS berkepentingan untuk membungkam Bung Karno,selain krn alasan Dana Coleteral tsb, juga krn Bung Karno membentuk POROS SEGITIGA Peking-Jakarta-Pyongyang. Selanjutnya melalui KONSPIRASI & tipu daya,AS bertindak sebagai DALANG atas lengsernya Bung Karno.

 

10). Tiga org Jendral (yg terlibat dlm gerakan BAWAH TANAH buatan AS) memaksa Bung Karno untuk Menandatangani SUPERSEMAR.x

NOTTE:

Kemudian isi Supersemar di-UBAH (dipalsukan) & diserahkan kpd Soeharto. Soeharto tdk mengetahui ttg PEMALSUAN Supersemar tsb & menjalankan Supersemar dng baik. Soeharto baru mengetahui hal tsb skitar thn ‘80an. Namun sdh terlambat & SEJARAH sdh terlanjur dituliskan…. (CERITA LENGKAP AKAN DITULISKAN DLM TREAD TERSENDIRI)

 

11). Soekarno lengser & DALAM PERKEMBANGANNYA MEMBAWA Soeharto menjabat sebagai Presiden RI.

 

12). Skitar Th. 1995, 7 orang pemegang SURAT AMANAH dr Soekarno, menghadap Soeharto agar Pemerintah dapat menggunakan Dana Coletral tsb utk pembangunan RI.

NOTTE:

Dana Coletral tsb (yg ada di Bank Dunia) tdk dpt dicairkan,namun dapat digunakan untuk Jaminan Cetak Uang. Soeharto mengajukan ijin utk pencetakan IDR atas Jaminan Dana Coletral tsb.

 

13). Dilakukan Sidang Moneter Internasional,dng salah satu agenda utk membahas rencana pencetakan IDR oleh pemerintah RI. 10-negara menolak utk memberikan ijin (termasuk AS & sekutunya),sisanya mengijinkan. Atas dasar voting,maka pemerintah RI diijinkan utk mencetak uang sebesar “Rp. 20.000 trilyun” dng jaminan 5 Coletral (Salah satu Coletral tsb adalah milik Kerajaan Cirebon sebesar 13.000 trilyun)

NOTTE:

AS tdk memberikan ijin,krn khawatir Soeharto akan membangkitkan DUNIA ISLAM. Krn thn 1987 Yayasan AmalBaktiMuslimPancasila sdh mulai merintis & menggalakkan bantuan utk pembangunan masjid di sluruh Ind.

 

14). Pencetakan uang dilakukan di Jerman & Israel (pemenang tender adalah Australia). Disisi lain AS & sekutunya mulai melakukan KONSPIRASI utk merusak stabilitas Ekonomi Indonesia.

 

15). Maret 1997, secara bertahap IDR sdh mulai masuk ke Ind (masih berstatus atas nama Amanah yg ditempatkan di luar gudang BI). Baru sekitar 9% IDR tsb yg diregristasi oleh BI,terjadilah KRISIS MONETER krn Goerge Soros melakukan transaksi PEMBELIAN RUPIAH secara besar2an yg dibayar dgn USD. IDR dicetak dalam cetakan uang plastik pecahan Rp.100.000,- thn cetakan 1997.

NOTTE:

Pak HArto berencana dlm periode 1998 – 2003, TrySutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden. Thn 2000 Pak Harto membuat pondasi sbg landasan kuat dlm pembanguna tinggal landas utk take off menuju ADIL & MAKMUR. Thn 2002 Pak Harto berencana utk mengundurkan diri & dilanjutkan oleh wakilnya Try Sutrisno sbg presiden.

 

16). AS semakin gencar melakukan konspirasi,sadar ataupun tdk sadar byk unsur masyarakat yg sdh masuk dalam TIPU DAYA & skenario AS.

NOTTE:

a].Byk mahasiswa, rakyat yg merasa idealis & menuntut lengsernya Soeharto. Namun sesungguhnya mrk tidak sadar bhwa ini semua adalah skenario AS utk menurunkan Soeharto.

b].Bberapa Tokoh Boneka Politik bentukan AS, yaitu 4 org yg dikenal dgn sebutan “SMAG”

c].Terjadinya KERUSUHAN MEI,yg dikoordinir oleh seorang tokoh pemuda atas cetakan SMAG.

 

17). Soeharto lengser & BJ Habibie menjabat sbg presiden RI.

 

18). Smua IDR pada akhirnya smp di Indonesia, Pak Harto memerintahkan 49org JENDERAL (7org Jenderal Bintang-4 & 42org Jenderal Bintang-2) utk mengamankan gudang2 IDR yg masih bersatus atas nama Amanah.

 

19). BJ Habibie dipolitisir oleh AS utk realisasi Referendum di TimTim, dng janji apabila terlaksana dng ‘JUJUR & ADIL’ maka Habibie akan didukung utk menjabat sbg Presiden RI utk selanjutnya.

NOTTE:

Hasil jajak pendapat diMANIPULASI (yg dihitung di Gd.Putih-AS,tdk dihitung di lapangan) & berujung pada lepasnya TimorTimur dr NKRI. Itulah jatuhnya Habibie dampak tertipu politik praktis. Karena Habibie sejatinya bukan org misi AS, melainkan Habibie adalah Jerman-isme.

 

20). Boleh dikata,semenjak itu PEMERINTAHAN hanya menjadi boneka AS & tdk mampu utk lepas dr cengkraman AS.

 

21). ..PENTING..

a]. Ariflah dlm menyikapi tulisan ini. Bangsa Indonesia sngat beruntung telah memiliki 2 org PUTRA TERBAIKNYA yaitu SOEKARNO & SOEHARTO.

b]. Rapatkan barisan,jgn mudah teradu domba oleh KONSPIRASI AS & sekutunya. Tumbuhkan jiwa PATRIOTIK kita,karena bisa jadi..melalui KONSPIRASI AS, lahan perang AFGHANISTAN & IRAK dapat terjadi di TanahAir yg qta Cintai ini..

c]. Atas Cronologis Harta SOEKARNO tsb. Pd Prinsipnya KITA, para PEMEGANG AMANAH & penerima PELIMPAHAN COLETERAL, perlu utk Menyadari Bahwa Pelaksanaan HIBAH ASET RAJA NUSANTARA, Kpd Pribadi Bung Karno adalah “CACAD HUKUM”

e]. Brg_Amanh BK’ Bkn urusan Qt,melainkan Urusan KARUHUN, dan itu semua hanya Panggung Sandiwara.

 

22) TAMBAHAN

Bagi pembaca yg mengetahui sebagian atapun keseluruhan dr fakta ini (Keluarga Pemegang DANA KOLETERAL, penerima AMANAH, Jenderal PENJAGA gudang IDR, ahli waris RAJA NUSANTARA, staf perbankan, dsb) silahkan beri komentar atau masukan.

SALAM INDONESIA..!!

Menafsir ulang makna intelijen

Mendengar kata ‘intelijen’, pertama kali yang tergambar dan terlintas dalam benak kebanyakan orang, hampir bisa dipastikan adalah sesuatu yang berhubungan dengan mata-mata atau spionase, militer, keamanan dan stereotip lainnya. Padahal intelijen tidak hanya urusan spionase, militer, dan keamanan. Memang kegiatan mata-mata merupakan salah satu bagian dari aktifitas intelijen. Sangat tidak utuh dan terlalu naif kalau kita melihat intelijen hanya sekedar urusan mata-mata atau nginteli (dalam bahasa Jawa red).

Distorsi pemaknaan terhadap intelijen di masyarakat kita, terutama bagi mereka yang pernah mempunyai pengalaman kurang baik (korban) akibat ekses dari kegiatan intelijen dimasa lalu (lebih khusus di era Orde Baru) dapat dimaklumi. Mereka mungkin pernah mengalami trauma akibat tindakan represif aparat dilapangan. Selain urusan mata-mata, asumsi umum juga mengatakan, intelijen tidak lebih hanya sebagai alat penguasa untuk mengawasi dan mematai-matai kelompok-kelompok kritis, seperti mahasiswa, LSM, aktifis partai, organisasi buruh dan belakangan kelompok keagamaan yang dicurigai sebagai kelompok teroris.

Hal ini berbeda dengan persepsi masyarakat di berbagai negara lain. Seperti Amerika Serikat, China, Singapura, Israel, Inggris dan negara-negara di Eropa lainnya. Bahkan kurikulum pelajaran anak Sekolah Dasar di Singapura, 25 persennya intelijen minded. Di AS, banyak dijumpai film dengan latar belakang lika-liku kehidupan seorang agen intelijen, di Inggris ada James Bond, di China ada ahli strategi perang legendaris Sun Tzu yang banyak mengilhami doktrin-doktrin intelijen. Pendeknya, di negara-negara maju dan kuat, intelijen tidak dipandang sebelah mata. Intelijen merupakan faktor penting untuk membangun negara bangsa agar kuat dan mampu berkompetisi serta eksis ditengah persaingan global.

Tidak heran bila ada ungkapan; kuat dan tidaknya negara tergantung pada dari kuat dan tidaknya institusi intelijen yang dimiliki oleh negara tersebut. AS mempunyai Central Intelligence Agency (CIA) yang kegiatan intelijennya hampir 90 persen diluar negeri. Itu berarti, sasaran attacking intelligence CIA adalah negara kompetitor dan penggalangannya dilakukan ke berbagai negara dibelahan dunia demi kepentingan nasional AS. Isarael mempunyai Mossad yang diakui kehebatannya oleh dunia. Bayangkan, negara kecil yang hidup dikelilingi oleh musuh-musuhnya (negara-negara Arab) bisa eksis sampai sekarang. Lalu bagaiamana dengan intelijen kita?

Perlu Penafsiran Ulang

Persepsi yang kurang tepat terhadap istilah intelijen saya kira perlu diluruskan, agar intelijen ditempatkan pada kerangka pemahaman yang sesuai dengan proporsinya. Sehingga ketika mendengar kata intelijen, tidak lagi dipandang secara sinis dan negative thinking. Pemahaman yang benar atas makna intelijen sangat penting dalam rangka membangun iklim yang kondusif dan sinergis antara masyarakat dan komunitas intelijen negara. Sebab intelijen itu hanya untuk mengabdi kepada negara yang berkewajiban untuk menSejatinya, intelligence attacking hanya ditujukan kepada pihak lawan, musuh dan kompetitor yang dipandang berpotensi dan dapat mengancam keselamatan serta kepentingan nasional negara. Rakyat, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya bukanlah musuh negara, namun sebaliknya warga negara yang harus dilindungi hak-haknya.

Lalu makhluk apa sebenarnya intelijen itu? Dari segi bahasa, kata intelijen berasal dari bahasa Inggris yaitu intelligence yang artinya kecerdasan. Jadi intelijen sebenarnya lebih dekat dengan wilayah kecerdasan, pikiran atau otak, bukan hanya mengandalkan kekuatan otot semata. Jadi kalau kita mendengar kata-kata perang intelijen, berarti yang dimaksud tidak jauh dari sekitar perang urat syaraf, perang pikiran, perang psikologis dan perang secara tidak kelihatan atau perang yang tidak nampak (silent warfare). Kesemua jenis perang tersebut, tidak mengandalkan pada perang fisik dengan melakukan penggelaran militer, namun kesemuanya menggandalkan taktik dan strategi pikiran yang membutuhkan kecerdasan (meski perang militer juga menggunakan taktik dan strategi).

Jadi, intelijen bisa didefinisikan sebagai kegiatan mengumpulkan informasi, data, fakta, dan bahan keterangan baik secara terbuka maupun tertutup (namun kebanyakan dengan cara tertutup atau rahasia). Setelah informasi tersebut diperoleh, kemudian dianalisa, dievaluasi dan difafsirkan untuk disajikan kepada end user atau pengambil kebijakan sebagai pihak pengguna jasa intelijen. Informasi yang sudah dianalisa disebut merupakan produk intelijen, yang berupa prediksi atau prakiraan terhadap situasi dan kondisi yang akan terjadi dimasa datang dalam jangka pendek dan menengah. Selain prediksi, produk intelijen juga berisi saran tentang problem solving atas suatu persoalan.

Dari sinilah analisa intelijen itu sangat penting sekali. Seorang analis intelijen harus benar-benar menguasai persoalan dan mempunyai kapasitas intelektual yang multidisplin agar menghasilkan produk intelijen yang baik. Produk intelijen yang dihasilkan pada dasarnya adalah peringatan dini terhadap ancaman (early warning system) sebagai langkah untuk menghindari apa yang disebut pendadakan strategis (strategic surprise). Muatan dari produk intelijen yang kedua adalah bagaimana memenangkan sebuah persaingan, hal ini banyak dipergunakan dalam intelijen bisnis atau competitive intelligence.

Membumikan Intelijen Minded

Makna filosofis yang dapat ambil dari definisi intelijen secara proporsional dan tepat adalah adanya cara pandang dan cara berfikir yang berwujud dalam sebuah tindakan yang berlandaskan pada nalar intelijen yaitu antisipatif dan prediktif dan pola laku intelijen yaitu cepat dan tepat (velox et exactus). Disaat kita mampu memprediksi suatu keadaan yang akan terjadi dimasa datang dengan berbagai data, fakta dan informasi yang kita peroleh, maka kita harus melakukan antisipasi. Perkiraan terhadap kondisi dimasa datang akan sangat tergantung sejauhmana kita mampu memahami dan mengetahui pada masa lalu dan masa kini. Sedang pola laku yang cepat dan tepat, harus melekat dalam diri insan intelijen karena ia sangat berhubungan dengan masalah informasi. Disinilah saya kira pentingnya membumikan intelligence minded dalam masyarakat kita yang bertumpu pada peringatan dini, penyelematan dan memenangkan persaingan.

Mengapa intelligence minded perlu dibumikan dalam masyarakat kita. Pertama; karena bicara intelijen tidak hanya urusan mata-mata saja (spy), tetapi lebih dari sekedar itu. Yakni, keberadaan intelijen karena dibutuhkan untuk mensupport pengambil kebijakan yang berdampak pada kepentingan publik. Kedua; seiring perkembangan zaman, para pengguna jasa intelijen tidak hanya sebatas negara saja (state intelligence), tetapi berbagai perusahaan swasta dan organisasi lainnya. Ketiga; intelijen merupakan sebuah ilmu pengetahuan. Memasuki abad 21 ini, intelijen dimasukkan dalam disiplin ilmu tersendiri, setelah sebelumnya hanya dilihat sebagai proses dan kegiatan didalam dunia yang gelap, tertutup dan serba rahasia. Sebagai ilmu pengetahuan, intelijen secara spesifik meneliti pada empat variabel pokok yaitu; organisasi intelijen, tingkah laku agen atau aktor intelijen, kegiatan intelijen dan produk intelijen. Namun belakangan, sesuatu yang terkait dengan ancaman dan penyelematan sebuah perusahaan atau koorporasi dan organisasi swasta lainnya dapat dimasukkan dalam penelitian intelijen.

Keempat; kondisi bangsa dan masyarakat kita yang akhir-akhir ini mudah untuk diadu domba, lemah secara ekonomi dan politik, susah berasatu, saling menyalahkan, miskin nasionalisme, mudah mengadopsi ide-ide dari luar, kehilangan jati diri dan masih banyak lagi yang berhubungan dengan mental dan karakter masyarakat kita, terutama elit penguasa pengambil kebijakan yang tidak juga membuat tanda-tanda bangsa kita akan menjadi bangsa kuat, maju, memenangkan persaingan, melindungi segenap tumpah darahnya. Disinilah pentingnya membumikan intelijen minded dalam masyarakat kita, terutama pada level akar rumput. Sebab siapa tahu, saat ini para elit penguasa kita, kelompok menengah kita, intelektual kita, pengusaha kita dan bahkan aparat kita sendiri telah menjadi agen dari kepentingan bangsa dan negara lain. Kenapa Malaysia, Singapura, Australia, dan tentu AS berani semena-mena dan meremehkan kita, dan mengapa pula bangsa kita selalu rebut di dalam ibarat katak dalam tempurung?

anjing menggonggong curiga ?

anjing tidak menggonggong juga curiga ?

wallahu alam…..

JOYOBOYO’S VISION

KITAB JOYOBOYO & RONGGO WARSITO – BABAD TANAH JAWA

Bangsa ini telah meninggalkan sejarah. Apa yang dikatakan Bung
Karno : “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah)” telah
terabaikan. Padahal yang terjadi saat ini merupakan hasil dari
perjalanan sejarah. Dan apa yang terjadi saat ini telah
diprediksikan oleh para leluhur kita Prabu Jayabaya dan R.Ng.
Ronggowarsito, yang mana hasil karya mereka merupakan ayat-ayat
Allah. Perlu kiranya saya sampaikan cuplikan terjemahan bebas dari
karya mereka :

A. Prabu Jayabaya (Kitab Musarar) :

18. Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi kemudian berganti gajah
meta semune tengu lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga
tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya
rakyat adalah.
Keterangan :
Lung Gadung Rara Nglikasi : Raja yang penuh inisiatif dalam segala
hal, namun memiliki kelemahan suka wanita (Soekarno). Gajah Meta
Semune Tengu Lelaki : Raja yang disegani/ditakuti, namun nista
(Soeharto).
19. Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah
sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkhasiat, pemerintah
rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat
ditolak.
20. Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri
sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka.
Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram.
Keterangan :
- Bupati berdiri sendiri-sendiri : Otonomi Daerah.
- Jaman Kutila : Reformasi
- Raja Kara Murka : Raja-raja yang saling balas dendam.
- Panji Loro semune Pajang Mataram : Dua kekuatan dalam satu kubu
yang saling ingin menjatuhkan (Gus Dur – Megawati ).
21. Nakhoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya.
Sarjana tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan
diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu,
randa loro nututi pijer tetukar.
Keterangan :
- Nakhoda : Orang asing.
- Sarjana : Orang arif dan bijak.
- Rara Ngangsu, Randa Loro Nututi Pijer Atetukar : Ratu yang selalu
diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya
(Megawati).
22. Tan kober apepaes, sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang
yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang
Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.
Keterangan :
Tan Kober Apepaes Tan Tinolih Sinjang Kemben : Raja yang tidak
sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan
(SBY/Kalla).
23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak
membuat kenyang. Hasilnya berkurang. Orang jahat makin menjadi-jadi,
orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan
negara.
24. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-
ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat
dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan
Tuhan dan orang tua.
25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang
seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada
tanda negara pecah.
26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa
dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian
raja Kara Murka Kutila musnah.
27. Kemudian kelak akan datang Tunjung Putih semune Pudak
kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar
Raja Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam
persidangan.
Keterangan :
- Tunjung Putih semune Pudak Kesungsang : Raja berhati putih namun
masih tersembunyi (Satriya Piningit).
- Lahir di bumi Mekah : Orang Islam yang sangat bertauhid.
28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah
Jawa. Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran.
Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
Keterangan :
- Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa : Orang Islam yang sangat
menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa.
29. Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya
diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan
raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.

B. R.Ng. Ronggowarsito :

Dipaparkan ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh
yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas
wilayah “bekas” kerajaan Majapahit , yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo
Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput
Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong
Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan
Wahyu.

Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba
menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :

1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan
penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu
keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat
tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini
ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama
Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin
Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.

2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin yang
berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan
mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga
selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung
Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto,
Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang
ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang
diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau
transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang
dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga
Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.

4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara /
keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang
mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa
Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman
Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-
2000.

5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa
kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang
dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden
Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.

6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah
tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka
gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro).
Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini
adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini
dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan
Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis
sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi
seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai
terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan
mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana
alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus
terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.

7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat
Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan
(Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum /
petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya
kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman
keemasan yang sejati.

3. Dari kajian karya-karya leluhur kita di atas menyiratkan bahwa
segala sesuatunya memang harus dan akan terjadi dan tidak dapat
ditolak. Sementara berkaitan dengan bencana terakhir yang terjadi,
yaitu meletusnya Gunung Merapi yang kemudian disusul dengan Gempa
Yogya dan Pangandaran, serta Semburan Lumpur Panas Sidoarjo yang tak
kunjung berhenti merupakan realita ucapan “Sabda Palon” kepada Prabu
Brawijaya dan Sunan Kalijaga.

Berikut ini saya paparkan Ramalan Sabdo Palon :

1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad
tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan
pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang
bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda-
Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih
baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang
Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa.
Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa.
Sudah digaris kita harus berpisah.

4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang
Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan
mengganti agama Budha (maksudnya Kawruh Budi) lagi, saya sebar
seluruh tanah Jawa.

5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi
makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila
belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya
kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan
laharnya.

6. Lahar tersebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah
pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda
(Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi
takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila
diubah lagi.

7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun:
Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah
datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya
menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah
kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada
ditangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini
ada yang membuatnya.

9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang
bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah
hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya
tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak
yang hilang di hutan.

10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang.
Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab
orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis
banyak maling tapi siang hari banyak begal.

11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan.
Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan
keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya
musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah
Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati.
Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-
pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat
persis lautan pasang.

13. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan
kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai
terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh
suaranya.

14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan
serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak
yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur
lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia.
Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke
dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang
sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh.
Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang
sebentar tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alamnya. Prabu
Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara.
Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala
itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Keterangan :
Tanggal 13 Mei 2006 lalu bertepatan dengan hari Waisyak (Budha) dan
hari Kuningan (Hindu), Gunung Merapi telah mengeluarkan laharnya ke
arah Barat Daya (serta merta pada waktu itu ditetapkan status Merapi
dari “Siaga” menjadi “Awas”). Dari uraian Ramalan Sabdo Palon di
atas, maka dengan keluarnya lahar Merapi ke arah Barat Daya
menandakan bahwa Sabdo Palon sudah datang kembali. 500 tahun setelah
berakhirnya Majapahit (Th 1500 an) adalah sekarang ini di tahun 2000
an.

4. Sampai dengan redanya, letusan Merapi hanya memakan korban 2
orang meninggal. Sebelum letusan itu Sri Sultan Hamengkubuwono X
menyatakan bahwa Merapi akan meletus dalam waktu 10 hari, ternyata
tidak terbukti. Karena ucapan yang mendahului kehendak Allah
(ndisiki kerso) yang tidak sepatutnya dilontarkan secara vulgar oleh
seorang “raja”, maka Jogja pun digoyang gempa (disusul Pangandaran)
yang banyak memakan korban jiwa dan harta benda. Bahkan kita semua
tidak tersadar bahwa Merapi sebenarnya tetap meletus, namun
berpindah tempat di Sidoarjo dengan semburan lumpur panasnya yang
beracun. Semburan lumpur panas ini merupakan peristiwa yang sangat
luar biasa yang dampaknya akan banyak menyedot dana dan memakan
korban jiwa. Secara penglihatan spiritual, teknologi apapun dan
kesaktian paranormal/ulama se-nusantarapun tidak akan mampu
menghentikan semburan lumpur ini. Bahkan peristiwa ini akan
berpotensi memicu terjadinya chaos (goro-goro) yang pada gilirannya
akan dapat menjatuhkan pemerintah. Sementara bencana-bencana ini
akan terus berlanjut. Hanya seorang Waliyullah (kekasih Allah) saja
yang dapat meredakan semuanya. Namun sayang, orang seperti ini
selalu saja sangat tersembunyi.

5. Semua peristiwa alam yang terjadi adalah merupakan peristiwa
gaib, karena semua terjadi karena kehendak Yang Maha Gaib, Allah Aza
wa Jalla. Sehingga tidak dapat dilawan dengan kesombongan akal
pikiran. Solusi atau jawaban tentang apa yang terjadi pada bangsa
ini sebenarnya telah ada di dalam misteri bait-bait Ramalan
Joyoboyo, R.Ng. Ronggowarsito maupun Sabdo Palon. Kebenaran selalu
saja tersembunyi. Kata sandi dari jawaban misteri ini adalah :
JOGLOSEMAR. Joglo telah runtuh, yang ada tinggal Semar. Inilah
hakekat kondisi negara saat ini.
Sebagai panduan perlu saya garis bawahi kata kunci yang ada di dalam
bait-bait karya leluhur kita, yaitu :

1. Di dalam ramalan R.Ng. Ronggowarsito menyiratkan bahwa Satria VI
(Satriyo Boyong Pambukaning Gapura) harus menemukan dan bersinergi
dengan seorang spiritualis sejati satria piningit (tersembunyi) agar
kepemimpinannya selamat.

2. Dalam bait 22 ramalan Joyoboyo dikatakan “Di Semarang Tembayat
itulah yang mengerti dan memahami lambang tersebut.”

3. Dari ucapan Sabdo Palon dalam ramalan Sabdo Palon tersirat bahwa
dengan fenomena alam yang digambarkan (seperti yang terjadi saat
ini) menandakan bahwa Sabdo Palon beserta momongan (asuhan) nya
telah datang untuk mem-Budi Pekertikan bangsa ini (secara rinci
terdapat di dalam Serat Darmogandul). Sabdo Palon secara hakekat
adalah Semar.

4. JOGLOSEMAR = Jogja – Solo – Semarang. Dari peristiwa gempa Jogja
telah membuktikan bahwa kerajaan Mataram Jogja & Solo sudah tidak
memiliki aura lagi. Hal ini terbukti dengan hancurnya Bangsal Traju
Mas (tempat penyimpanan pusaka kerajaan) dan Tamansari (tempat
pertemuan raja dengan Kanjeng Ratu Kidul). Hal lain adalah robohnya
gapura makam HB IX (Jogja) dan PB XII (Solo) di kompleks makam raja-
raja Imogiri, sebagai perlambang bahwa Keraton Jogja – Solo sudah
tidak memiliki aura dan kharisma. Sehingga yang tersisa
tinggallah “Semarang” (Mataram Kendal).

6. Sebagai masukan kepada Yang Mulia Presiden SBY guna mengatasi
carut marut yang terjadi pada bangsa ini, saya menyarankan :
“Kumpulkan ahli-ahli Thoriqoh negeri ini yaitu mursyid/syeh-syeh
yang telah mencapai maqom “Mukasyafah”,  serta
kasepuhan waskito dari Keraton Jogja & Solo, untuk bersama-sama
memohon petunjuk kepada Allah SWT mencari siapa sosok orang yang
mampu mengatasi keadaan ini dan mencari jawab dari misteri ramalan
para leluhur di atas. Gunakan 4 point panduan saya untuk memandu
mereka. Insya Allah, jika Allah Aza wa Jalla memberikan ijin dan
ridho-Nya akan diketemukan jawabannya.”

sejarah kilas pencak silat

Pencak silat tidak diragukan lagi merupakan salah satu budaya bangsa yang sangat berperan dalam sejarah perjuangan bangsa ini dari sejak jaman kolonialisme sampai jaman perang kemerdekaan. Awal mula Sejarah mencatatat bahwa manusia mengembangkan kemampuan beladiri untuk bertahan hidup, kemampuan beladiri ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Beberapa aliran kuno di nusantara memiliki hikayat dan metos bagaimana aliran itu di ciptakan yang sebagian besar nenek moyang kita belajar beladiri kepada binatang atau mengikuti tingkah polah binatang (seperti pada mitos silat cimande, silat bawean, silat melayu). Sebagian besar di lukiskan belajar pada tingkah binatang seperti monyet, macan, ular dan burung.

Beladiri pada perkembangannya digunakan pula sebagai alat untuk memperluas kekuasaan dan mempertahankan kedaulatan kelompok masyarakat yang pada akhirnya pemahaman dan penguasaan beladiri dan kesaktian menjadi sarat untuk menentukan posisi sosial dan politik di masyarakat kala itu. Demikian pula dengan kerajaan – kerajaan di nusantara dimana beladiri ini di ajarkan di lingkungan terbatas dan tidak di ajarkan secara bebas kepada masyarakat umum.

Tercatat kerajaan kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit kala itu memiliki bala tentara yang sangat cakap dalam berperang dan ahli dalam beladiri sehingga bisa memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas pada jamannya. Demikian pula dengan kerajaan Sunda Pajajaran yang tercatat pernah mengalami pertikaian dengan Majapahit pada kasus Puputan Bubat dimana tercatat dalam sejarah semua pengiring putri Pajajaran bertempur sampai darah penghabisan dengan menggunakan paling tidak 7 jurus silat yang di kuasai para pasukan Pajajaran kala pertempuran Bubat terjadi.

Pengajaran silat

Pencak silat mulai berkembang dan melembaga sebagai salah satu mata pelajaran pada masa itu hanya di ajarkan di lingkungan keraton dan lembaga mandala. Di keraton dan istana silat diajarkan pada lungkungan keluarga istana, penggawa sampai pasukan perang. Sedangakan di mandala, silat dan ilmu kebatinan di ajarkan para pendeta dan rohaniawan kala itu, rakyat jelata tidak bisa belajar beladiri begitu saja. Ada status social dan ada aturan yang membatasi penyebaran ilmu beladiri dan kanuragan pada masa itu.

Pada masa awal islam masuk ke bumi nusantara kebiasaan pengajaran beladiri di wiyatamanda ini dilanjutkan, dengan mengajarkan juga silat dan beladiri di lingkungan pesantren guna membantu penyebaran agama islam kala itu. Sehingga akhirnya rakyat bisa mendalami pencak silat ini dan peranan pesantren dan kerajaan islam kala itu sangat besar dalam membantu penyebaran silat di nusantara.

Kebiasaan ini melekat sampai sekarang, budaya solat dan silat masih di pegang teguh pada silat betawi dan Sumatra, kebiasaan berlatih silat di halaman surau setelah shalat isya sampai jam 24 malam menjadi hal yang biasa. Keterikatan antara guru dan murid disimbolkan dengan pengangkatan anak sasian pada silat minang, dimana murid di angkat sebagai anak dari guru. Istilah “lahir silat mencari kawan dan bathin silat mencari tuhan” menjadi sangat popular di tanah minang. Bahkan tinggal di surau dan bersilat sudah merupakan ‘Live Style‘ bagi para pemuda minang kala itu.

Masa kolonialisme

Silat mulai digunakan sebagai alat perjuangan ketika masa kolonialisme, dimulai dengan pengusiran pasukan Portugis dari Batavia oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahilah, tercatat puluhan ribu pasukan dari mataram, Cirebon dan sekitarnya bergerak guna menghalau pasukan Portugis dari Batavia.

Belum lagi perjuangan masyarakat Banten dalam mengusir Belanda yang menghasilkan kebudayaan Debus. Kebudayaan ini dulu di gunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri pasukan Banten dalam melawan pasukan Belanda. Pertempuran antara Banten dan Belanda ini berakhir setelah Belanda melakukan politik adu domba yang mengakibatkan ratanya istana kerajaan Banten.

Perjuangan melawan kolonialisme tidak luput dari penggunakaan silat sebagai alat untuk membela bangsa kala itu, tercatat pertempuran yang paling besar dalam sejarah kolonialisme belanda adalah perang Diponegoro yang menyebabkan kebangkrutan dari VOC.

Kyai Mojo yang merupakan guru sekaligus penaset spiritual Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda dan di buang ke daerah Tondano di Sulawesi utara. Di Tondano ini beliau tinggal di daerah Jaton (Jawa Tondano) beserta para pengikutnya yang kemudian mengajarkan pelajaran agama dan beladiri pada masyarakat sekitar yang sampe saat ini masih dilestarikan dan dikenal dengan Silat Tondano yang sampai sekarang masih di kembangkan dengan nama “Perguruan Satria Kyai Maja”.

Pada masa kolonialisme pengajaran silat di awasi dengan ketat karena di anggap membahayakan keberadaan penjajah kala itu, intelegen sangat memperhatikan siapa saja yang bisa silat dan mengajarkan silat kepada masyarakat dianggap membahayakan dan di jebloskan kepenjara. Ini sangat berpengaruh pada pola pengajaran pencak silat, sehingga pengajaran silat beladiri mulai sembunyi sembunyi dan biasanya di ajarkan dalam kelompok kecil dari rumah ke rumah pada malam hari.

Belanda juga memanfaatkan para jawara dan ahli silat yang mau bekerja sama dengan belanda untuk menjadi opas dan centeng guna menjaga kepentingan para meneer dan tuan tanah kala itu, sehingga tidak jarang terjadi pertikaian dan pertempuran antara para jawara silat ini dengan para pendekar pembela rakyat jelata. Kisah pitung menjadi satu legenda yang terkenal di masyarakat Betawi karena keberaniannya melawan para jawara dan kompeni guna membantu rakyat yang lemah.

Karena pengawasan sosial ini pulalah, maka mulailah di kembangkan silat seni dan ibingan, guna menutupi kesan silat sebagai beladiri, Atraksi ibingan silat ini sangat terkenal dan di tunggu tunggu oleh masyarakat. Orang bisa melihat atraksi silat di upacara perkawinan atau khitanan bahkan pasar malam tanpa di ganggu oleh pihak keamanan pada saat itu karena di anggap sebagai hiburan.

Disinilah mulai di kenal istilah silat kembagan (atau kembang) yang biasanya di tujukan pada silat ibingan dan silat buah yang di tujukan pada silat sebagai beladiri.

Kesadaran Nasionalisme

Dimulai dengan adanya kesadaran politik baru pada awal abad XX dan kebijaksanaan belanda yaitu Etische politiek, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat lewat berbagai program khususnya pendidikan, Peningkatan peranan desa dan di bentuknya polisi desa. Memilik pengaruh pada pola pengajaran silat pada masa itu, silat sudah mulai di ajarkan di sekolah sekolah dasar (desascholen), bahkan kalangan yang dekat dengan belanda seperti priyayi, amtenaren, KNIL bahkan marechausse pasukan khusus Belanda kala itu.

Berjalan dengan timbulnya rasa nasionalisme, maka timbul pula pertetangan di kalangan para pengajar pencak silat (perguruan) pada saat itu tentang siapakah yang berhak mempelajari silat ini. Bolehkah silat di ajarkan pada kaum bangsawan, amtenaren atau hanya untuk bumi putra? Kesadaran akan nasionalisme ini semakin menguat ketika pada tahun 1915 di buka kesempatan untuk mendirikan organisasi politik bagi kalangan bumi putra, pengajaran silat menjadi salah satu materi yang diajarkan di setiap organisasi ini. Seperti pada perkembangan awal Syarikat Islam di daerah Jawa yang diikuti oleh berdirinya persaudaraan Setya Hati oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo yang menyebabkan Belanda sangat mengawasi perkembangan perguruan ini karena memiliki pengikut dan murid yang banyak sekali. Ki Ngabehi Surodiwiryo ini melatih para murid MULO yang pada akhirnya banyak yang menjadi tokoh nasionalis.

Termasuk juga mantan Presiden Sukarno yang Tercatat pernah belajar silat kepada Ua Nampon di Bandung, ini menunjukkan betapa silat sangat berperan dalam meningkatkan rasa kepercayaan diri dan keberanian dalam membela kebenaran.

Masa Penjajaran Jepang

Pada masa penjajahan jepang mulanya menghawatirkan silat di gunakan untuk melawan jepang, namun ternyata tidak di semua tempat terjadi perlawanan terhadap Jepang (sang saudara tua). Akibatnya silat berkembang cukup baik di beberapa daerah bahkan pemerintah jepang yang pada saat itu selain membawa budaya beladirinya ke tanah air seperti karate, judo dan jujitsu. Mereka belajar silat dari para pendekar kita sehingga terjadi pertukaran budaya. Tentara PETA (pemuda pembela tanah air) di ajarkan beladiri Jepang guna berperang melawan Sekutu. Silat mengalami masa militerisasi karena menjadi bagian dari pendidikan militer. Pengajaran silat dilakukan kepada tentara Dai Nippon dan pasukan peta dengan disiplin militer yang sangat ketat.

Masa perjuangan kemerdekaan

Silat menjadi bagian yang tidak bisa di pisahkan dalam perang fisik melawan Sekutu dan Jepang, Sebagai salah satu contoh adalah hasil pendidikan PETA yang dienyam oleh I Gusti Ngurah Rai selama pendidikan di Jawa Barat yang kemudian di ajarkan secara sembunyi – sembunyi kepada pasukannya, pendidikan silat ini sangat berpengaruh dalam perjuangan bahkan pada bentuk silat khas Bali. Silat Bali sekarang banyak di pengaruhi oleh aliran silat dari Jawa Barat.

Pasukan Hisbullah yang di bentuk di pesantren Buntet Cirebon selain mendapatkan pelatihan yang berat selama Pendidikan PETA, para tokoh ulama dan jawara pergabung dalam pasukan ini guna melawan penjajahan Belanda. Pasukan Hisbullah yang di kenal dengan pasukan Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat ikut juga bertempur pada tanggal 10 November di Surabaya, dan berperan serta aktif ketika terjadi gencatan senjata dalam perjanjian Renville.

Penutup

Demikian sekilas tentang perkembangan silat dan kaitannya dalam perjuangan bangsa, masih banyak lagi peranan silat dalam membangkitkan semangat juang para pejuang dan pendekar dalam membela kemerdekaan bangsa ini semasa revolusi fisik dulu. Mudah mudahan tulisan ini membangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan pada budaya tanah air khususnya silat yang merupakan warisan luhur dari budaya bangsa kita.

Pejuang Negara Kepulauan

► SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1429 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin ► Selamat datang di situs gudang pengalaman  ► Thank you for visiting the experience site  ► TOKOHINDONESIA DOTCOM  ► Biografi Jurnalistik   ► The Excellent Biography  ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online  ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya “rumah pribadi” di Plasa Web Tokoh Indonesia?  ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►

Prof Dr Hasjim Djalal

Pejuang Negara Kepulauan

Prof Dr Hasjim Djalal sebagai seorang diplomat senior dan tokoh hukum laut internasional punya andil besar dalam proses mewujudkan pengakuan dunia atas Indonesia sebagai suatu negara kepulauan (archipelagic state). Pria kelahiran  Ampat Angkat, Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Februari 1934, itu berprofesi sebagai diplomat karier sejak masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi.

Penulis buku Indonesian Struggle for the Law of the Sea (1979) dan Indonesia and the Law of the Sea (1995) serta Preventive Diplomacy in Southeast Asia: Lesson Learned (2003), itu pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk PBB (1981-1983), Dubes di Kanada (1983-1985), dan Dubes di Jerman (1990-1993) serta Dubes Keliling hingga masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Sampai setelah dia pensiun, 1994, dia masih aktif menulis buku dan artikel di berbagai media serta berbicara di berbagai forum tentang masalah hukum laut internasional. Juga masih sibuk melayani kontak dari kolega-kolega internasionalnya. Pemikiran dan gagasannya tentang kelautan masih dibutuhkan bangsa ini, sehingga dia masih dipercaya duduk sebagai Anggota Dewan Martim Indonesia, Penasehat Senior Menteri Kelautan dan Perikanan, dan Penasehat Kepala Staf TNI Angkatan Laut serta di Kantor Menteri Percepatan Pembangunan Indonesia Timur.
Suami dari Ny Jurni Hasjim Djalal dan ayah dari tiga anak: Iwan Djalal, eksekutif perusahaan swasta; Dino Pati Djalal, Jubir Luar Negeri Presiden SBY, Direktur Urusan Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar Negeri RI; dan Dini Djalal, wartawan, tinggal di Amerika, itu juga di masa tuanya masih aktif sebagai anggota Komisi Konstitusi yang mengkaji amandemen UUD 45.

Dia tidak mau berdiam diri (mengangur). Sebagai pegawai negeri, pejabat eselon I dan II, memang diwajibkan pensiun pada usia 60 tahun. Tapi sebagai manusia, dia tidak mengenal masa pensiun. Sepanjang hayat masih dikandung badan, dia masih ingin aktif berkarya karena sudah merupakan bagian dari kebiasaan hidupnya. “Saya masih terus berpikir dan menulis. Kalau nggak kerja, rasanya sepi,” katanya.
Sepertinya dia tidak kenal lelah. Karena dia mengaku sangat menikmati kerja. Karena, baginya bekerja tidak sekadar bekerja karena pekerjaannya, tapi juga sekaligus bekerja karena hobi dan sudah menjadi bagian dari kebiasaannya.
Dengan prinsip kerja seperti itu, Hasjim Djalal di masa pensiunnya masih terlihat segar bugar. “Karena saya selalu mengemukakan pikiran saya, secara langsung maupun lewat tulisan. Saya suka ceramah, kuliah, menulis di koran, majalah, membuat paper untuk workshop dan seminar. Pokoknya apa saja. Keep you busy! Kita harus buat kehidupan ini berguna. Bahwa pensiun, ya pensiun. Tapi yang perlu diingat bahwa hidup ini belum berhenti,” kata Hasjim Djalal sebagaimana dikutip Harian Republika, Minggu, 09 Nopember 2003.
Sebagai manusia biasa, dia tentu juga perlu isterahat. “Tapi kadang kan orang bekerja dengan istirahat,” katanya memperkuat betapa dia sangat menikmati (hobi) pekerjaan yang digumulinya. Selain itu, untuk memelihara kebugaran, Hasjim Djalal aktif berolahraga golf, bukan untuk mengejar poin, melainkan menikmati jalan kakinya itu.

Dalam usia senja, visinya masih tetap jauh menatap masa depan. Dia gelisah atas tingkah-polah beberapa pemimpin saat ini yang tampaknya hanya berpikir jangka pendek, hanya memikirkan jabatan. Tidak seperti para pemimpin terdahulu, terutama para pendiri bangsa ini, yang berjuang untuk kepentingan bangsanya, kendati pun harus mati dan dibuang.

Maka dia melihat perlunya aktualisasi Deklarasi Djoeanda yang visioner itu jauh ke depan. Sebagaimana dituturkan kepada Wartawan Tokoh Indonesia Haposan Tampubolon, Saud Situmorang dan Wilson Edwart (fotografer), Kamis 13 Desember 2007:

“Makanya saya sedang mikir-mikir, pada tahun 1945 kita memproklamirkan kemerdekaan dengan wilayah nasional sebagaimana dimiliki Hindia Belanda 3 mil dari pantai, sehingga laut-laut itu bukan laut nasional kita. Tetapi Djoeanda menjadikannya menjadi laut nasional. Itu sangat visionaris.

Coba kita pikirkan. Setelah 50 tahun Deklarasi Djoeanda, ke mana bangsa kita mau pergi. Pada tahun 1957 penduduk Indonesia masih sekitar 80 juta jiwa, sekarang 240 juta jiwa. Untuk 50 tahun yang akan datang ke mana mau kita bawa lagi bangsa ini. Djoeanda dulu membawanya kepada Kesatuan Nusantara.

Nanti setelah kekayaan alamnya habis, demikian pula hutannya, ikannya, terumbu karangnya, pemikir-pemikir kita sudah harus mulai belajar dari Pak Djoeanda untuk memikirkan masa depan bangsa 50 tahun yang akan datang.”

Sang Diplomat Karir

Hasjim Djalal seorang diplomat karir. Dia memang sudah bercita-cita jadi diplomat sejak kecil. Ketika dia masih duduk di kelas 2 SMP (1948) dia sudah senang dan banyak membaca sejarah. Saat itu zaman perang kemerdekaan dan Belanda menduduki Bukittinggi. Dia sering membeli buku-buku kecil mengenai sejarah. Dia antara lain membaca kisah kehidupan Jose Rizal, Gandhi, cerita-cerita tentang sejarah Romawi, atau kisah Pangeran Diponegoro.

Dia senang membacanya terutama pada waktu-waktu senggang dan ketika pulang sekolah naik kereta api. Kebiasaan membaca itu terus menjadi hobi hingga dia dewasa. Bahkan sampai hari tuanya dia tidak pernah berhenti dari kebiasaan membaca. Baik dalam mobil perjalanan pergi-pulang ke kantor, ataupun dalam perjalanan jauh di pesawat, dia terus membaca.

Salah satu yang paling berkesan baginya dari bacaan sejarah itu adalah kisah zaman ketika orang berupaya melakukan perdamaian di Eropa sesudah Perang Dunia II pada awal abad ke-19. Kisah itu memantik berkeinginannya menjadi diplomat. Saat lulus dari SMA di Bukittinggi, tahun 1953, cita-citanya menjadi diplomat yang sudah tumbuh sejak SMP, menyala semakin kuat.

Dia berbahagia, karena kedua orang tuanya, H Djamaludin dan Ny Salamah, yang walau warga dusun, memberi dukungan penuh. besar. Maka selepas SMA, Hasjim pun berangkat ke Jakarta untuk sekolah di Akademi Dinas Luar Negeri. Oleh karena kondisi ekonomi kala itu, orangtuanya membekalinya dengan uang sangat pasan-pasan. Beruntung dia pun dibekali sebuah sepeda pemberian Paman Marah Sutan Maraju, sehingga mobilitasnya terbantu.

Setamat dari Akademi Dinas Luar Negeri, Hasjim mulai meniti karir di Depatemen Luar Negeri RI, 1 Januari 1957 (pensiun sebagai pegawai negeri pada 1994). Pertama kali dia ditugaskan ke luar Jakarta (luar negeri) adalah ke Irian (Kala itu Irian memang sudah wilayah RI, tapi tengah dikuasasi Belanda dan sedang berlangsung diplomasi untuk dikembalikan kepada Indonesia, dan kesepakatan tercapai tahun 1962).

Hasjim ditempatkan di perwakilan pemerintah pada UNTEA (United Nations Temporary Executive Administration) di Irian, sebuah badan PBB yang punya misi mempersiapkan peralihan pemerintahan di Irian dari Belanda ke PBB lalu ke Indonesia. Hasjim bertugas sebagai legal advisor. Namun, lama-lama tanpa disengaja dia jadi interpreter untuk Administrator PBB, Djalal Abduh, asal Iran.

Dia menyertai Administrator PBB itu keliling-keliling di Irian. Karena Administrator PBB itu tidak bisa berbahasa Indonesia, maka Kepala Perwakilan Indonesia di UNTEA, Soedjarwo Tjondronegoro (almarhum), menugasi Hasjim jadi penerjemah. Dia pun menjalankan tugasnya dengan baik.

Setelah bertugas di Irian dia kembali ke Jakarta, bertugas di basisnya, Direktorat Hukum Deplu, sekarang namanya Direktorat Perjanjian Internasional. Setelah itu, dia ditempatkan ke Beograd, Yugoslavia (1964), masa kepemimpinan (komunis) Josip Broz Tito (sahabat Bung Karno).
Hasjim punya pengalaman menarik dengan Tito. Sebagai pegawai kedutaan dia merasa bangga pernah ngobrol-ngobrol lama dengan Tito dia atas kapal. Kejadiannya tidak disengaja. Kala itu, Hasjim pulang dari sekolah di Amerika, akhir 1960, dengan naik kapal dari New York ke Jakarta. Kapal itu mampir-mampir di beberapa tempat, termasuk Eropa, sehingga seluruhnya memakan waktu 35 hari.

Di tengah perjalanan dari New York sampai ke Eropa, selama satu minggu, Hasjim satu kapal dengan Tito, yang sama-sama suka main di geladak. Sebagai seorang anak muda, pulang sekolah, orang Indonesia yang friendly terhadap Yugoslavia, Hasjim mula-mula berbicara akrab dengan para security officer yang menjaga di sekeliling Tito. Sehingga lama-lama para security officer itu tidak keberatan Hasjim berdiri dekat Tito dan akhirnya ngobrol di geladak kapal itu.

Memang, hanya obrolan ringan. Hasjim mengaku lebih banyak mendengar dan banyak belajar. Tito yang bersahabat dengan Bung Karno bicara mengenai Indonesia, bicara juga mengenai Yugoslavia. Bicara juga soal Presiden Soekarno yang baru saja (menghadiri) persiapan Konferensi Boegrad tahun 1961 mengenai Non Blok dan soal Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.

Dalam pandangan Hasjim, pemimpin Yugoslavia itu seorang pribadi yang senang bergaul, orangtua yang human, dan pejuang bagi bangsa dan negerinya. Tito juga punya pandangan-pandangan tajam terhadap Non Blok. Namun waktu itu, kata Hasjim, kemampuannya untuk memahami pembicaraan Tito, belum terlalu banyak.

Hasjim pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk PBB (1981-1983), Dubes di Kanada (1983-1985), dan Dubes di Jerman (1990-1993) serta Dubes Keliling hingga masa pemerintahan Presiden BJ Habibie. Saya pernah jadi Duta Besar Keliling selama enam tahun pada zaman Presiden Soeharto dan Habibie.

Selama bertugas di luar negeri, Hasjim memanfaatkan sebagian waktunya untuk sekolah. Hanya enam bulan setelah jadi pegawai negeri, dia pergi ke Amerika untuk sekolah S-2 dan S-3 selama empat tahun di University of Virginia. Tahun 1961 dia sudah selesai S-3 dengan disertasi mengenai kelautan: The Limit and Territorial Sea in International Law.
Sejak itu, Hasjim makin gigih memperjuangkan hukum laut. Sebuah fokus perjuangan diplomasi yang paling berkesan baginya. Dia tertarik masalah kelautan karena waktu mulai belajar di Amerika pada 1957, dia melihat Indonesia banyak sekali menghadapi persoalan yang merongrong kesatuan bangsa. Di Sumatera Barat, kampungnya sendiri, dan Sulawesi Utara ada pemberontakan PRRI/Permesta. Ada juga masalah Darul Islam yang waktu itu belum selesai, dan perjuangan Irian Barat belum selesai-selesai.

Indonesia pernah menganut sistem parlementer dan konstituante sesudah Pemilu 1955. Tapi tidak berjalan baik. Sistem partai politik yang dicoba waktu itu, kurang membawa kestabilan. Lantas, Hasjim berpikir, how do you create national unity? Apa penyebab semua ini?

Hasjim berpikir, barangkali bangsa kita tidak memahami fungsi laut sebagai pemersatu bangsa. Bukankah negara kita sebuah negeri kepulauan. Indonesia berbeda dengan India, Rusia, Cina, Jerman, atau Amerika, yang negerinya kontinental. Bagi mereka fungsi laut lebih pada fungsi ekonomis.
Sementara, bagi Indonesia, di samping fungsi ekonomis, berfungsi juga sebagai pemersatu bangsa. Tapi ironisnya, selama ratusan hingga ribuan tahun sejarah kepulauan Indonesia, laut malah menjadi berfungsi sebagai pemecah bangsa.

Sebab itu, Hasjim ingin mengembangkan satu attitude bahwa laut itu jangan menjadi pemisah, tapi menjadi pemersatu antarpulau Indonesia. Dia memberi contoh, Selat Sunda jangan jadi pemisah antara Jawa dan Sumatera, tapi justru sebagai penghubung dan pemersatu antara Jawa dan Sumatera.

Bahkan sampai saat itu, fungsi ekonomi laut pun tidak ada artinya bagi Indonesia. Nelayan-nelayan tradisional di sepanjang pantai hanya bisa menangkapi ikan teri. Tapi laut lepas atau laut bebas, tidak dimanfaatkan. Kala itu, yang menangkapi ikan tuna di Laut Banda, orang Jepang. Alasannya, itu laut bebas. Kita tidak bisa melarang.

Lalu pada 13 Desember 1957, Perdana Menteri Ir Djoeanda mendeklarasikan bahwa laut antarpulau Indonesia adalah wilayah Indonesia. Deklarasi ini mendapat tantangan dari seluruh dunia, terutama Amerika, Jepang dan Australia. Tindakan Indonesia dianggap ”merampok” laut. Tapi pemerintah bersikukuh bahwa itu merupakan hal yang sangat vital bagi kesatuan dan masa depan bangsa.

Dari kasus itulah, Hasjim menulis disertasi tentang kelautan. Dialah orang Indonesia pertama menulis disertasi tentang kelautan. (Pada waktu Hasjim pulang meraih gelar S-3, Mochtar Kusumaatmadja, yang tengah mengajar di Universitas Padjadjaran Bandung, juga sedang mempersiapkan  disertasi tentang hukum laut. Sejak saat itu, Hasjim mempunyai hubungan cukup erat dengan Mochtar yang kemudian hari menjadi Menlu).

Sehingga kala itu disertasi Hasjim mendapat perhatian dari kelompok-kelompok tertentu, terutama TNI Angkatan Laut. Maka sepulang dari Amerika, Kepala Staf TNI AL, Laksamana Martadinata langsung meminta disertasi Hasjim tersebut. Hasjim pun dilibatkan aktif menjadi sekretaris Panitia Hukum Dewan Maritim yang diketuai KSAL Laksamana Martadinata.

Banyak pihak yang memandang disertasi Hasjim agak aneh. Tetapi pihak University of Virginia sendiri yang menganut intelectual liberty, menganggapnya sebagai karya ilmiah yang sepatutnya dihargai. Sementara beberapa pihak menganggapnya aneh. Merasa aneh ada negara nusantara, negara kepulauan.

Sementara, pada 1948, sudah ada orang Norwegia, Jens Evensen, yang menulis bahwa gugus pulau itu bisa dianggap sebagai satu unit. Hal ini oleh Hasjim dan Mochtar dijadikan salah satu acuan disertasi. Jens Evensen merinci gugus pulau itu dalam ukuran kecil-kecil (seperti Pulau Seribu). Teori itu berkembang, lalu dalam konvensi tahun 1958 dikatakan bahwa gugus pulau sepanjang pantai juga bisa dianggap menyatu dengan pantai unitnya itu.
Walaupun teori Jens Evensen, tidak cocok bila digunakan untuk Indonesia yang pulaunya besar-besar. Gugusan pulau yang bertebaran seperti di Indonesia dengan jarak ribuan mil, susah bagi orang mencari teori bagaimana menyatukannya.

Tapi Hasjim dan Mochtar mengembangkan teori bahwa satu negara yang terdiri atas kepulauan, dianggap satu, dan menyatukan seluruh perairan di dalamnya sebagai wilayah nasionalnya.
Perjuangan atas teori dan gagasan itu ditempuh melalui jalan panjang dan berliku. Hasjim dan Mochtar menghadiri berbagai konferensi internasional untuk mengetes sikap berdasarkan teori itu. Hasjim sendiri hadir dalam pertemuan di Kairo tahun 1964. Namun kala itu tak ada reaksi dan dipandang tidak ada urgensinya untuk dibahas.
Kemudian setelah ada persiapan ke arah Konferensi ke-3 PBB, yang dimulai tahun 1967, dan Indonesia menjadi anggota PBB pada 1969, Hasjim ditugaskan pemerintah menjadi peninjau. Kala itu sudah ada yang mulai tergerak perihal pandangan negara kepulauan itu.

Lalu pada pertemuan Badan Hukum Asia Afrika di Colombo,  1971, sudah tertarik untuk membahas. Dalam kesempatan ini, Hasjim mengemukakan teori itu dan mulai mendapat simpati, meskipun lebih karena solidaritas sesama Asia-Afrika.

Dengan perjuangan diplomasi panjang bertahun-tahun dan manfaatkan solidaritas sesama negara Asia-Afrika, akhirnya Indonesia mendapat dukungan dunia internasional. Pada 1972 Indonesia pun rumuskan prinsip-prinsip pokoknya.
Ketika Konferensi PBB 1973, Hasjim aktif menggalang negara-negara tetangga dan negara-negara yang kira-kira sama dengan Indonesia merupakan negara-negara kepulauan, seperti Filipina, Fiji, dan Mauritius. Juga organisasi dunia lainnya didekati. Konferensi Asia Afrika, tiap tahun didukung. Organisasi negara-negara Afrika, juga digarap. Hasjim beberapa kali menghadiri pertemuan di bidang kelautan di berbagai belahan dunia. Akhirnya mereka banyak mendukung teori (gagasan) negara kepulauan. Termasuk pada 1974, koferensi di Caracas yang berlangsung delapan tahun.

Sementara Amerika, Inggris, Jepang dan Australia, sebagai negara-negara maritim internasional, yang punya perkapalan, angkatan laut, dan punya apa-apa di seluruh dunia, berupaya keras menentang. Mereka antara lain kuatir bahwa wawasan nusantara itu akan merintangi dan menghalangi mobilitas angkatan laut mereka dari satu samudera ke samudera lain.

Namun karena keuletan para diplomat Indonesia, di antaranya Hasjim Djalal dan Mochtar Kusumaatmadja, gagasan wawasan nusantara itu akhirnya bisa diterima dunia. Hasjim sendiri sampai lupa berapa kali dia bernegosiasi dengan Amerika, Jepang, dan Rusia, saking seringnya. Dalam setiap pertemuan itu, Hasjim menjelaskan dan menegaskan sikap bahwa negara kepualauan itu mutlak bagi Indonesia.

Ketika Presiden Soeharto ke Tokyo (Jepang), Hasjim ditugaskan ke sana antara tahun 1974-1975. Salah satu tugas utamanya adalah bagaimana supaya ketika Pak Harto datang, Jepang mau mengeluarkan pernyataan mengakui wawasan nusantara Indonesia. “Bagi saya ini suatu tugas yang sangat vital bagi bangsa Indonesia,” kenang Hasjim Djalal. Misi ini pun berhasil.

Setelah setiap persoalan terselesaikan dalam berbagai pertemuan seminar dan diplomatik, dirumuskanlah dalam Konvensi Hukum Laut Internasional pada tahun 1982. Seluruh negara pun mengakui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.

Namun, sampai saat ini (era reformasi), Hasjim merasa prihatin bahwa setelah itu dapat, bangsa Indonesia kurang mampu memanfaatkannya. Menurut Hasjim, posisi strategis Indonesia sudah sangat banyak diketahui bahwa kita sangat penting. Dalam arti letak perairannya berada di antara dua samudera dan dua benua. Susah mencari negara di dunia yang memiliki posisi seperti itu.

Namun, kata Hasjim, permasalahan yang dihadapi bangsa kita sejak dahulu, sudah berlangsung ratusan tahun, yang pandai memanfaatkan posisi itu justru orang luar. “Sampai hari ini kita tidak mampu mengambil keuntungan dari posisi yang sangat strategis itu. Yang pandai dan mampu adalah Singapura,” ujarnya.

Singapura dalam posisi di tengah jalan mampu mengembangkan industrinya, perkapalannya dan segala macam. Kita kelihatannya belum mampu, padahal memiliki unsur-unsur yang sangat strategis. Tidak ada orang yang bisa lewat dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik tanpa melalui kita, atau dari Pasifik ke Hindia.

Itu satu poin. Yang kedua, walau keadaan kita sangat strategis, besar, banyak, dan kaya, Singapura tidak mempunyai resources karena dia kecil, tetapi karena kita kurang pandai memanfaatkan alam maka banyak dicuri orang. Sejak jaman penjajahan sudah begitu, sampai sekarang masih seperti itu juga. Kekayaan alam kita banyak tetapi tidak mampu memakmurkan rakyat.

Yang ketiga, karena kita besar, kekayaan alam banyak, akhir-akhir ini terasa kita lebih banyak merusak daripada memanfaatkannya. Seperti hutan yang hancur, laut kita juga sudah rusak. Sekarang kita menghadapi terumbu karang yang rusak. Karena tidak paham, kita menganiaya alam. Maksudnya mungkin tidak untuk menganiaya, tapi begitulah yang terjadi.

” Indonesia Raja “

Indonesia Tanah Airkoe
Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri
Djadi Pandoe Iboekoe

Indonesia Kebangsaankoe
Bangsa dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe
Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe
Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra’jatkoe Semw’wanja
Bangoenlah Jiwanja
Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Tanahkoe Negrikoe jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja

Indonesia Tanah jang Moelia
Tanah Kita jang Kaja
Di Sanalah Akoe Berdiri
Oentoek Slama-lamanja
Indonesia Tanah Poesaka
Poesaka Kita Semoeanja
Marilah Kita Mendo’a
Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja
Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra’jatnja Sem’wanja
Sadarlah Hatinja
Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Tanah Jang Soetji
Tanah Kita Jang Sakti
Di Sanalah Akoe Berdiri
‘Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri
Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji
Indonesia Abadi

Slamatlah Ra’jatnja
Slamatlah Poetranja
Poelaoenja, Laoetnja, Sem’wanja
Madjoelah Negrinja
Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

Antisipasi Penyalahgunaan Ilmu Intelijen

Bagi seorang intel betulan, digunakannya identitas lain, dalam melakukan operasi intelijen, merupakan strategi tersendiri. Istilahnya cover atau penyamaran. Segala sarana dan prasarana yang dapat mendukung kesempurnaan dalam menjalankan cover-nya, sudah disiapkan lebih dahulu. Jangan heran kalau dalam melakukan penyamaran, adakalanya si intel itu bahkan bisa jauh lebih hebat dibandingkan dengan sosok yang dimainkannya.
Itulah sebabnya mengapa Mossad, CIA atau KGB, bisa sampai bertahun-tahun lamanya dalam menyiapkan cover. Jauh sebelum si agen itu beroperasi dan melakukan penetration atau infiltration ke organisasi atau negara sasaran yang dituju. Kalau perlu sampai menikah dengan orang setempat agar cover-nya sempurna dan lepas dari kecurigaan.
Ketahuan? Jangan harap bisa selamat alias bebas begitu saja. Minimal kena hukuman penjara karena melakukan kegiatan mata-mata. Kecuali kalau sasaran yang dituju ternyata lebih cerdik. Bisa-bisa si agen yang tertangkap, malah dijadikan double agent bahkan triple agent. Tentu saja risiko seorang double atau triple agent akan jauh lebih besar dihadapi. Syukur-syukur kalau negara sasaran tidak punya undang-undang yang bisa dikenakan terhadap orang yang melakukan kegiatan mata-mata. Misalnya di Indonesia. Bagi intel asing, kalau ketahuan melakukan kegiatan mata-mata, paling-paling cuma diusir dan dideportasi. Itu pun kalau ada bukti.
Sedangkan bagi warga negara sendiri yang melakukan kegiatan mata-mata yang jelas-jelas merugikan negara, cuma dikenakan pasal-pasal dalam KUHP tentang kejahatan terhadap keamanan negara, yang isi pasal maupun sanksi hukumannya sangat fleksibel.
Nasib paling bagus ya cuma kena blacklist. Itu pun alamat karier selesai. Di dunia intelijen, kalau penyamaran terungkap, daripada kena hukuman, blacklist dan malu seumur hidup, lebih baik memilih mundur, menghilang, ngumpet, atau mati saja sekalian. Makanya, para agen infiltrasi itu banyak yang memilih bunuh diri kalau cover-nya ketahuan musuh.
Pada kasus Ersa, di mana pihak GAM menduga bahwa kedua istri perwira itu melakukan kegiatan mata-mata, berawal dari kecurigaan GAM bahwa TNI melakukan operasi intelijen dengan menggunakan cover sebagai wartawan atau petugas PMI. ”Kami memperkirakan intelijen TNI sudah lumpuh sehingga mereka terpaksa menggunakan identitas kewartawanan dan palang merah untuk bisa masuk ke wilayah kami,” ujar Ishak Daud, yang menjadi Panglima Operasi GAM untuk wilayah Peureulak, Aceh Timur
Bagi GAM, kecurigaan itu muncul sebagai langkah antisipatif GAM terhadap bocornya pertahanan mereka oleh pihak TNI lewat penggunaan cover tersebut. Padahal strategi yang sama juga dilakukan oleh intel GAM sendiri. Misalnya dengan menyamar sebagai penduduk. Menurut informasi yang didapat intel TNI di lapangan, banyak anggota GAM yang menggunakan KTP penduduk dengan berbagai cara termasuk merampas sehingga memiliki identitas lain sesuai dengan identitas pada KTP yang ada.
Memang, dengan alasan operasi atau kegiatan intelijen, tindakan yang sebenarnya dapat dikategorikan sebagai perbuatan kriminal, umumnya dilegitimasi oleh pelaku sebagai perbuatan yang wajar dan dianggap ”sah-sah” saja.

Undang-undang Intelijen
Saat ini, didirikannya International School of Intelligence di Batam dan Institut Intelijen Negara di Sentul sebagai sekolah intelijen pertama di dunia , tentu akan membawa paradigma baru dalam bidang intelijen. Paling tidak, adanya perubahan paradigma dalam memandang ilmu intelijen sebagai ilmu dan seni. Selama ini intelijen dianggap tabu untuk dipelajari secara terbuka.
Berawal dari diterapkannya ilmu intelijen dalam bisnis (intelligent business/competitive intelligent) pada beberapa negara di dunia. Amerika, Swedia, Perancis, Jerman, Australia, Inggris, Belanda, Swiss, Rusia, RRC dan Jepang sudah memanfaatkan intelijen bisnis atau intelijen kompetitif sejak bertahun-tahun lalu. Penggunaan intelijen dalam industri atau perusahaan membuat industri mereka dapat merajai industri dunia.
Di Indonesia sendiri, beberapa tahun belakangan ini intelijen bisnis mulai dipelajari secara terbuka sebagai salah satu mata pelajaran pada beberapa jurusan manajemen. Hal itu menjadi salah satu dasar mengapa ilmu intelijen kemudian dipandang ”layak” untuk dipelajari secara terbuka.
Sehingga, ketika Presiden Megawati meminta BIN untuk lebih mengantisipasi kejahatan transnasional dan terorisme dunia setahun lalu, permintaan itu disambut oleh BIN dengan ide mendirikan sekolah untuk mempelajari ilmu intelijen secara terbuka.
Sama halnya seperti ilmu kepolisian yang juga mulai dipelajari pada beberapa universitas. Di Universitas Indonesia sendiri, ilmu kepolisian sudah dijadikan sebagai jurusan tersendiri untuk tingkat Strata-2 sejak delapan tahun lalu.
Tentu saja belajar ilmu kepolisian tidak otomatis menjadikan lulusannya sebagai polisi. Sama halnya dengan ilmu intelijen. Belajar ilmu intelijen, mestinya memang tidak otomatis menjadikan lulusannya sebagai agen intel di lembaga intelijen tertentu. Sebagai multi disiplin ilmu, tentunya berbagai ilmu yang ada baik ilmu murni maupun ilmu terapan dapat terkait dengan ilmu intelijen.
Hanya saja, ada satu hal yang perlu dipikirkan. Memberi kesempatan pada masyarakat umum untuk mempelajari ilmu intelijen secara terbuka, harus diimbangi dengan perangkat lain untuk dapat mengantisipasi jika terjadi dampak negatif dari penerapan ilmu intelijen yang tidak pada tempatnya.
Apalagi jika kemudian dipelajari beberapa hal yang sifatnya teknis seperti fotografi rahasia, penyadapan, penyelidikan, pengamanan dan penggalangan atau hal lain yang bersifat teknis dalam melakukan operasi atau kegiatan intelijen.
Ada dogma bahwa menjadi ”orang intel” dan berkecimpung dalam ”komunitas intelijen” (intelligent community), bukan berarti bekerja pada sebuah lembaga intelijen tertentu dan menjadi agent action di lembaga tersebut. Ia bisa saja hanya merupakan orang binaan atau sekedar informan pada jaringan tertentu.
Ini yang ”berbahaya”, karena sifatnya laten dan tidak terkontrol. Apalagi jika kemudian orang tersebut lepas dari user-nya, yaitu orang atau agent handle yang mengendalikan orang binaan atau informan tersebut
Bisa-bisa, sekedar untuk memenuhi need-nya, intelijen malah dijadikan lahan bisnis tersendiri yang cukup empuk. Kalau sudah begitu, yang ada bukan lagi intelijen bisnis tapi bisnis intelijen alias bisnis informasi untuk kepentingan tertentu.
Untuk itu, rasanya perlu dipikirkan, agar dapat dibuat semacam undang-undang tentang intelijen. Tentunya isi undang-undang tersebut untuk mengantisipasi berbagai kegiatan atau operasi intelijen dari pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab, yang akibatnya dapat merugikan bangsa dan negara lewat pemanfaatan ilmu intelijen secara salah.
Adanya undang-undang tersebut juga merupakan alat legitimasi bagi negara, yang tentunya dijalankan oleh polisi, untuk dapat mengambil tindakan hukum terhadap berbagai tindak kejahatan yang terjadi, yang merupakan bagian dari sebuah kegiatan atau operasi intelijen. Bukan tidak mungkin, ke depan, akan berkembang modus-modus kejahatan baru dengan menyimpangkan penggunaan ilmu intelijen tersebut. Jika itu terjadi, mau tidak mau tentu polisilah sebagai pihak yang memiliki wewenang untuk mengambil tindakan hukumnya. Sudah siapkah Polri menghadapi hal itu?

Reformasi Intelijen

7 tahun setelah bergulirnya reformasi, apakah reformasi intelijen juga terjadi?

Bila kita menilik perubahan signifikan dalam lembagai intelijen tertinggi di republik ini, maka sekilas kita akan melihat sosok Badan Intelijen Negara (BIN) yang berbeda dengan Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) di masa lalu. Sayang, letak perbedaannya hanya pada kata koordinasi…..yang bisa diartikan hilangnya fungsi koordinasi atau mungkin juga upaya menjadikan badan yang sungguh-sungguh memiliki operasionalisasi yang memadai.

Lebih lanjut, bila kita menilik badan intelijen lain semisal Badan Intelijen Strategis (BAIS) milik militer dan Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) milik Polri, unit intelijen Departemen seperti di Depkumham, Kejaksaan Agung, Direktorat Sospol Depdagri maka tidak sedikitpun perubahan. Bahkan apa yang kita kenal sebagai komunitas intelijen yang dikoordinir BIN masih tetap berjalan. Karena bentuk komunitas intel itu lebih mirip ngobrol sambil ngopi bareng serta “sedikit” pengarahan, maka pengaruhnya bisa jadi sangat-sangat lemah.

Ketika Amerika Serikat diguncang teror bom yang kita kenal dengan sebutan 9/11, serta-merta terjadi desakan dilakukannya reformasi nasional atas organisasi dan gelar operasi seluruh jajaran intelijen. Tidak ada sesuatupun yang berdampak serius ke dalam organisasi, karena kongres dan eksekutif sangat menghargai keberadaan organisasi intelijen seburuk apapun kinerja mereka.

Tapi di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya, fungsi intelijen semakin kerdil, marjinal dan saya perkirakan hanya kan menjadi mata-telinga penguasa menjelang pesta demokrasi lima tahunan, akibatnya profesionalisme organisasi semakin terabaikan.

Tingkat frustasi para intel telah mendekati suatu kondisi yang memprihatinkan. Dengan sistem single client yang patuh total pada presiden, maka tidak mau tidak semua unsur intelijen, khususnya BIN telah berubah menjadi alat politik yang signifikan.

Kalau benar-benar diperhatikan apa fungsi dari Badan Intelijen di negara RI, kita tinggal melihat ke dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu bisa dijabarkan sebagai berikut:

“Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, yang dijabarkan dalam bentuk tugas mengkoordinasikan perencanaan umum dan pelaksanaan operasional kegiatan intelijen diantara instansi-instansi lainnya yang memiliki fungsi intelijen dan mendukung penyelenggaraan tugas pokok intelijen masing-masing instansi. Memberikan keterangan-keterangan rahasia yang akurat dan tepat waktu kepada presiden dan kabinet. Mengumpulkan keterangan rahasia luar negeri, keterangan rahasia dalam negeri, melakukan analisa, melaklukan kontra-spionase, dan melakukan kontra-terorisme.”

Tetapi apa daya mimpi tak sampai, kooptasi organisasi intelijen oleh kekuatan politik dan kepentingan sesaat para penguasa telah melemahkan organisasi intelijen itu sendiri. Ini apa yang saya sebut sebagai hilangnya profesionalisme dan nurani kerakyatan/kebangsaan yang seharusnya melekat di hati setiap insan intelijen.

Sekedar bukti-bukti politik:

· Perkembangan intelijen di tanah nusantara mulai tumbuh setelah RIS dilebur menjadi RI dan menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950. Dimana mantan presiden Soekarno pada bulan Desember 1958 membentuk Badan Koordinasi Intelijen (BKI), tetapi pada bulan November 1959, Badan Koordinasi Intelijen (BKI) dirubah namanya menjadi Badan Pusat Intelijen (BPI) yang dalam bahasa Inggris = CIA. Tokoh yang ditugasi dan diberi tanggung jawab oleh mantan presiden Soekarno untuk mengurus dan menjalankan Badan Pusat Intelijen (BPI) adalah Menteri Luar Negeri Subandrio (orang dekat presiden yang kemudian juga terseret dalam sengketa politik nasional).

· Ketika terjadi pergantian kekuasaan ke tangan Jenderal Soeharto, itu Badan Pusat Intelijen (BPI) dibubarkan dan “dibersihkan” pada tanggal 22 Agustus 1966, digantikan oleh Komando Intelijen Negara (KIN) yang langsung dibawah komando Jenderal Soeharto dengan bantuan tokoh intel kawakan Sudirgo tentunya. Kemudian pada tanggal 22 Mei 1967, Komando Intelijen Negara (KIN) berganti nama menjadi Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), pemimpin lembaga baru ini adalah Jenderal-jenderal terdekat dengan presiden yang sedang menjabat. Nama-nama tokoh intelijen Indonesia seperti Letjen (purn) Sutopo Yuwono, Jenderal (purn) Yoga Soegomo, Letjen (purn) Sudibyo, Letjen (purn) Moetojib, Letjen (purn) ZA Maulani, Letjen (purn) Arie J. Kumaat, Jenderal (purn) AM. Hendropriyono, dan terakhir Mayjen (purn) Syamsir Siregar semuanya adalah orangnya presiden.

· Kiprah pemimpin BAKIN yang pertama tidak terlalu lama karena pertentangan dengan para petinggi militer, sehingga pada tahun 1974 harus digantikan oleh pemimpin yang lebih disenangi kalangan militer aktif dan khususnya mantan presiden Suharto.

· Pada masa mantan Presiden Suharto, kepemimpinan Jenderal Yoga Soegomo jelas tidak bisa dipungkiri nama besarnya, karena ranking militernya yang jenderal penuh didukung oleh model operasi gaya Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB). Kepemimpinan gaya flamboyan yang melebihi wewenang berdasarkan hukum positif itu telah mengabaikan pentingnya penataan hukum nasional dalam bidang pertahanan dan keamanan (security). Keberadaan hukum antisubversi dan kekuatan politik nasional yang bersandarkan pada militerisme telah membuat terbuai organisasi intelijen. Jelas sekali peran intelijen sebagai kepanjangan tangan penguasa, dan kedekatan BAKIN dengan mantan Presiden Suharto tidaklah mungkin untuk dibantah.

· Anomali organisasi BAKIN terjadi setidaknya dua kali yaitu pertama ketika Ali Moertopo waktu itu berpangkat Brigjen memegang posisi sebagai salah satu Deputi Operasi yang sangat berpengaruh. BAKIN kalah terkenal oleh apa yang masyarakat kenal sebagai Opsus (Operasi Khusus). Kedua yaitu ketika Benny Moerdhani yg masih Mayjen menjabat sebagai Wakil Kepala BAKIN, upaya pengrusakan organisasi sipil dibawah militer sangat kentara terjadi di BAKIN. Akibatnya intelijen sipil benar-benar mandul, impoten dan dikuasai oleh militer seutuhnya. Pada anomali organisasi yang kedua, yaitu dibawah kepemimpinan Sudibyo yang terjadi adalah kemandulan organisasi BAKIN tersebut tidak segera diatasi dengan revitalisasi organisasi yang mengupayakan kemandirian intelijen sipil. Anggota intelijen lebih banyak disuapi “bingkisan” dari rekanan pengusaha pimpinan dan lupa dengan tugas pokok organisasi. Sehingga peranan BAIS jelas jauh lebih menonjol ketimbang BAKIN yang secara teori jauh lebih tinggi.

· Adalah Letjen (purn) Moetojib yang pertama berusaha lebih netral dalam soal politik nasional, yaitu ketika memutuskan untuk tidak turut serta dalam rekayasa penggembosan PDI (Megawati).

· Upaya serius memperbaiki kinerja BAKIN diawali oleh gebrakan Letjen (purn) ZA Maulani yang sempat memiliki waktu untuk mengevaluasi kerja BAKIN saat menjabat sebagai pimpinan Setwapres. Letjen (purn) ZA Maulani sangat menyadari kualitas produk BAKIN yang diibaratkan sebagai garbage in garbage out (semuanya analisa BAKIN bagaikan sampah busuk). Disadari atau tidak oleh orang-orang BAKIN, pernyataan Letjen (purn) ZA Maulani tersebut tidak mengherankan, karena faktanya BAKIN telah terperosok ke dalam jurang kehancuran organisasi melalui dominasi militer dan hilangnya jiwa pengabdian intelijen yang profesional.

· Letjen (purn) ZA Maulani masih sempat meninggalkan berkas reformasi organisasi yang bertujuan merombak organisasi dan gelar operasinya. Berkas tersebut dilanjutkan oleh Letjen (purn) Arie J. Kumaat karena seperti biasa pergantian presiden berarti pergantian Kepala Badan Intelijen. Betapa beratnya kepemimpinan Letjen (purn) Arie J. Kumaat karena konon ia bukan pilihan Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid).

· Reformasi intelijen dalam tubuh BAKIN yang kemudian dikukuhkan menjadi BIN di era Letjen (purn) Arie J. Kumaat tersebut semakin berkibar ketika pemimpin flamboyan Letjen (purn) AM Hendropriyono diangkat sebagai Kepala BIN dengan status setingkat Menteri Negara. Langkah-langkah perbaikan organisasi juga dilaksanakan sejalan dengan semangat menjadikan BIN sebagai organisasi yang profesional. Sayangnya nuansa politis masih terasa seperti juga pada masa-masa kepemimpinan sebelumnya. Kedekatan Letjen (purn) AM Hendropriyono yang kemudian mendapat pangkat kehormatan sebagai Jenderal dari mantan presiden Megawati tidak diragukan lagi kedekatannya dengan presiden. Sebuah upaya positif adalah memperkuat posisi sipil dalam organisasi BIN, bahkan ikut mengusulkan agar Kepala BIN bisa dipimpin orang sipil.

· Terakhir adalah menurunnya kembali status Kepala BIN. Meski fakta pangkat militer pemimpin yang terakhir hanya berbintang 2, tidak berarti kemampuannya memimpin organisasi intelijen patut diragukan. Mayjen (purn) Syamsir Siregar sebagai teman dekat presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sekarang berkuasa, memikul beban yang sangat berat baik secara internal maupun eksternal. Dengan pengalaman memimpin lembaga intelijen TNI (BIA/BAIS) tentunya harapan membawa BIN menjadi organisasi yang profesional, disegani dan disayangi rakyat menjadi tugas utamanya. Kemandegan reformasi intelijen yang tidak jelas mau kemana, persoalan profesionalisme intelijen, dan semakin menurunnya citra intelijen di mata publik seyogyanya segera diatasi secara profesional. Tentu saja soal kedekatan Kepala Badan Intelijen dengan presiden juga patut mendapat sorotan, karena selayaknya kedekatan itu tidak kembali menjerumuskan dan menghancurkan organisasi yang dibangun demi kejayaan bangsa Indonesia.

Wawancara : Mayjen TNI Saurip Kardi


Dengan judul Menggalang Revolusi Senyap, Revolusi Berpikir terasa suatu gugahan intelektual yang meyakini awal dari sebuah perubahan besar adalah dari proses berpikir. Namun jangan dilupakan bahwa berpikir tanpa direalisasikan dalam tindakan nyata akan senyap dan akhirnya benar-benar menghilang. Seharusnya ada suatu keberanian nyata untuk menyusun Blue Print strategi dan langkah-langkah implementasinya sehingga proses berpikir untuk kemajuan Indonesia Raya akan mampu mempengaruhi dalam skala massal, dimana kesepahaman dibangun dengan sungguh-sungguh dan bukan ikut-ikutan belaka.

Nama Mayjen TNI Saurip Kadi seakan-akan tenggelam setelah munculnya
isu “Dokumen Bulak Rantai” pertengahan tahun 2000. Dalam dokumen itu
disebutkan bahwa Pangkostrad Letjen TNI Agus Wirahadi Kusumah (alm)
dan Aster KSAD Mayjen TNI Saurip Kadi bersama sejumlah perwira
tinggi TNI AD mengadakan pertemuan untuk membahas reposisi di tubuh
TNI AD.

SETELAH “Dokumen Bulak Rantai” muncul dan menghebohkan, Mayjen TNI
Saurip Kadi dicopot dari jabatan sebagai Aster KSAD dan digantikan
Mayjen TNI Sang Nyoman Suwisna, 29 Juni 2000. Selanjutnya Saurip
Kadi jobless di Markas Besar (Mabes) TNI AD. Sementara itu, Letjen
TNI Agus Wirahadi Kusumah tetap menduduki jabatannya sebagai
Pangkostrad.
Sejak itulah nama Saurip Kadi nyaris hilang. Namun awal tahun 2008
ini nama Saurip Kadi sebagai perwira tinggi TNI AD yang masih aktif
kembali muncul lewat buku “Mengutamakan Rakyat”. Buku tersebut
merupakan hasil wawancara Liem Siok Lan dengan Saurip Kadi.
Isinya sungguh membuat mata kita terbelalak, bulu kuduk kita
berdiri, dan memaksa kita mengelus dada. Tetapi buku tersebut juga
mampu menghadirkan seberkas harapan tentang masa depan bangsa dan
negara Indonesia yang sekarang sedang terpuruk ini.
Buku “Mengutamakan Rakyat” tidak hanya mengungkap fakta dengan
pengamatan yang cerdas dan kritis, tapi juga menawarkan sejumlah
solusi yang sangat spektakuler sekaligus kontroversial.
Selain “Mengutamakan Rakyat” , Saurip juga meluncurkan
buku “Menembus Batas”.

Berikut ini wawancara Duta dengan Mayjen TNI
Saurip Kadi di Surabaya, Selasa (15/4), yang dipadu dengan kutipan
bukunya yang memang disajikan dalam bentuk wawancara.

Apa motivasi Anda menulis buku ini?

Untuk memberi solusi bagi bangsa agar bisa keluar dari keterpurukan.
Karena tanpa solusi sampai kapan pun niscaya bangsa ini tidak akan
pernah bisa keluar dari keterpurukan.

Judul buku Anda “Mengutamakan Rakyat” cukup provokatif, apakah ada
motif tertentu, misalnya untuk mencalonkan diri menjadi Capres
.
Pertanyaan seperti ini wajar karena bangsa ini terlalu lama dibangun
dengan intrik dan konflik serta fitnah, sehingga anak bangsa lebih
cenderung curiga mencurigai apalagi terhadap munculnya gagasan-
gagasan baru tentang kenegaraan. Persoalan mencari pemimpin adalah
urusan rakyat. Buku ini semata-mata untuk menawarkan solusi yang
bisa digunakan untuk segera mengakhiri keterpurukan. Penilaian
provokatif atau tidak tergantung sudut pandang masing-masing.

Kalau begitu apa tujuan sesungguhnya dari penerbitan buku ini.
Melalui buku ini saya berharap sebanyak mungkin anak bangsa ini
menanyakan kepada calon presiden: Apa solusi yang disiapkan kalau
dirinya terpilih untuk mengakhiri keterpurukan ini? Kesadaran ini
menjadi sangat mendasar, agar yang berani mancalonkan atau
dicalonkan sebagai capres adalah figur yang punya solusi dan
paradigma baru dalam mengelola negara ke depan, bukan pemimpin yang
sekadar melanjutkan model dan cara-cara lama yang nyata-nyata telah
membawa kita terpuruk. Tegasnya dia yang kelak tampil adalah yang
siap untuk melakukan perubahan agar bangsa ini bisa keluar dari
keterpurukan guna membangun peradaban baru yang lebih baik.

Anda sepertinya ingin mengatakan ke depan perlu pemimpin yang kuat?
Anda benar, tapi kurang lengkap. Benar karena kita ke depan memang
bangsa ini butuh pemimpin yang kuat, yang tidak takut untuk
mendobrak aturan hukum yang selama ini membelenggu, namun dia mutlak
harus punya solusi untuk mengakhiri keterpurukan. Fakta membuktikan
orang kuat sekaliber Bung Karno dan Soeharto, pemerintahannya
berujung dengan krisis nasional, bahkan dirinya dilindas oleh sistem
yang mereka besarkan sendiri. Dan yang pasti rakyatlah yang paling
besar menanggung risiko yang ditimbulkannya.

Kalau begitu apa dan di mana persoalan utama yang dihadapi bangsa
ini?

Bangsa ini belum mempunyai sistem kenegaraan yang secara objektif
rasional mampu memberi jaminan bahwa negara akan berhasil
melaksanakan misinya dengan baik. Maka sekuat apa pun presidennya,
mustahil mampu mengantar bangsa ini mencapai tujuan. Ibarat
kendaraan, sehebat apa pun seorang sopir, kalau kendaraannya bobrok
maka mustahil bisa memberi jaminan akan sampai tujuan dengan
selamat. Bukankah yang terjadi hanya mengantar bangsa ini masuk
jurang keterpurukan, inilah yang dialami bangsa kita saat ini.

Konkretnya bagaimana?
Lihat saja dari sisi politik makro, bukankah perpolitikan kita hari
ini terbelenggu oleh oligarki dan kartel. Bagaimana mungkin seorang
kepala daerah, katakanlah gubernur, setelah terpilih tidak korupsi,
kalau untuk ikut Pilkada saja membutuhkan ratusan miliar. Siapa pun
dia yang telah mengeluarkan modal begitu besar, wajar saja kalau
dana yang dikeluarkan itu harus kembali dengan keuntungan yang
berlipat. Dalam sistem kepartaian juga sama saja, lihat saja mereka
sesungguhnya sudah bagi-bagi lahan sumber pendanaan, melalui
departemen dan korporasi BUMN. Dampak yang tidak bisa dielakkan
kedaulatan tidak lagi di tangan rakyat, tapi di tangan partai dan
juga elite yang berkuasa. Dan begitu pula aspek-aspek lainnya sudah
begitu ruwetnya, maka kita perlu paradigma baru.

Bisa dijelaskan paradigma baru yang Anda maksud?
Oh ya, itu kemutlakan. Lihat saja Pemilu 2004, kita menggunakan
pemilu langsung. Artinya legitimasi presiden diperoleh langsung dari
publik, artinya bukan dari partai dan atau DPR. Konsekuensi pemilu
langsung, kabinet yang dibentuk seharusnya kabinet zaken, bukan
kabinet partai apalagi koalisi partai. Tapi ini bukan salah SBY,
karena UUD membenarkan presiden bisa di-impeach di luar alasan
hukum. Belum lagi sistem perwakilan, mana ada dalam sistem
presidensiil anggota DPR kok wakil partai. Belum lagi dalam
pengelolaan ekonomi. Perekonomian kita selama ini hanya melanjutkan
sistem perekonomian kolonial. Kita terus terjebak pada text book
yang ada. Padahal zaman sudah berubah, dalam kaitan global tidaklah
mungkin model yang berlaku selama ini kita teruskan.

Bisa diberikan contoh?
Contoh konkret adalah tidak terserapnya dana-dana bantuan asing yang
sudah di-plegde untuk rehabilitasi korban tsunami Aceh dan Nias.
Dana tersebut datang sendiri dan dalam jumlah besar. Terus ngapain
pemerintah sibuk roadshow ke berbagai negara untuk menarik investor.
Dalam pengelolaan sumber daya alam, bagaimana mungkin para pemegang
lisensi tambang batu bara umpamanya, dengan bermodalkan lisensi saja
mereka bisa mengeruk uang dari money market (bursa efek) dalam
jumlah yang besar. Belum lagi keuntungan dari bisnis itu sendiri.
Naifnya, di saat yang sama Pemerintah mau membangun rumah sakit di
sekitar wilayah tambang itu sendiri harus mencari investor. Ini kan
artinya salah urus. Begitu pula di aspek kehidupan lainnya,
seluruhnya mutlak perlu ditata ulang.

Anda tadi bilang saat ini sistem politik kita sudah masuk dalam
kondisi oligarki dan juga kartel. Ke depan perubahan apa yang Anda
harapkan?

Memang tidak mudah tapi bukan tidak bisa dilaksanakan, banyak negara
termasuk tetangga dekat kita Malaysia dan juga Thailand, dan
sekarang Vietnam, mereka bisa melaksanakan perubahan tanpa berdarah-
darah. Maka kata kuncinya adalah kesiapan solusi mengutamakan rakyat
yang hendak dilaksanakan oleh bangsa ke depan. Dan karena tidak
mungkin perubahan datang dari partai-partai dan elite yang berkuasa
saat ini, maka rakyatlah yang harus merebut kembali kedaulatan yang
kini telah beralih menjadi kedaulatan partai dan elite. Perubahan
model tersebut hanya mungkin ditempuh melalui kehadiran seorang
pemimpin sejati yaitu pemimpin yang punya keberanian lebih, dan
punya komitmen kuat untuk menghentikan keterpurukan dan memulai
membangun peradaban baru Indonesia. Maka melalui pemilu ke depan
bangsa ini harus melahirkan pemimpin yang mempunyai solusi dan
paradigma baru dalam pengelolaan negara ke depan.

Bagaimana mungkin rakyat bisa merebut kembali kedaulatan, apakah
yang Anda maksud revolusi?

Rakyat dari dulu cerdas kok. Rakyat tahu semua kok kelakuan elite
dan apa yang dikerjakan mereka. Melalui gerakan rakyat kita bikin
revolusi senyap yaitu revolusi berpikir. Dengan menjadikan solusi,
mengutamakan rakyat, sebagai kesadaran publik, maka siapa pun yang
berani tampil sebagai Capres mestinya dia yang siap dengan solusi
untuk mengatasi keterpurukan, bukan pemimpin yang tanpa konsep yang
hanya sekadar melanjutkan cara-cara lama begitu saja. Rakyat dan
apalagi tokoh dan para riil pemimpin yang ada di tengah-tengah
masyarakat harus menanyakan dan sekaligus menguji konsep apa,
kebijakan apa, tegasnya solusi apa, yang disiapkan oleh para calon
presiden ke depan untuk mengatasi keterpurukan ini. Bukan janji-
janji yang muluk-muluk seperti yang terjadi selama ini yang sama
sekali tidak kualitatif- kuantitatif, tidak terukur dan tanpa
penjelasan bagimana janji itu akan dipenuhi. Buku ini juga bisa
digunakan sebagai salah satu contoh kontrak sosial tertulis. Kontrak
sosial tertulis bagi calon presiden menjadi penting, agar kelak
rakyat bisa menagihnya secara faktual bila yang ditulis tidak
dilaksanakannya dengan benar dan baik.

Menurut Anda, permasalahan mendasar apa yang kini dihadapi bangsa
kita.

Setidaknya ada 8 masalah besar mendasar yang dihadapi bangsa, (1)
Sistem kenegaraan yang semrawut. (2) Tarik menarik antara pusat dan
daerah yang begitu kuat, hal ini diakibatkan konsep otonomi yang
setengah matang. (3) Partai yang menghisap rakyat, partai memang
butuh dana, namum tidak seharusya dengan menghisap rakyat, (4) BUMN
yang telah menyimpang dari misi utamanya, dan beralih fungsi sebagai
sapi perahan bagi partai dan elite yang ada. (5) Nasib Rakyat yang
telantar, antrean untuk mendapat bahan kebutuhan pokok di mana-mana,
banyak permasalahan kemanusiaan dan sosial tidak tertangani dengan
sigap oleh pemerintah. (6) Kerusakan moral elite yang nyaris
sempurna, korupsi tidak hanya di pusat tapi sudah menular sampai ke
desa-desa, tidak hanya perorangan dan kelompok, sekarang ini malah
sudah berjamaah. Gaji kecil bisa kaya raya tanpa sumber penghasilan
yang jelas, tidak dirasakan sebagai aib atau dosa. (7) Bangsa ini
tidak memanfaatkan peluang yang dihadirkan oleh globalisasi. Padahal
globalisasi akan jalan terus, tak peduli Indonesia siap atau tidak
siap, menerima atau menolaknya. Dan (8), bangsa ini mengabaikan
manfaat kemajuan teknologi, khususnya di bidang telekomunikasi dan
informatika.

SBY Memerankan Simbol, Operatornya JK

“Lihat saja saat Pak Harto, yang berperan jadi operator adalah Bu
Tien, maka sabdo pandito ratu tan ora kena owah menjadi terbukti.
Bahasa Jawanya “idu geni” ludahnya saja api. Yang diomongkan
terbukti. Dengan kadar yang sedikit rendah hal ini terjadi saat Mbak
Mega. Karena peran operator dimainkan sang suami. Sekarang, SBY
memerankan sebagai simbol, operatornya JK.” Demikian pendapat Mayjen
TNI Saurip Kasdi. Berikut ini kutipan buku “Mengutamakan Rakyat”
yang bergaya tanya jawab.

Lantas dari mana kita akan memulai. Bukankah sejak tahun 1998 kita
sudah reformasi, dan hasilnya malah menyengsarakan rakyat?

Tahun 1998 bukan reformasi, itu rebutan kekuasaan dari Orde Baru
oleh penerus Orde Baru. Dari Soeharto ke turunannya Soeharto. Lihat
saja sekarang yang pendatang baru di lapis atas, kan cuma Hidayat
Nurwahid, paradigma yang digunakan dalam mengelola negara juga belum
berubah, lantas dari mana kita mengharap adanya perbaikan.
Bicara memulainya, dari perubahan mind set dulu, perubahan paradigma
dari elite bangsa. Dan yang duluan harus berubah adalah presidennya.
Lihat saja Pemilu 2004, kita sudah melaksanakan pemilu langsung,
artinya legitimasi SBY sebagai presiden bukan dari partai, tapi
langsung dari rakyat.
Karena paradigma dalam mendatangkan stabilitas politik belum
berubah, maka dalam menyusun kabinet dan juga pengelolaan dinamika
kekuasaan masih model lama, masih perlu dukungan partai, masih
menghitung suara pendukung pemerintah di DPR. Hal ini sama sekali
bukan kesalahan SBY, tapi sistem politik hasil amandemen memang
ruwet, semerawut dan tidak rasional.

Kira-kira di mana titik keruwetan tersebut?
Kita harus tegas dalam memilih, kalau mau presidensiil maka semua
perangkat dan mekanisme yang digunakan janganlah dicampur dengan
milik parlementer. Kalau dicampur begitu saja akan terjadi proses
saling menjegal, mereduksi dan bahkan saling mendistorsi dan
menegasikan satu dengan lainnya. Akhirnya yang dikorbankan adalah
kedaulatan rakyat berpindah menjadi kedaulatan partai dan elite.
Dalam sistem presidensiil di mana pun, presiden dan anggota DPR sama-
sama sebagai konstanta, artinya tidak bisa diberhentikan di tengah
jalan. Mengapa? Karena rakyat memilih presiden untuk 5 tahun. Rakyat
juga tidak pernah menguasakan kepada partai untuk di tengah jalan
mencopot anggota DPR tuh, lantas dari mana asal usul wewenang partai
bisa mencopot anggota DPR. Rakyat juga tidak pernah memberi kuasa
kepada anggota DPR dan DPD untuk mencopot presiden di tengah jalan,
lah kok ada hal impeach.
Presiden dan anggota DPR bisa saja dicopot, tapi haruslah alasannya
karena hukum, tegasnya kriminal. Lain soal kalau kita hendak
menggunakan sistem parlementer, maka yang diberi kuasa oleh rakyat
adalah partai, artinya partai berhak penuh untuk mengganti anggota
DPR di tengah jalan karena alasan politik sekali pun, ataupun ganti
perdana menteri kalau memang besarnya dukungan di DPR tidak
mayoritas lagi.

Kalau begitu sistem kenegaraan kita salah dong?
Bicara soal sistem kenegaraan bukan soal salah benar, persoalan yang
mendasar adalah objektif rasional apa tidak. Terbukti dalam praktik
oleh banyak negara atau tidak. Hasil kudeta saja asal legitimated
menjadi sah kok, apalagi hasil Sidang Umum MPR kan ya pasti sah
dong. Mari lihat lebih jauh, yang janji dengan rakyat untuk
memberantas korupsi adalah presiden, la kok lembaga yang
menjalankannya KPK yang tidak di bawah presiden.
Lagi, di mana pun negara dan pemerintah haruslah dipisah atau
minimal dipilah. Sehingga ketika pemerintah gagal, atau terjadi
instabilitas di tingkat pemerintahan, tidak sampai merembet ke
negara. Lihat saja Thailand berulang kali kudeta, negaranya tetap
stabil, hari ini ada kudeta, besok turis juga tetap berdatangan
malah jadi tontonan.
Begitu pula Amerika, beberapa bulan lalu Presiden Bush ditentang DPR
dan bahkan oleh partainya, soal Irak, tapi selaku kepala negara Bush
punya hak veto, maka Amerika tetap stabil. Kurang yakin lagi, tolong
cari negara pengikut sistem presidensiil yang mana yang ketua
partainya dicalonkan atau mencalonkan sebagai capres. Yakin hanya di
Indonesia.

Bukankah persoalan yang kini dihadapi bangsa adalah persoalan
ekonomi?

Sama seperti di bidang politik, pemerintahan, dan aspek lainnya,
ekonomi, sistem besarnya juga harus ditata ulang. Ke depan soko guru
ekonomi yaitu koperasi dan BUMN harus direformulasikan dalam bentuk
BUMR (Badan Usaha Milik Rakyat). Rontoknya 200 konglomerasi, harus
dijadikan pelajaran di mana ke depan kita harus mengganti pendekatan
dengan aglomerasi, kecil-kecil banyak, tapi kuat yang dirangkai
dalam sebuah network perdagangan lokal, regional, nasional dan
bahkan global yang dikaitkan pula dengan kekuatan global financial.
Begitu pula paradigma kebijakan harus diubah dari semula bertumpu
pada kebijakan fiskal, diubah menjadi kebijakan yang mengedepankan
nilai tambah akibat penggunaan teknologi dan manajemen yang
dikaitkan dengan global financial. Secara keseluruhan ke depan kita
harus melaksanakan corporat restructuring menuju Indonesia
Incorporation.

Presiden kita kan dari militer, mengapa dikesankan tidak cekatan dan
publik menilai kurang tegas.

Persoalan lamban dan tegas, sama sekali tidak ada kaitannya dengan
militer atau tidak. Kalau SBY dikesankan begitu, ini tidak lepas
dari budaya politik kita yang masih mengikuti budaya kerajaan, sama
sekali belum sebagai budaya demokrasi. Dalam budaya kerajaan, raja
adalah simbol. Peran operator sangat menentukan penampilan sang
simbol. Lihat saja saat Pak Harto, yang berperan jadi operator
adalah Bu Tien, maka sabdo pandito ratu tan ora kena owah menjadi
terbukti. Bahasa Jawanya “idu geni” ludahnya saja api. Yang
diomongkan terbukti.
Dengan kadar yang sedikit rendah hal ini terjadi saat Mbak Mega.
Karena peran operator dimainkan sang suami. Sekarang, SBY memerankan
sebagai simbol, operatornya JK. Yaa, darimana rumusnya kesan publik
seolah SBY lembek, ragu-ragu dan tidak tegas bisa ditangkal.
Masih ada waktu sih, tapi ini kan tergantung Pak SBY sendiri, mau
melanjutkan kontraknya dengan JK di mana peran sebagai operator
tetap JK, atau sisa jabatannya akan dihandle sendiri atau oleh orang
sendiri, asal mengutamakan rakyat pasti pamornya kembali pulih.

Anda kan teman seangkatan, apa tidak memberi saran?

Justru di situ persoalannya, lingkaran kekuasaan akan membikin SBY
dikelilingi orang-orang yang menikmati kekuasaan, sedemikian rupa
sehingga sama kawan akan terbangun sekat, kalau toh bisa ketemu ya
paling-paling pada acara-acara yang dipersiapkan oleh lingkaran-
lingkaran yang menikmati kekuasaan itu tadi. Buku “Mengutamakan
Rakyat” adalah cara saya membantu kawan, kalau mau memanfaatkannya.

Anda kan dari militer, bagaimana sebaiknya TNI dikelola?

Di dunia ini lebih dari 200 negara, mengapa mereka bisa mengatur
tentaranya agar tidak menembaki rakyatnya? Prajurit negara sahabat
yang menjalankan tugas dengan benar tidak dijebloskan ke penjara
atas nama pelanggaran HAM. Tugas tentara di mana pun untuk membunuh,
lah kok anggota kita dijebloskan penjara gara-gara saat resmi
menjalankan tugas negara membunuh musuh negara.
Tidak etislah kalau terus mengatasnamakan “ala Indonesia”, ini
persoalan perjalanan panjang peradaban manusia. Sejak zaman Romawi
kuno, sudah berapa miliar korban berjatuhan akhirnya manusia
menemukan model dalam mengelola negara, dalam berdemokrasi dan juga
dalam mengatur tentara. Kalu tidak ada kesadaran bahwa sistem
besarnya ada yang salah, sampai kapan ya akan terus jatuh korban
karena TNI, mari kita saksikan.

Lantas bagaimana harus diatur ?

Ya niru saja semua negara yantg berhasil mengatur tentaranya
sehingga tidak terus bentrok dengan rakyat, dengan polisi dan dengan
siapa pun. Salah satu cara adalah kewenangan komando operasional
dalam keadaan damai mutlak harus di tangan presiden selaku kepala
negara, walaupun untuk satu butir peluru sekalipun perintah menembak
harus dari kepala negara.
Begitu pula visi keamanan juga harus diubah, keamanan haruslah
diposisikan sebagai out put dari sistem sipil, maka ketika muncul
persoalan keamanan, maka yang harus diselesaikan dengan cara- cara
sipil (beradab) dan oleh aparatur sipil. Kecuali cara-cara sipil
gagal atau dipastikan akan gagal dan akan menimbulkan jatuhnya
korban, maka walapun untuk menyelamatan satu warga negara, saat itu
TNI haruslah dikerahkan. Apalagi kalau menyangkut masalah
kemanusiaan, seperti bencana apa pun maka ketika aparatur sipil
tidak mungkin mampu, gak usah diperintah saat itu TNI haruslah turun
tangan.

Sepertinya gagasan Anda sulit dan besar sekali resistensinya.
Berat, sulit bukan berarti tidak mungkin. Soal resistensi, itu pasti
tapi kan dari elite, bukan dari rakyat. Di sisi perlunya perubahan
janganlah karena upaya di luar koridor demokrasi, katakanlah dengan
menjatuhkan pemerintah, apalagi dengan cara-cara anarkis. Pemerintah
jatuh juga yang akan mewarisinya juga sama saja, mereka lagi mereka
lagi yang tidak punya solusi, lagi pula belum tentu akan menjadi
lebih baik, salah-salah tambah buruk. Banyak negara bisa kok,
perubahan dari sang pemimpin yang kuat dan punya solusi dan visi
baru. Malaysia di bawah Mahathir, Thailand di bawah Thaksin,
Venezuela dengan Hugo Chaves, Rusia, RRC, Jepang, Jerman dan banyak
lagi contoh-contoh konkret.

Posisi Anda sekarang di mana?
Sejak 1 Juli 2000 saya dirumahkan, nonjob. Saat ini sedang menunggu
penyelesaian administrasi pensiun.

Bagaimana Anda menyikapi perjalanan panjang pengangguran (non-job)
tersebut?

Di awal masa pengangguran saya sempat menggugat Tuhan yang tidak
berdaya memberi kesempatan dan kekuatan bagi saya dengan sejumlah
kecil perwira bersama almarhum Letjen TNI Agus Wirahadikusumah (AWK)
untuk ikut melaksanakan reformasi internal TNI dalam arti yang
sesuai dengan tuntutan zaman. Karena tanpa pembenahan internal
terlebih dulu, TNI yang di Orde Baru dijadikan tulang punggung
pemerintah terlebih dulu, reformasi di tingkat kenegaraan akan
gagal.
Belakangan saya mencoba mempelajari mengapa banyak negara bisa
berhasil membangun peradaban dengan baik. Sementara kita terus
terpuruk. Akhirnya saya bersama Sdri Liem Siok Lan bisa menyusun
buku “Mengutamakan Rakyat” dalam bentuk wawancara yang isinya
rumusan solusi untuk kita keluar dari keterpurukan dan sekaligus
paradigma baru dalam mengelola negara.
Isi buku ini mencakup seluruh aspek kehidupan kenegaraan, yang
kebenarannya telah dibuktikan oleh banyak negara. Bagi saya buku ini
jauh lebih berharga dari pada sekadar jabatan, seandainya saya tidak
dinonjobkan. Saya kini tahu rupanya Tuhan punya rencana lain, semoga
dengan buku “Mengutamakan Rakyat” bangsa ini bisa mengakhiri masa
gelapnya (jahiliyah) dan memulai kehidupan baru yang berlandaskan
pada etika moral dalam artian laku yang benar.

Negara Kesatuan Republik Indonesia

DASAR NEGARA
Pancasila adalah filosofi dasar negara Indonesia yang berasal dari dua kata sansekerta, “panca” artinya lima, dan “sila” artinya dasar. Pancasila terdiri atas lima dasar yang berhubungan dan tidak dapat dipisahkan, adalah :

1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Indonesia merupakan negara demokrasi yang dalam pemerintahannya menganut sistem presidensiil, dan Pancasila ini merupakan jiwa dari demokrasi. Demokrasi yang didasarkan atas lima dasar tersebut dinamakan Demokrasi Pancasila. Dasar negara ini, dinyatakan oleh Presiden Soekarno (Presiden Indonesia yang pertama) dalam Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

POSISI GEOGRAFIS

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Apabila perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi1.9 juta mil persegi,Lima pulau besar di Indonesia adalah : Sumatera dengan luas 473.606 km persegi, Jawa dengan luas 132.107 km persegi, Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia) dengan luas 539.460 km persegi, Sulawesi dengan luas 189.216 km persegi, dan Papua dengan luas 421.981 km persegi.

SEJARAH GEOLOGI

Pulau-pulau Indonesia terbentuk pada jaman Miocene (12 juta tahun sebelum masehi); Palaeocene ( 70 juta tahun sebelum masehi); Eocene (30 juta tahun sebelum masehi); Oligacene (25 juta tahun sebelum masehi). Sehubungan dengan datangnya orang-orang dari tanah daratan Asia maka Indonesia dipercaya sudah ada pada jaman Pleistocene (4 juta tahun sebelum masehi). Pulau-pulau terbentuk sepanjang garis yang berpengaruh kuat antara perubahan lempengan tektonik Australia dan Pasifik. Lempengan Australia berubah lambat naik kedalam jalan kecil lempeng Pasifik, yang bergerak ke selatan, dan antara garis-garis ini terbentanglah pulau-pulau Indonesia.
Ini membuat Indonesia sebagai salah satu negara yang paling banyak berubah wilayah geologinya di dunia. Pegunungan-pegunungan yang berada di pulau-pulau Indonesia terdiri lebih dari 400 gunung berapi, dimana 100 diantaranya masih aktif. Indonesia mengalami tiga kali getaran dalam sehari, gempa bumi sedikitnya satu kali dalam sehari dan sedikitnya satu kali letusan gunung berapi dalam setahun.
DEMOGRAFI
Penduduk Indonesia dapat dibagi secara garis besar dalam dua kelompok. Di bagian barat Indonesia penduduknya kebanyakan adalah suku Melayu sementara di timur adalah suku Papua, yang mempunyai akar di kepulauan Melanesia. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda atau Batak.Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas diantaranya adalah Etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke nusantara dengan jalur perdagangan sejak abad ke 8 SM dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 3% populasi etnis Tionghoa. Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930-an terakhir kalinya pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.

Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Sisanya beragama Protestan (8,9%); Katolik (3%); Hindu (1,8%); Buddha (0,8%); dan lain-lain (0,3%).

Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi Indonesia, bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.

POLITIK

Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawatan Rakyat (MPR) yang terdiri dari dua badan yaitu DPR yang anggota-anggotanya terdiri dari wakil-wakil Partai Politik dan DPD yang anggota-anggotanya mewakili provinsi yang ada di Indonesia. Setiap daerah diwakili oleh 4 orang yang dipilih langsung oleh rakyat di daerahnya masing-masing.Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah lembaga tertinggi negara. Keanggotaan MPR berubah setelah Amandeman UUD 1945 pada periode 1999-2004. Seluruh anggota MPR adalah anggota DPR ditambah anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan. Anggota MPR saat ini terdiri dari 550 anggota DPR dan 128 anggota DPD. Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik dalam masa jabatan lima tahun. Sejak 2004, MPR adalah sebuah parlemen bikameral, setelah terciptanya DPD sebagai kamar kedua.

Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidenstil sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen.

Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, termasuk pengaturan administrasi para Hakim.


PROVINSI
Indonesia saat ini memiliki 33 provinsi (termasuk 2 Daerah Istimewa (DI) dan satu Daerah Khusus Ibukota (DKI). Kedua DI tersebut adalah Nanggroe Aceh Darussalam dan Daerah Istimewa Yogyakarta sedangkan Daerah Khusus Ibukotanya adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sebelum tahun 1999, Timor Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.

Daftar Provinsi di Indonesia
Sumatra
Nanggroe Aceh Darussalam | Sumatera Utara | Sumatera Barat | Bengkulu | Riau | Kepulauan Riau | Jambi | Sumatera Selatan | Lampung | Kepulauan Bangka Belitung
Jawa
Jakarta | Jawa Barat | Banten | Jawa Tengah | DI Yogyakarta | Jawa Timur
Kalimantan
Kalimantan Barat | Kalimantan Tengah | Kalimantan Selatan | Kalimantan Timur
Nusa Tenggara
Bali | Nusa Tenggara Barat | Nusa Tenggara Timur
Sulawesi
Sulawesi Barat | Sulawesi Utara | Sulawesi Tengah | Sulawesi Selatan | Sulawesi Tenggara | Gorontalo
Kepulauan Maluku dan Papua
Maluku | Maluku Utara | Papua Barat | Papua

EKONOMI
Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu. Ekonominya kini telah lumayan stabil saat ini.Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga dan emas. Indonesia adalah pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah dan karet.

Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara tetangganya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.

Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan korupsi yang merajalela dalam pemerintah.
Bank sentral Indonesia adalah Bank Indonesia.


SENI BUDAYA
Jenis kesenian di Indonesia banyak dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan. Tari Jawa dan Bali yang terkenal, misalnya, berisi aspek-aspek kebudayaan dan mitologi Hindu.Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatra seperti tari Saman Meusukat dan Tari Seudati dari Nanggroe Aceh Darussalam.

Selain itu yang cukup terkenal di dunia adalah wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis. Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.

Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Solo, dan juga Pekalongan.

Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya.

Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Musik tradisional termasuk juga keroncong Jawa dikenali oleh hampir semua rakyat Indonesia, namun yang lebih berkuasa dalam paras lagu di Indonesia yaitu seni lagu modern kemudian Dangdut. Dangdut adalah salah satu musik Indonesia yang sudah merakyat di wilayah Nusantara, yang dipadu dari unsur musik Melayu, India, dan juga musik tradisional Indonesia. Dinamakan Dangdut karena suara musik yang terdengar adalah suara ‘dang’ dan ‘dut’ dan musik Dangdut lebih dikuasai oleh suara gendang dan suling. Lagu-lagu dangdut biasanya didendangkan oleh pedangdut dengan goyangannya yang seronok dan lemah gemulai yang disesuaikan dengan tempo lagunya. Ada berbagai macam corak musik Dangdut, antara lain Dangdut Melayu, Dangdut Modern (Dangdut masa kini yang alat musiknya telah ditambah dengan alat musik modern); dan Dangdut Pesisir (Lagu dangdut tradisional Jawa, Sunda, dll). Pada tahun 70-an, dangdut lebih dikenal sebagai aliran musik orkes Melayu, yang kemudian pada awal tahun 80-an ia lebih dikenal dengan sebutan Dangdut.

Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, agama serta kepercayaan yang berbeda. Ada Batak, Karo, Minangkabau, Melayu di Sumatra dan sebagainya. Ada banyak agama yang diakui di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha bahkan kini Kepercayaan Konghucu juga diakui. Namun sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih Islam sebagai agamanya.

mencerdaskan intelijen indonesia

Komunitas Intelijen Indonesia menghadapi berbagai macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan, termasuk di dalamnya melemahnya keyakinan atas kemampuannya sendiri dalam menjalankan misi secara kompeten dan legal. Pandangan tersebut cukup meluas di kalangan pemerhati intelijen, khususnya dari kelompok akademisi yang menggagas reformasi intelijen serta kalangan civil society yang secara antusias menyoroti kiprah intelijen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Faktor tersebut menyebabkan intelijen kurang dipercaya dalam melakukan reformasi sendiri, sehingga beberapa pihak yang merasa mampu turut menyumbangkan pemikiran untuk reformasi intelijen.

Seyogyanya intelijen Indonesia tidak menutup diri dari kenyataan bahwa reformasi bukanlah sekedar merombak struktur berkali-kali dalam ketidakefisienan, melainkan diperlukan suatu blue print level nasional yang saling mengisi dengan isntitusi keamanan lainnya di Indonesia. Reformasi dalam artian yang sempit seringkali didefinisikan sebagai pergantian figur pimpinan intelijen atau dikotomi sipil-militer. Padahal yang lebih penting adalah dalam soal penataan manajemen agar lebih profesional dan dibangunnya budaya intelijen positif yang diimbangi dengan disiplin yang tinggi serta mekanisme reward and punishment yang jelas.

Seorang sahabat Blog  pernah menceritakan betapa buruknya manajemen personalia intelijen Indonesia, baik sipil maupun militer. Terlalu banyak praktek KKN dan penempatan yang kurang tepat dari personil intelijen. Kemampuan dan profesionalitas tidak menjadi prioritas. Sulit memang membayangkan bahwa banyak orang-orang dengan pengalaman intelijen yang minim, dengan pendidikan yang mandeg, serta terkungkung di dalam penjara “kehebatan intel” yang semu bisa menuliskan laporan intelijen yang baik kepada Presiden. Untungnya masih ada segelintir insan intelijen yang mampu menutupi kebobrokan organisasi tersebut dengan produk yang berkualitas.

Lantas salah siapa?

Menyegarkan organisasi intelijen, mencerdaskan komunitas intelijen, memprofesionalkan kiprah intelijen bukanlah hal yang mudah. Permasalahannya adalah akumulasi kebobrokan intelijen Indonesia telah dipelihara bertahun-tahun hanya dalam peranan melindungi kepentingan penguasa Orde Baru, dan di era reformasi pola-pola itu belum juga dapat dikikis habis, sehingga tidak mengherankan apabila rekan-rekan pernah membaca laporan intelijen akan tersenyum getir dan malu karena akan jelas tampak seperti anak kecil dengan celana kedodoran. Sekali lagi, hal itu masih dapat ditutupi oleh sebagian kecil insan intelijen yang mampu berjalan cepat dengan keyakinan dan idealisme membela bangsa dan negara.

Tidaklah dapat dihindari, intelijen Indonesia harus merubah paradigma serta meningkatkan profesionalismenya. Hal itu merupakan tuntutan zaman yang bergerak cepat mendesak intelijen untuk mampu mendapatkan informasi vital untuk kepentingan nasional. Disamping itu, informasi yang telah terkumpu juga harus melalui proses analisa yang handal, hingga akhirnya mampu menjadi produk intelijen yang bermanfaat bagi pengambil keputusan (Presiden).

Merubah diri, merubah organisasi, merevitalisasi kegiatan, dll guna mengikuti perkembangan zaman memerlukan keseriusan, keberanian, dan tentu saja arah dan manajemen yang tepat. Tanpa adanya perubahan, intelijen Indonesia akan bergerak di dalam dunianya sendiri, sementara alam nasional dan global jauh berbeda dari gambaran kalangan intelijen yang terkungkung tersebut.

Sebenarnya prinsip dasarnya sangat sederhana, yaitu senantiasa mampu dalam setiap kondisi dan waktu menyiapkan informasi intelijen yang bisa dipercaya dan berguna bagi user. Dengan prinsip sederhana tersebut tentu implikasinya akan sangat besar bagi organisasi. Selain itu, intelijen Indonesia juga akan mampu menghindari reformasi tambahan yang tidak perlu, atau bahkan justru menambah masalah dari pada menyelesaikannya.

Setelah itu, baru masalah prioritas, yang mana hal ini akan berubah-ubah sesuai kepentingan nasional.

Kemudian perlu juga suatu filter bagi intelijen dari tekanan politik, baik penguasa maupun oposisi. Karena hal ini dibutuhkan untuk memelihara independensi intelijen dalam memelihara dan melindungi kepentingan nasional pada saat bersebrangan dengan kepentingan politik individu di level nasional

bersambung…..

disunting dari tulisan Bapak Senopati Wirang

semoga beliau sehat selalu …..

sekolah tinggi sandi negara

SEKOLAH TINGGI SANDI NEGARA – JAWA BARAT

Status: Kedinasan
Alamat: Jl. Raya Haji Usa Desa Putat Nutug, Ciseeng – Parung, Bogor – 16330.
Telepon: (0251) 542021
Faks.: (0251) 541825
E-mail: sanapati@indosat.net.id

Sejarah Singkat
STSN adalah sekolah tinggi kedinasan yang diselenggarakan oleh Lembaga Sandi Negara yang merupakan peningkatan status dari D-III (Akademi Sandi Negara) menjadi D-IV (Sekolah Tinggi Sandi Negara), berdasarkan persetujuan Mendiknas No. 19/MPN/2002 tanggal 17 Januari 2002 dan dikukuhkan dengan Keppres No. 22/ 2003 tanggal 17 April 2003.
Mahasiswa STSN merupakan mahasiswa ikatan dinas (dari umum) dan mahasiswa tugas belajar(PNS/TNI/POLRI). Mahasiswa Ikatan Dinas yang telah menyelesaikan pendidikan selanjutnya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Lembaga Sandi Negara, sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.

Profil
Jenjang pendidikan: D4.

Fasilitas Kampus
Perpustakaan: koleksi 2.655 judul, 4.144 eksemplar.
Laboratorium: Komputer, Bahasa, Elektronika, Sandi.
Fasilitas lain: asrama, sarana ibadah, sarana olahraga.

Pendaftaran Mahasiswa Baru
Pusat informasi pendaftaran: Kantor Lembaga Sandi Negara Jl. Harsono RM 70, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12550. Telepon (021) 7805814 dengan waktu pendaftaran setiap hari kerja dan jam kerja (09.00—15.00 WIB).
Waktu pendaftaran: Juni-Juli
Syarat Umum
-Warga Negara Indonesia, Pria maupun Wanita.
-Sanggup bekerja pada bidang Persandian.
-Berkelakuan baik yang dinyatakan dengan Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB) dari Polei.
-Berbadan sehat yang dinyatakan dengan Surat Keterangan Sehat dari Dokter.
-Lulus tes Psiko, Akademik, Wawancara dan Kesehatan (antara lain tes kesehatan bebas NAPZA) yang diselenggarakan oleh Lembaga Sandi Negara.
-Belum pernah dikeluarkan dari Sekolah Tinggi Sandi Negara.
Syarat Khusus
·Asal calon Siswa :
-Umum, yaitu tamatan SMU atau Madrasah Aliyah jurusan IPA dengan nilai Matematika dan Bahasa Inggris pada rapor kelas tiga minimal 7 atau minimal 6 pada Nilai Ebtanas Murni (NEM) atau Nilai Ujian Nasional (NUN).
-Pegawai Unit Teknis Persandian (UTP) Instansi Pemerintah, dengan pendidikan umum serendah-rendahnya SMU atau Madrasah Aliyah jurusan IPA atau A1/A2 dengan nilai Matematika dan Bahasa Inggris pada rapor kelas tiga minimal 7.
-Anggota TNI/POLRI dengan pangkat serendah-rendahnya Perwira Pertama.
·U s i a :
-Umum, berusia minimal 17 tahun maksimal 21 tahun per 1 September (merujuk tahun 2003).
-Pegawai/TNI/POLRI dengan status Tugas Belajar, berusia maksimal 30 tahun dan sekurang-kurangnya telah bekerja 2 (dua) tahun tanpa terputus di bidang persandian, berkonduite baik dan harus diusulkan oleh atasan/instansi yang berwenang.
Adapun tata cara pendaftaran sebagai berikut :
1. Calon Mahasiswa Ikatan Dinas.
a. Membawa Surat Lamaran yang ditulis tangan sendiri dengan dilampiri :
-Fotokopi STTB/Ijazah/Transkrip nilai dan Nilai Ebtanas Murni (NEM) ataupun Nilai Ujian Nasional (NUN) terlegalisir.
-SKKB dari POLRI.
-Surat Keterangan Sehat dari Dokter Pemerintah atau Dinas Kesehatan.
-Surat Pernyataan dari orang tua / wali yang menyatakan Calon belum menikah
-Pasfoto berwarna 3 bulan terakhir ukuran 3×4 cm (3 lembar).
b. Calon harus datang sendiri untuk mendaftar dengan membawa STTB/Ijazah dan surat-surat asli lainnya.
c.Hanya mereka yang surat lamarannya telah memenuhi persyaratan lengkap yang dapat mengikuti ujian saringan masuk.

2. Calon Mahasiswa Tugas Belajar.
Membawa Surat Permohoan yang dibuat oleh Instansi/Departemen yang bersangkutan dan ditujukan kepada Kepala Lembaga Sandi Negara, dilengkapi dengan:
-Fotokopi STTB/Ijazah SMU jurusan IPA atau A1/A2 yang telah dilegalisir.
-Fotokopi Ijazah Pendidikan Sandiman (Ahli Sandi Tk. II).
-Pasfoto 3×4 cm (4 empat) lembar.
-Daftar Riwayat Hidup.

Biaya pendaftaran: Rp. 100.000
Jalur pendaftaran: Tes.
Ujian Tahap I:
1.Tes Akademik: Matematika, Bahasa Inggris dan Pengetahuan Umum.
2. Tes Psiko.
Ujian Tahap II: Wawasan Kebangsaan
Ujian Tahap III: Tes Kesehatan.
Ujian Tahap IV: Wawancara.
Ujian Tahap V: Pantukhir.

Biaya Pendidikan
Tahun pertama pendidikan diberikan Tunjangan Ikatan Dinas. Tahun kedua diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil.

Lain-lain

Program Studi
Fakultas Jurusan Program Studi Jenjang Program Akreditasi Poin 1 Poin 2 Tahun Akr. Catatan
Teknik Persandian Teknik Kripto D4 reguler
Teknik Persandian Teknik Rancang Bangun Peralatan Sandi D4 reguler
Manajemen Persandian Manajemen Persandian D4 reguler

sandi negara

sandi merupakan sebuah kata yang agak tabu untuk dibicarakan. Khalayak umum beranggapan, sandi merupakan sebuah parameter dalam melindungi sesuatu hal yang dianggap penting. Memang secara tidak langsung, baik jika dibahas dalam setiap sendi kehidupan bernegara, akan menampakan sebuah labirin yang akan sulit untuk dibeberkan.
sejak jaman dahulu manusia sudah mengenal perlunya merahasiakan sesuatu terhadap pihak yang ia anggap tidak perlu untuk mengatahuinya. Masyarakat dicina telah mengirimkan berita rahasianya didalam sebuah bola-bola kecil yang terbuat dari kertas atau bahan sutera yang dibungkus dengan lilin, kemudian bola-bola tersebut dibawa oleh kurir/caraka dengan terlebih dahulu menelan bola-bola tersebut.
julius caesar juga telah melakukan hal yang sama, hanya saja ia hanya menyembunyikan tulisan tersebut kedalam sebuah tulisan baru. caesar mengganti tata tulisan didalam beritanya sebagai berikut: BERITA: OMNIA GALLIA EST DIVISA INPARTES TRES
SANDI : RPQLD JDOOLD HVW GLYLVD LQ SDUWHV WUHV
sebenarnya caesar hanya mengganti huruf-huruf tersebut dengan huruf-huruf yang terletak 3 huruf lebih jauh (huruf abjad) sehingga huruf O=R, M=P, N=Q.
sandi dalam peranannya dalam sebuah negara telah terlihat secara samar-samar setelah penjelasan diatas. sekarang saatnya kita sedikitlagi membuka kulit selanjutnya. sandi disebuah negara menjadi tolak ukur keberhasilan negara dalam mengembangkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

perdana menteri inggris, Sir Winston Churchill, dan Presiden AS, Franklin D. Roosevelt, mengalami sebuah peristiwa yang akhirnya mereka menganggap penting arti sandi dalam sebuah negara. Saat itu Sir Winston Churchill dan Presiden Roosevelt mengadakan sebuah pertemuan yang membahas ofensif Jerman atas dataran Eropa, ternyata hasil pembicaraan itu berhasil dibocorkan oleh seorang kepercayaan dinas rahasia Inggris(MI6). tapi beruntung pihak kepolisian inggris telah mencium adanya tindakan sabotase terhadap hasil pembicaraan tersebut, akhirnya polisi inggris melakukan ppenggeledahan terhadap seorang anggota dinas sandi Inggris(GCHQ). Dari kamar agen tersebut diperoleh 1500 Copy dokument kawat sandi tentang perkembangan kerjasama Inggris-Amerika. Akibat kebocoran tersebutsangat berpengaruh besar, hari-hari Dunkirk dan jatuhnya perancis ketangan Jerman.

Jerman pada awal perang dunia II sangat maju tehnologi dinas sandinya, mereka berhasil melakukan invasi Yugoslavia dalam waktu yang singkat, padahal kita tahu banyak kaum cerdik pandai yang meninggalkan Jerman karena diskriminasi. Apa rahasia dibalik kesuksesan Jerman tersebut? Tentara Jerman Telah mengumpulkan berita tentang daerah-daerah di Yugoslavia dengan sangat rutinnya, Jerman mengirimkan pencari berita tersebut dengan samaran sebagai warga sipil. mereka semua berasal dari dinas sandi tentara Jerman, mereka bertugas melakukan penyadapan atas jalur komunikasi Yugoslavia dan berusaha membongkar sandi Yugoslavia. Dengan kinerja yang handal dinas sandi Jerman berhasil mendapatkan berita terkini tentang pergerakan tentara Yugoslavia. akhirnya Jerman berhasil menguasai Yugoslavia karena Jerman telah mengetahui dimana centra gravia lawan. Bahkan darihasil [enyadapan tersebut diperoleh berita bahwa hubungan Presiden Y.B. Tito dengan Inggris-Amerika makin merenggang.

Pearl Harbor, merupakan awal dari offensif tentara Jepang untuk menggulingkan dominasi Amerika di Pasifik, secara tidak langsung merupakan babakan baru bagi bangsa indonesia untuk menjadi bangsa yang merdeka. Serangan yang amat briliant, dilaksanakan pagi hari minggu tanggal 7 Desember 1941, yang diklaim sebagai kemaluan Amerika terbesar dalam sejarah peperangan mereka. Keberhasilan itu bisa tercapai dengan kecerdikan jepang dalam menghentikan jalur komunikasi theknis mereka, agar tidak terjadi kebocoran informasi. Sebenarnya Amerika telah berhasil memecahkan sandi dari dinas sandi tentara Jepang, tetapi pihak Jepang telah mengganti sandi yang mereka gunakan, ternyata amerika lebih lambat dalam menterjemahkan berita sandi jepang tersebut. Rupanya pihak tentara Jepang telah puas dengan hasil yang mereka raih, mereka tidak waspada oleh adanya kemungkinan pembongkaran sistem sandi oleh pihak Amerika. Amerika dengan sekutu-sekutunya berusaha keras untuk selalu mengupas sistem sandi tentara Jepang, akhirnya kecerobohanpun terjadi, Jepang lupa mengganti sistem sandinya maka Amerika dengan leluasa mengubah taktik berperang mereka berdasarkan pada pra-informasi yang mereka dapatkan. hal tersebut juga mengakibatkan gugurnya Admiral Yamamoto dalam sebuah pendadakan didaerah timur indonesia. Pearl harbor dan Midway merupakan sebuah kenyataan bahwa dinas sandi sebuah negara amat penting.

Fermmeldeauflarung(Radio Intelijen Jerman), merupakan sebuah bagian dari dinas sandi tentara Jerman. Unit ini dibawahi oleh seorang kapten SS yang bernama SEEBOHM, ia bertugas dibawah gugus komando Jenderal erwin rommel. Kompi ini bertugas memantau perkembangan pasukan sekutu lewat jalur radio. setiap rencana operasi pihak sekutu dapat dirubah menjadi menguntungkan bagi pihak Jerman, hal ini merupakan sebuah bukti bahwa penyadapan intelijen amat berperan dalam mengatur taktik. Pada sebuah pertempuran yang sengit didaerah el-Adem, kapten SEEBOHM tewas dengan membawa seluruh dokumen yang berisikan kawat-kawat hasil penyadapannya. Pihak inggris terkejut melihat kenyataan pahit itu, tak disangka ternyata Jerman telah berhasil menyadap mereka didepan hidung mereka sendiri. secepatnya pihak inggris mulai berbenah antara lain dengan: callsign yang lebih sempurna, disiplin petugas sandi diperketat, setiap penggunaan radio telefoni harus menggunakan sandi, memperbanyak dummy messages, dan membuat jaring komunikasi palsu(fake). Akhirnya Jenderal Rommel yang kehilangan kompi Fernmelldeauflarung tak dapat menembus pertahanan pihak lawan. hal ini merupakan hal terfatal dalam sejarah angkatan darat Jerman.

Dasar-dasar Intelijen (2)

DASAR-DASAR INTELIJEN (BAGIAN 2-SELESAI)

Oleh : Letjend (Purn) Z.A. Maulani

(Mantan Kepala BAKIN)

Tugas Intelijen adalah Pengabdian Mutlak Tanpa Pamrih

Kemampuan dan kualitas kinerja intelijen ditentukan oleh kehandalan dan kualitas dari sistem pendidikan dan pelatihan yang merupakan wujud upaya untuk menjadikan seseorang cakap dan matang melalui pembekalan kemampuan profesional dan pemberian pengalaman secara sistematik.

Pertanyaan :

Untuk menjadikan BIN sebuah lembaga intelijen yang profesional dengan kinerja yang profesional, bagaimana sistem rekrutmen calon-calon petugas intelijen kita?

Sisi kedua adalah efisiensi sistem pembinaan karier yang memungkinkan seseorang menjadi matang melalui pemberian pengalaman yang sistematik. Para master-spy dunia yang ada pada awalnya terbentuk dari para cantrik (apprentice). Melalui kedua sistem tersebut yang dibina secara serasi, bertahap dan berlanjut, para cantrik intelijen yang semula masih hijau dibangun keterampilan, kepercayaan diri, kemampuan, dan kepemimpinannya, dengan rajutan antara pelatihan kejuruan dan keahlian berbagai lika-liku seni intelijen dengan penugasan, dari tugas magang, tugas lapangan (field operative), lalu agen handler, kemudian middle analyst, sampai kepada senior analyst. Hasil dari itu semua akan melahirkan master-spy.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana sitem pendidikan dan pelatihan professional baik yang berupa ‘in-house’ maupun ‘out-house training’ ?
  2. Bagaimana pola ‘tour of area’ dan tour of duty’ (mutasi dan promosi) para pejabat BIN ?

Akibat iklim politik yang serba tidak menentu, bidang pembinaan karier kepegawaiaan yang belum mengacu kepada prestasi, yang juga berlaku pada aparat intelejen, telah mengendala kaidah itu. Para petugas dan pejabat intelejen, terutama yang berasal dengan latar belakang non militer berdasarkan ketentuan pemerintah harus mengikuti ‘pendidikan karier’ berjenjang regular pegawai negeri, seperti SPAMA, SPAMEN, dan SPATI, untuk mengapatkan kenaikan jabatan yang mengandung juga kenaikan tanggung jawab, sementara sebagaimana dinaklumi, sistem pendidikan karier pegawai negeri tersebut tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan peningklatan keterampilan profesionalisme intelijen yang seharusnya mereka peroleh dalam sistem pendidikan karir mereka. Sebaliknya, in-house training yang dilakukan oleh lembaga intelijen selama ini di bidang tradecrafts mereka ternyata tidak memiliki efek karier, belum mendapatkan pengakuan dari badan administrasi pembinaan kepegawaian negara, BAKN, kecuali sekedar sebagai credit points semata.

Sosok Intelijen

Bagian terpenting dari rangkaian pembinaan sumber-daya manusia untuk menjadikan seseorang sisik intelijen dalam rajutan pembinaan pendidikan dan pembinaan karier atas tadi bermula pada tahapan awal, yaitu recruitment.

Kekeliruan pada tahapan awal ini akan berdampak panjang. Pencarian bibit (talent-scouting) menjadi pengalaman penting dari usaha recruitment. Dari sederet panjang tuntutan yang mutlak ada pada tiap calon rekrut ialah integritas pribadi, loyalitas dan kemampuan profesional (professional competence).

Integritas pribadi merefleksikan sosok seorang yang jujur, dapat dihandalkan, satu kata dengan perbuatan, memikiki keberanian moral, adil dan bijaksana. Kesemuanya mutlak diperlukan, mengingat pekerjaan intelijen akan lebih banyak dilaksanakan dengan mengandalkan pribadi demi pribadi. Pengetahuan, analisis, dan laporan dari seorang sosok intelijen akan sangat tergantung pada judgement dari pribadi yang bersangkutan. Dengan kata lain, keberanian mengambil keputusan pada saat-saat kritis yang terkait erat dengan integritas pribadi seseorang.

Loyalitas menjadi tuntutan mutlak yang kedua. Loyalitas, atau kesetiaan, mengandung keteguhan akan komitmen seseorang kepada misi yang diembannya, kepada etika profesinya, kepada organisasinya, dan terutama kepada bangsa dan negaranya, diatas segala-galanya tanpa pamrih. Sosok dan lembaga intelijen tidak boleh menyimpangkan kesetiaannya kepada kelompok atau golongan, atau kepentingan-kepentingan sempit di luar kepentingan nasional.

Pertanyaan : Bagaimana mengawasi loyalitas para petugas intelijen dalam tugasnya kepada misinya dan sumpahnya?

Pengalaman keterlibatan badan-badan intelijen di masa silam dalam konflik-konflik yang bernuansa kepentingan kelompok dan politik aliran dari sejak awal sejarah republik sebagaimana dituturkan pada riwayat lembaga BRANI, KP V, PBI dan sebagainya, cukup menjadi pelajaran yang telah menorehkan trauma ke dalam tubuh bangsa, yang telah menjadikan badan-badan intelijen kita tidak terlepas dari trauma masa lalu, di mana sosok intelijen kerap cenderung memperlihatkan subjektifitas politik alirannya, primordialisme yang kental, sehingga tidak dapat menghindari diri dari perlibatan dengan kegiatan politicking dalam politik praktis.

BIN sebagai badan koordinasi intelijen negara, tidak peduli siapa pun yang memimpin dan kapan pun, pada dasarnya harus senantiasa terikat kepada misinya, yaitu menyampaikan informasi yang objektif dan faktual –pertimbangan tentang apa yang sepatutnya dilakukan atau tidak dilakukan– kepada presiden/kepala negara dalam rangka mengamankan segala upaya untuk “melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahterahan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan keterlibatan dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Pertanyaan : Bagaimana usaha Kepala BIN untuk menjamin agar badan-badan intelijen kita, khususnya BIN, tidak menjalankan politik kelompok, politik aliran dan atau primodialisme, yang selama ini telah menjadi trauma besar di kalangan masyarakat Indonesia?

Kemampuan profesional menjadi syarat mutlak ketiga menuju terbinanya sosok intelijen yang profesional. Professionalisme tidak terbatas hanya pada penguasaan teknis dari trade-craft intelijen. Di dalamnya terkandung kewajiban dan kemampuan untuk menegakkan etika profesi yang menjadikan intelijen menjadi profesi yang disegani dan terhormat, bukan pekerjaan yang menimbulkan rasa takut dan jijik. Profesionalisme menuntut dalam kegiatan intelijen penghormatan kepada hukum dan ketentuan yang berlaku, hak-hak asasi manusia, nilai-nilai budaya yang ada, karena negara yang kita impikan bukanlah negara polisi (police state) atau negara kekuasaan (machts staat) yang kekuasaannya didukung oleh polisi rahasia semacam Kempetai, Gestapo, GRU, atau Stazei. Badan-badan intelijen fungsional, diharapkan oleh rakyat agar “berhenti melakukan hal-ihwal di luar fungsi dan misi intelijen, dan terutama dengan kegiatan yang menzalimi rakyat.” Jangan sampai berlaku pemeo, “sukses di semua bidang, terkecuali di bidang intelijen.”

(Catatan : Oleh karena itu dalam upaya melakukan profesionalisasi sosok intelijen, dalam rekrutmen calon petugas intelijen di luar tiga tuntutan dan persyaratan tersebut diatas, badan-badan intelijen strategis mensyaratkan tenaga didik serendah-rendahnya strata-1; berkepribadian hangat dan menyenangkan-bukan yang berpenampilan sangar; mudah dan enak bergaul dalam berbagai lingkungan ; menguasai paling tidak satu bahasa asing, yaitu bahasa inggris, dengan fasih; mampu membangun struktur berpikir logis dan analitik; serta mampu menyampaikannya secara jernih baik secara lisan maupun tertulis).

Menengok perkembangan intelijen ke belakang dan memandang gelagat perkembangan lingkungan dalam dan luar negeri ke masa depan, usaha untuk melakukan reposisi kedudukan dan peran intelijen dalam kehidupan negara merupakan langkah yang perlu dan harus diambil, dengan secara jujur berusaha menarik pelajaran dari masa lampau serta dari kekurangan-kekurangan objektif yang masih ada di masa kini.

Acuan missi intelijen di masa depan harus terkait dengan usaha untuk mendukung komitmen bangsa, yaitu turut mengamankan terbentuknya, 1) masyarakat madani yang demokratik; 2) yang menghormati supremasi hukum; 3) mendukung terbentuknya pemerintahan yang bersih; 4) serta menjunjung tinggi pluralitas bangsa dalam wujud penghormatan kepada perbedaan dengan tetap berada dalam pigura Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pertanyaan : Untuk mewujudkan hal tersebut di atas, apakah Saudara Kepala BIN sepakat akan perlunya melegislasikan suatu ‘Undang-undang tentang Intelijen’, yang isinya menetapkan secara tegas tugas pokoknya (‘mission’), fungsi-fungsinya, bidang-bidang yang menjadi lahan garapannya, jenis tugas (‘tasks’) agar badan-badan intelijen kita tidak terjebak menjadi “polisi rahasia” yang bertentangan secara mendasar dengan prinsip negara kita sebagai negara hukum (‘recht-staat’); undang-undang itu perlu menetapkan kepada siapa ia bertanggung-jawab, bagaimana hubungannya dengan DPR, dari mana sumber alokasi anggaran belanja bagi lembaga intelijen, dan hal-ihwal yang berkaitan dengan tanggung-jawab administratif badan-badan intelijen.

Tantangan Baru – Cakrawala Baru

Tantangan masa depan bukan hanya berwujud ancaman fisik. Runtuhnya Tembok Berlin pada 1985 bukan hanya meniadakan dua kubu yang bersaing, yang nyaris akan meluluh-lantakkan dunia. Berakhirnya Perang Dingin dengan kemenangan blok Barat telah membuka pintu bendungan yang tak tertahankan, munculnya suatu fenomena baru, yakni globalisasi. Globalisasi, atau proses pensejagatan, terjadi berkat berlangsungnya revolusi dahsyat di bidang teknologi transportasi, telekomunikasi, dan informasi. Revolusi tersebut telah mengubah secara total konsep tentang ruang dan waktu. Dunia dibuatnya makin menciut. Kenichi Ohmae menyebutnya –a new borderless world– suatu dunia yang tidak lagi mengenal tapal-batas. 7) Tanpa tapal-batas gelombang informasi dalam era globalisasi mendorong proses uniformisasi umat manusia. Uniformisasi itu terutama berkiprah dalam visi dan aspirasi, seperti tampak pada gerakan perjuangan untuk menghormati hak-hak asasi manusia, demokratisasi, hidup yang lebih ramah lingkungan. Terhadap gejala uniformisasi tampak gerakan regionalisme yang kini tumbuh bak cendawan di musim hujan dan kian menguat, di Amerika Utara, Eropa, dan Asia (Timur, termasuk Tenggara), serta munculnya entitas non-negara yang ditujukan untuk kerja-sama ekonomi seperti WTO, APEC, ASEM, dan sebagainya.

Gejala yang memerlukan kewaspadaan dalam uniformisasi ini ialah terbentuknya entitas non-negara, di mana yang terpenting adalah menguatnya kesadaran kesetia-kawanan diaspora etnis Cina secara mondial maupun regional, yang kini bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia yang harus diperhitungkan. Di negara-negara tepian Pasifik, di luar RRC dan Taiwan, jumlah etnis Cina yang hanya 25 juta jiwa memiliki pendapatan 30 triliun dolar setahun, yang berarti delapan kali lipat GDP Cina Daratan yang berpenduduk 1,3 milyar jiwa.

Jaringan etnis Cina perantauan tersebut sangat rumit, terdiri dari jaringan-di-dalam-jaringan, baik jaringan berdasarkan she (marga), perkongsian, maupun negara, dimana mereka bertempat tinggal, yang terkait rumit satu dengan yang lain. Sudono Salim masih salah seorang ketua organisasi dari she Lim sedunia. Bersama-sama dengan Mochtar Riyadi keduanya menjadi anggota dewan penasehat dari perhimpunan etnis Cina perantauan sedunia yang bermarkas-besar di Chinese Heritage Center Singapura.

Dalam hubungan ini Lee Kuan Yew, menteri senior Singapura, dan para pemimpin Singapura, mengidap impian menjadikan Singapura sebagai ibukota para Hoa Xiao di dunia. Ketika terjadi Tragedi Mei 1998 menjelang tumbangnya Presiden Suharto, kerusuhan besar yang menimpa etnik-Cina di Jakarta, adalah Singapura yang paling kencang suaranya mengecam Indonesia dalam rangka memberikan kesan Singapura sebagai negara yang paling peduli dengan nasib etnik Cina Hoa Xiao.

Lalu apa kaitannya dengan solidaritas diaspora etnis Cina ini? Kekuatan duit mereka. Siapa saja yang ingin berpolitik butuh duit. Tetapi juga sebaliknya, duit menjadi basis dari kekuatan politik. Artinya, sewaktu-waktu kepentingan ekonomi dan atau keuangan dari kelompok etnis Cina perantauan terancam di salah satu atau beberapa negara klien, sudah dapat dipastikan akan ada reaksi berupa ramifikasi politik. Terpuruknya moneter, ambruknya perbankan, dan rusaknya ekonomi Indonesia, merupakan salah satu contoh dari kekuatan sistem senjata ekonomi. Tumbangnya rejim Orde Baru bukan karena ada divisi berlapis-baja menggelinding di jalan-jalan Thamrin atau Sudirman di Jakarta, atau penerjunan pasukan payung di lapangan Monas, atau berjatuhannya peluru-kendali di Cilangkap. Presiden Soeharto tumbang karena jatuhnya nilai rupiah, yang membuka pintu kepada krisis moneter dan kemudian ekonomi yang akut. Minat intelijen nasional harus disesuaikan dan dilebarkan antara lain dengan adanya tantangan berupa ancaman baru tersebut.

Duit juga menjadi faktor kuat yang mempengaruhi perumusan kebijakan nasional. Dalam hal ini contoh konkrit adalah ketika melalui tokoh-tokoh Hoa Xiao seperti Tong Joe, Tommy Winata, dan James Riyadi, Presiden Megawati mengeluarkan kebijakan R & D (Release and Discharge), kepada para obligor yang pada umumnya adalah konglomerat keturunan Cina yang melarikan diri ke Singapura, pembebasan dari kewajiban mengembalikan hutang-hutang mereka yang mencapai angka sampai 170 trilyun rupiah yang berasal dari Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) bermasalah. Bersama dengan penjualan Indosat kepada Singapura Telecommunications, dan keputusan untuk menaikkan tarif bahan bakar minyak (BBM), listrik dan telepon, kesemuanya telah menjadi pemantik demonstrasi-demonstrasi besar-besaran yang dilancarkan oleh mahasiswa, pemuda, buruh, pengusaha, kaum miskin dan ibu-ibu rumah tangga di Jakarta pada awal Januari 2003.

Kemudian masalah lain yang memerlukan perhatian adalah runtuhnya imperium Uni Sovyet pada tahun 1989 yang telah menampilkan Amerika Serikat sebagai satu-satunya super-power di dunia. Menanggapi peristiwa tersebut Amerika Serikat telah memutuskan untuk mempertahankan dan meningkatkan peran tersebut sebagai pemimpin dunia yang dipandangnya “lebih efektif ketimbang pemimpin Perserikatan Bangsa-bangsa.” Untuk itu, berdasarkan doktrin Bush yang disampaikan di depan kongres Amerika Serikat pada tanggal 20 september 2002, di dalam dokumen sebanyak 31 halaman derngan berjudul “The National Security Strategy of United States of Amerika”, Amerika Serikat harus meningkatkan upaya untuk memperluas kehadiran militer Amerika Serikat ke seluruh kawasan Eropa dan Asia, dengan membangun pangkalan yang semula hanya ada di 120 negara, diperluas menjadi 160 negara, untuk menjamin kedudukan dan peran White Americana, perannya sebagai pemelihara perdamaian dunia di bawah kekuaaan Amerika Serikat untul mengamankan kepentingan itu Amerika Serikat membentuk sebuah organisasi super-intelligence bernama ‘Proaktive Pre-Empitiv Organization Group’ (P2OG), dengan tugas melakukan operasi-operasi intelijen atas dasar ‘Pukul dahulu urusan belakang. Prinsip ini sesuai dengan ancaman presiden Bush kepada semua negara, “if you’re not with us, you’re against us (kalau tidak mendukung kami, anda adalah musuh kami). Serangan Bom Bali pada 12 Oktober 2002 dan Makasar pada 6 Desember 2002 merupakan bentuk dari kampanye intelijen proactive yang baru dari Amerika Serikat sebagaimana kata Menteri Pertahanan Donald Rumfield operasi semacam itu berjuang untuk memancing keluarnya ”tikus-tikus muslim radikal dari sarangnya.

Peran Intelijen Asing Di Indonesia

Makin meningkatnya operasi intelijen asing, terutama intelijen Barat di Indonesia, terlihat dengan munculnya propaganda hitam di situs internet TIME.com edisi 17 September 2002, yang menurunkan berita menarik tentang Omar Al-Faruq, sebagai awal dari suatu operasi intelijen yang sistemik untuk mengubah Indonesia tidak lagi menjadi “Mata rantai paling lemah di Asia Pasifik dalam rangka upaya memerangi jaringan terorisme international”. Munisinya adalah tentang hadirnya gerakan islam fundamentalis yang digerakkan oleh suatu organisasi, Jama’ah Islamiyah, yang gerakannya oleh kaum fundamentalis muslim warga negara Indonesia untuk mendirikan “super-state” Islam di Asia Tenggara. Tujuan akhir dari kampanye intelijen ini adalah untuk menguasai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kampanye anti-terorisme Amerika Serikat di Indonesia seluruhnya hanya didasarkan pada pengakuan Al-Farouq segera diikuti dengan pernyataan-pernyataan yang sifatnya menekan Indonesia dari para proxy Amerika, seperti “sheriff Amerika” John Howard dari Australia, “jurubicara” menteri senior Singapura Lee Kuan Yew, yang menuduh melalui majalah the Far Eastern Economic Review Hongkong, bahwa ada “ratusan gerakan Islam radikal di Indonesia yang berpotensi sebagai organisasi teroris.” Pernyataan Lee Kuan Yew itu menggebyah-uyah semua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia adalah organisasi teroris.

Konon menurut CIA Al-Faruq adalah tokoh kakap Al Qaedah di Asia Tenggara yang berhasil diciduk, dikesankan sebagai prestasi terpenting CIA di Asia Tenggara. Mengapa? Karena ia dinyatakan sebagai tangan kanan Usamah bin Ladin, yang mendapat tugas untuk mengkoordinasikan gerakan Islam radikal di Asia Tenggara. Ia tokoh penting terutama dengan kegiatan untuk mendirikan sebuah “super-state” Islam di Asia Tenggara. Ia disebutkan banyak menjalin hubungan drngan tokoh-tokoh Islam radikal Indonesia, antara lain dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, pemimpin pondok pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo. Ia juga adalah Amir Majelis Mujahidin Indonesia, yang dituduh sebagai “sayap” Al Qaedah di Indonesia.

Dalam dokumen CIA itu ada banyak nama Arab tokoh-tokoh Al-Qaedah yang berada dalam jaringan korespndensi Al Farouq. Antara lain, ada nama-nama Dr. Ayman Al Zawayhiri dan Mohammad Atef. Kedua tokoh puncak Al Qaedah itu dilaporkan pernah mengujungi Poso dan Ambon pada tahun 2000, dua tempat bergolak yang oleh CIA dituduh akan dijadikan sebagai basis baru Al Qaedah, sebagai Afghanistan kedua.

Dari laporan-laporan CIA yang dibocorkan melalui media massa, Amerika Serikat ingin membangun kesan bahwa jaringan Al Qaedah di Indonesia merupakan serius. Laporan itu juga mengatakan Al Qaedah berhasil membangun sebuah “kamp latihan militer” di Poso. Selain Poso ada tiga buah lagi di Kalimantan, antara lain sebuah di Balikpapan. Tanggal 18 Januari 2002 melalui juru bicara BIN Muchyar Mara mengulang kembali bahwa di Poso ada pusat kamp pelatihan teroris Islam meski berkali-kali dibantah oleh pejabat setempat.

Sekedar sebaagai contoh, pusat latihan militer kaum Islam radikal di Kalimantan yang disebut-sebut dalam laporan CIA itu ternyata pondok pesantren Hidayatullah, yang ada di desa Gunung Tembak, Balikpapan. Kampus pondok pesantren Hidayatullah itu terdiri dari suatu hamparan seluas 30 hektar dengan bangunan masjid, gedung pertemuan unum, ruang belajar, bedeng-bedeng perbengkelan mesin dan alat-alat pertanian, hamparan lahan ladang tempat para santri praktek bertani, sebuah danau buatan yang asri sebagai reservoir air bagi kawasan desa Gunung Tembak, dan asrama bagi santri putra maupun putri serta kawasan perumahan para ustadz. kawasan ini, karena design lengkapnya, pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru karena jasa-jasa Hidayatullah mengubah tanah gersang di sana menjadi lahan subur.

Bertetangga dengan pesantren Hidayahtullah di desa Mandar berdiri tegak pangkalan Yonif 600 Lintas-Udara, pasukan cadangan pemukul dari Kodam VI/Tanjungpura, dan agak ke selatan lagi berdiri basis kompi Kopasgat TNI AU yang bertugas mengamankan kawasan bandara internasional Sepinggan, Balikpapan. Di antara pangkalan-pangkalan ini dengan pesantren, yang dahulunya hanyalah hutan dan semak belukar, berkat bimbingan pesantren Hidayatullah. Itulah “pusat latihan militer” di Balikpapan menurut versi CIA.

Pertanyaan : bagaimana keterrangan dari kepala BIN tentang informasi tentang adanya kamp-kamp latihan kaum teroris di Poso dan Kalimantan yang dinyatakan oleh juru-bicara BIN Machya Mara?

Yang termasuk dalam daftar “wanted”- orang yang dicari di Indonesia menurut versi Amerika Serikat kalau diteliti ternyata adalah mereka yang turut memperjuangkan berlakunya syariat islam di Indonesia. Sebagai contoh, Agus Dwi Karna yang bersama-sama Tamsil Linrung mestinya sudah dibebaskan oleh pengadilan Manila, ternyata keputusan itu dicabut kembali dan tidak berlaku bagi Agus Dwi Karna, karena dia adalah ketua dari Laskar Jundullah, organisasi yang bernaung di bawah “panitia persiapan pelaksanaan Syari’at Islam Sulawesi Selatan”. Dosa dari ustadz Abu Bakar Ba’asyir, karena ia menyatakan mendukung gagasan ”berlakunya syari’at Islam bagi para pemeluknya” di Indonesia. Sebenarnya Agus, ustadz Ba’asyir, tidak sendirian. Banyak orang Indonesia dan bahkan beberapa Partai politik di Indonesia, masih terus memperjuangkan gagasan berlakunya syari’at Islam ”bagi para pemeluknya” di Indonesia, dan aspirasi itu sudah menjadi publik dan legal-konstitusional sejak bulan Juni 1945 dalam debat-debat terbuka di sidang Dokuritsu Zyoonbi Choosa-kai, kemudian di sidang konstituante pada tahun 1959, dan terakhir di sidang MPR 1999. Jadi apa salah mereka? Dan sampai dengan hari ini gagasan pemberlakuan syari’at Islam “bagi para peneluknya” di Indonesia masih menjadi wacana terbuka di tengah-tengah publik di Indonesia.

Pertanyaan :Sampai dengan hari ini pihak kepolisian belum juga berhasil mengungkapkan bukti-bukti keterlibatan dari Al Ustadz Abu Bakar Ba’syir dengan kegiatan terorisme sebagaimana yang dituduhkan oleh pihak keamanan selama ini. Bagaimana keterangan dari kepala BIN tentang tuduhan terhadap Al Ustadz Abu Bakar Ba’syir yang hanya berdasarkan testimoni tunggal ’in absentia’ dari seorang tokoh Omar Al-Faruq?

Pada tanggal 12 Oktober 2002 pukul 23.05 sebuah ledakan bom di Bali yang begitu dasyat, konon dilihat dari jumlah korban yang jatuh adalah yang kedua terbesar sesudah serangan terhadap gedung WTC New York. Bom yang meledak di depan Sari Night Club menewaskan 184 jiwa mencederai berat dan ringan 300-an orang, seratusan lagi hilang, menghancurkan atau merusak 47 buah bangunan, dan membakar seratusan kendaraan berbagai jenis.

Para pengamat dan para ahli demolisi pada umumnya berpendapat bahan-ledak yang digunakan di pantai Legian-Kuta itu bukan dari bahan konvensional. Tim investegasi gabungan Polri dan Australia berusaha melunakkannya dengan menyebutkan bahwa bahan ledaknya, yang semula dikatakan dari bahan C-4, kemudian diturunkan menjadi RDX, kemudian di turunkan lagi menjadi HDX, kemudian TNT, lalu bahan ledak yang diimprovisasi dari bahan pupuk dan akhirnya dari bahan karbit. Ada kesan perubahan keterangan tentang bahan-ledak agaknya dimaksudkan untuk meniadakan tudingan bahwa bom itu ulah dari kekuatan luar.

Ledakan bom Bali itu harus dibaca sebagai coup de grace kepada Indonesia yang melengkapkan hegemoni Amerika Serikat di Asia Tenggara. Bom Bali sengaja dibuat sedemikian hebatnya, bukan termasuk kategori bom lokal agar gaungnya mengglobal, sebagai pretext bahwa bangsa dibelakang peledakan itu adalah Muhammad Khalifah, adik-ipar Usamah bin Ladin, dari Al Qaidah. 8)

Ketika Presiden Bush mengancam negara-negara termasuk Indonesia dengan dalil “If you not with us, you’re against us”, ancaman itu tidak menyisakan alternatif lain, kecuali “ikut, atau menjadi musuh Amerika”. Terima wortel atau mau pentungan. Kebijakan satu arah semacam itu tidak membuka peluang bagi negara lain untuk mengembangkan politik nasional yang netral, politik yang bebas-aktif. Sikap Amerika itu telah menjadi ancaman terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan nasional Indonesia selama ini yang bebas dan berkedaulatan baik dalam pengembangan kebijakan dalam-negeri, luar-negeri maupun keamanan, yang tidak selalu searah dengan selera Amerika Serikat. Seorang Indonesianis, Daniel Lev, memberikan saran kepada pemerintah Indonesia, agar tidak terseret pada kepentingan asing jangka-pendek, dan lebih baik memberikan perhatiannya kepada kepentingan nasional Indonesia jangka-panjang.

Menghadapi dilema seperti itu, maka tidak ada pilihan lain bagi pemerintah dan badan intelijen nasional kita kecuali melaksanakan tugasnya dengan tetap mengacu kepada amanah konstitusi, “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” [SELESAI]

Dasar-dasar Intelijen ( I )

DASAR-DASAR INTELIJEN (BAGIAN 1)

Oleh : Letjend (Purn) Z.A. Maulani

(Mantan Kepala BAKIN)

Pengertian Dasar

Intelligence is knowledge, demikian secara generik menurut kamus. Jargon militer mengartikan – intelligence is foreknowledge. – kemampuan “weruh sadurunge winarah”. Meski intelijen diharapkan weruh sadurunge winarah, tatkala garis pertahanan Bar Lev Israel di Gurun Sinai hancur berkeping-keping pada ofensif Oktober 1973 oleh serbuan yang mendadak dari jenderal Sazely dalam Perang Ramadhan, orang hampir-hampir tidak bisa percaya bahwa badan intelijen Mossad yang legendaris itu ternyata tidak memiliki kawruh akan adanya ofensif di hari raya Youm Kippur sesuai dengan reputasinya yang digembar-gemborkan selama ini.

Ceritera tentang intelijen yang tertangkap basah, yang diperdaya oleh lawannya, yang bobol, bukan hanya dialami oleh Mossad dan Aman (badan intelijen pertahanan Israel) yang konon sakti mandraguna, tetapi dialami juga oleh badan-badan intelijen kondang dunia betapa pun handal dan canggihnya.

Sejarah keberhasilan yang legendaris dari raid “Tora, Tora, Tora” oleh sayap udara dari armada Kekaisaran Jepang yang melibas habis kapal-kapal armada pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbour pada bulan Desember 1941 dan menjadi pemantik Perang Pasifik, merupakan suatu operasi intelijen yang mempermalukan Amerika yang sungguh sangat monumental. Kejadian sedemikian tetap berulang berkali-kali, bahkan di penghujung abad ke-20 ini ketika badan-badan intelijen sudah makin sophisticated.

Ketika menjelang Natal pada 24 Desember 1979 sembilan divisi Uni Soviet, yang terdiri dari divisi berlapis baja ke-5, ke-54, ke-103, ke-104, lalu divisi mobil udara ke-105, serta divisi infanteri bermotor ke-66, ke-201, ke-357 dan ke-360, terdiri tidak kurang dari 45.000 orang prajurit melancarkan serbuan besar-besaran menyeberangi perbatasan Tajikistan menyerbu dan menduduki Afganistan, tiga badan intelejen Amerika Serikat paling canggih –-CIA, DIA (Defense Intelligence Agency) dan NIA (National Intelligence Agency)-– yang diawaki dengan personil yang paling terlatih dan paling berpengalaman, diperlengkapi dengan sarana penyadap elektronika dan pemantau satelit yang mampu mengawasi tiap jengkal permukaan bumi pada tiap saat, tiba-tiba saja oleh keberhasilan pendadakan itu tampak menjadi badan-badan intelijen paling konyol di dunia. Harap diingat, sembilan divisi bukanlah jumlah kekuatan yang kecil yang begitu saja dapat lolos dari pengamatan.1)

Contoh lain lagi. Ofensif Argentina pada tanggal 2 April 1982 terhadap kepulauan Falkland, atau Malvinas kata orang Argentina, adalah juga ceritera nyata betapa sebuah lembaga intelijen paling bergengsi seperti MI-6 Inggeris tertangkap basah tidak mampu mengantisipasi serangan dadakan tersebut sebelumnya. Jadi, badan-badan intelijen, yang paling canggih, paling berpengalaman, dan paling bergengsi seperti Mossad, CIA, MI-6, bahkan KGB sekalipun, ternyata bukanlah lembaga-lembaga dewa yang serba tahu dan serba bisa. Bahwa intelijen sebagai lembaga harus mampu menjalankan empat fungsi utamanya, yaitu –-to anticipate, to detect, to identify, and to forewarn-– secara mumpuni, memang itulah yang diharapkan.

Maka dari itu, ketika Pemerintah Orde Baru pada waktu yang lalu menginstruksukan untuk membangun “posko-posko kewaspadaan” guna mengantisipasi terhadap berbagai kemungkinan adanya dadakan kerusuhan sosial, perintah semacam itu tak pelak lagi merupakan suatu sindiran gaya Jawa terhadap komunitas intelijen, terutama dalam menjalankan keempat fungsi utama yang disebutkan di atas tadi. Kalau tidak, untuk apalah pula “posko-posko kewaspadaan” itu, meski kelemahan itu tidak terletak sebagai tanggung jawab badan-badan intelijen an sich. Dalam hal ini aparat pemerintah lainnya perlu diperiksa juga akan peran dan tanggung jawabnya, terutama berkenaan dengan efektivitas dari intelijen fungsional. Sehubungan dengan intelijen tersebut, tokoh guru peperangan gerilya Che Guevara memperingatkan dari dalam belantara Colombia, bahwa “informasi akan mengalir ke arah ke mana simpati rakyat diberikan.“ Barangkali kaidah besi ini harus menjadi peringatan bagi badan-badan intelijen kita juga.

Dari contoh-contoh di atas tadi, kenyataan empirik memperlihatkan kelemahan-kelemahan alamiah memang akan terus melekat pada badan-badan intelijen kapanpun dan dimanapun, karena kelemahan yang bersifat manusiawi. Kelemahan itu dapat bersifat struktural (artinya, bisa diperbaiki), bisa kultural (sulit diperbaiki). Meski dengan segala kemungkinan akan kelemahan yang ada, yang dapat membatasi kemampuannya, fungsi intelijen sejak zaman dahulu kala telah telah diakui menduduki peran yang menentukan. Sun Tzu (250 s.Masehi) telah menetapkan adagiumnya yang terkenal “Ketahui musuhmu, dengan mengetahuinya sudah separuh dari kemenangan”.2)

Intelijen – Profesi untuk Hanya Seorang Klien

Intelijen memiliki watak sebagai a professional with one client –profesi yang mengabdi hanya kepada seorang klien. Istilah tersebut mencerminkan bukan sekedar keunikan intelijen, tetapi juga keterkaitan berbagai perannya dengan fungsi-fungsi dari sekuriti nasional. Paling tidak ada enam fungsi-fungsi yang mengalir dari aspek sekuriti nasional. Fungsi-fungsi dari sekuriti nasional itu adalah :

  1. Membina kepastian hukum (legal surety);
  2. Membina ketentraman dan ketertiban masyarakat (civil order);
  3. Menegakkan hukum secara paksa (law enforcement);
  4. Membangun kemampuan pertahanan (defence capability);
  5. Melindungi masyarakat dari berbagai bencana, baik karena alam, kelainan, maupun kesengajaan (public safety from disasters); dan yang terakhir,
  6. Memelihara keamanan negara (state security);

yang masing-masing memiliki ciri-ciri masalah dan ancamannya sendiri-sendiri.3)

Karakterisasi ancaman menuntut adanya spesialisasi penanganan masing-masing. Spesialisasi intelijen terhadap fungsi-fungsi dari sekuriti nasional tersebut dimanifeskan ke dalam crime and law enforcement intelligence, yang dilaksanakan oleh badan intelijen kepolisian (seperti FBI, Spesial Branch, Intelpol, dsb). Fungsi berikutnya, yakni defence intelligence, dilaksanakan oleh badan badan intelijen pertahanan, mulai yang terbatas pada lingkup intelijen daerah pertempuran (combat intelligence) sampai kepada intelijen yang berlingkup strategis. Kemudian oleh berbagai intelijen yang ditujukan untuk melindungi masyarakat (intelligence for public protection) dari berbagai wujud bahaya yang tanggung-jawabnya dilaksanakan oleh departemen terkait (mulai dari lembaga pengawasan kegiatan vulkanologi, pengendalian banjir, penanggulangan kenakalan remaja, narkotika dan uang palsu, sampai kepada pengawasan lalu-lintas orang asing, dsb) serta untuk perlindungan kepentingan nasional yang lebih luas, yang mencangkup bidang politik, ekonomi, keuangan, sosial-budaya, serta keamanan sosial, yang dilaksanakan oleh badan-badan intelijen nasional (NIA, MI-6/5, BIN, dsb)

Pertanyaan :

  1. Berapa luas dan lingkup wewenang dan tanggung jawab dari BIN?
  2. Apa saja fungsi dari BIN?

Meski ada spesialisasi pada berbagai badan intelijen untuk beragam kepentingan tersebut, sebagai realisasi fungsi-fungsi sekuriti nasional pada berbagai tingkat dan wujudnya, kepentingan-kepentingan ini tetap memiliki keterkaitan satu dengan yang lain.

Oleh karena itu, peran dan fungsi koordinasi antar badan-badan intelijen yang ada itu tidak saja tidak boleh dinafikan, bahkan secara fungsional merupakan kebutuhan yang wajib dilakukan. Hambatan dan kelemahan utama dari badan-badan intelijen justru terletak pada fungsi koordinasi ada take and give dan prinsip intelijen tentang pemberian informasi hanya kepada mereka yang memang mutlak harus tahu (need to know basis), turut mengendala proses koordinasi. Masalah lain adalah menetapkan “siapa yang memang perlu tahu”. Kendala lain terhadap koordinasi, yang turut menentukan, lebih bersifat kultural, yaitu faktor subyektif dari badan-badan intelijen –persisnya tokoh-tokoh– yang terlibat. Faktor gengsi misalnya.

Koordinasi adalah kegiatan tukar-menukar keterangan mengenai masalah-masalah yang “tidak jelas” atau “tidak diketahui” atau “perlu diketahui bersama”. Sementara kaum intelijen adalah sosok yang acapkali harus menampilkan kesan yang serba tahu. Oleh karena itu untuk menghindari embarrassment akan hal semacam itu, banyak bos-bos intelijen yang sebenarnya memerlukan exchange of notes, konsultasi, atau koordinasi dalam rangka memerlukan informasi yang ada di tangan mereka, acap kali merasa enggan dan kalaupun terpaksa, cukup mengirim wakil dari eselon rendahan saja, yang biasanya tidak memiliki mandat untuk memutuskan sesuatu.

BIN yang di dalam fungsinya menyandang fungsi mengkoordinasikan kegiatan intelijen pada lingkup nasional dikabarkan mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi koordinasinya di antara badan-badan intelijen yang ada.

Pertanyaan : Apa kendala yang menyebabkan kesulitan dalam menjalankan fungsi koordinasi oleh BIN terhadap badan-badan intelijen lain?

Lalu, rivalitas (persaingan) yang inheren atau melekat di dalam tubuh berbagai badan-badan intelijen menjadi faktor lain lagi yang mengendala usaha koordinasi dan sinkronisasi dalam rangka mengefisienkan kegiatan badan intelijen yang ada. Berbeda dengan kompetisi (yang juga berarti persaingan dalam bahasa indonesia), di mana di dalamnya perjuangan merebut prestasi dilaksanakan tanpa merugikan pihak-pihak yang bersaing, rivalitas adalah persaingan yang kadangkala tanpa perlu memperebutkan prestasi, justru bertujuan untuk menimbulkan kerugian pada pihak pesaing lainnya. Rivalitas adalah permainan zero-sum-game. Keadaan yang merugikan ini bisa bertambah parah bila penguasa politik menggunakan rivalitas itu untuk power balancing penguasa. Ciri dari sistem demikian, berbagai kelompok kepentingan bertarung untuk memperebutkan kedekatan atau untuk memperoleh favorit dari penguasa.

Untuk beberapa waktu lamanya badan-badan intelijen di Indonesia, tanpa perkecualian, tidak lain hanyalah instrumen untuk mencapai kepentingan politik. Badan inteljen yang bekerja secara professional untuk single client organization yang pernah ada adalah BRANI (Badan Rahasia Nasional Indonesia), dari tahun 1945 sampai 1950.

Lembaga intelijen Indonesia yang pertama, Badan Istimewa BKR, disusun setelah selesainya penyelenggaraan Pendidikan Penyelidik Militer Khusus dibawah Letnan Kolonel Zoelkifli Loebis, yang menjadi kepala Tjabang Chusus (staf intelijen) BKR (Badan Keselamatan Rakyat). Badan Istimewa BKR diresmikan pada tanggal 6 Oktober, 1945 di Cileungsi, Bogor, sehari setelah pemerintah meresmikan BKR sebagai badan keamanan dari Republik yang baru lahir. Ketika ditanyakan tentang hal itu Zoelkifli Loebis menyatakan tidak ingat lagi kapan Badan Istimewa BKR itu diresmikan. “Saya tidak ingat tanggal pembentukannya. Yang jelas sesudah 17 Agustus 1945 dan sebelum 5 Oktober 1945,” ucap bapak intelijen Indonesia ini. 4)

Letnal Kolonel Zoelkifli Loebis merekrut 40 orang opsir PETA mantan lulusan Seinen Dojo (Pusat Pelatihan Pemuda), yang kemudian diikutkan dalam pelatihan intelijen oleh Zanchi Yugeki-tai (Satuan Intelijen Bala Tentara Ke-16) sebagai kader intelijen. Latihan para kader intelijen itu hanya berlangsung tidak lebih dari seminggu lamanya, ditekankan terutama pada intelijen lapangan dan teritorial, seperti pengumpulan informasi militer, sabotase dan perang urat saraf. Tenaga pelatihnya terdiri dari para perwira dari badan intelijen Jepang Sambobu Tokubetsu-han (Beppan), seperti Letnan Yanagawa, Letnan Tsuchiya, Letnan Yonemura dan seorang muslim Jepang Abdul Hamid Nobuharu Ono, yang dikenal dekat dengan perwira-perwira BKR, Selain Zoelkifli Loebies sendiri yang pernah bertugas sebagai perwira intelijen di Singapura.5) Ketika pusat pemerintahan publik dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta, Badan Istimewa BKR diubah namanya menjadi BRANI (Badan Rahasia Nasional Indonesia) yang secara administratif menginduk ke Kementerian Pertahanan dan secara operasional memiliki akses langsung kepada Panglima Besar Soedirman dan Presiden Soekarno. Pemimpinnya tetap Zoelkifli Loebis. BRANI melanjutkan melakukan pelatihan terhadap beratus pemuda dalam rangka membentuk FP (Field Preparation).

Tugas FPI itu macam-macam, seperti sabotase, propaganda dan perang urat saraf, penggalangan perlawanan terhadap Belanda, menyusup ke daerah lawan, hingga penyelundupan senjata. “Pokoknya, kami ini intelijen tempur sekaligus teritorial” ujar Letnan Jendral Soetopo Joewono, mantan kepala BAKIN yang menjadi anggota BRANI.6) Untuk mendukung kepentingan politik, misi BRANI kemudian tidak terbatas pada intelijen militer saja, tetapi diperluas kepada intelijen politik dan strategis.

Pada masa Amir Sjarifoeddin menjadi perdana menteri pada April 1947 lembaga intelijen ini dirombak menjadi KP V (Kementerian Pertahanan V). Satuan-satuan intelijen yang berada di luar struktur militer, yakni yang berada di bawah kepolisian dan kejaksaan pada masa sebelum perang, dimasukkan kedalam jajaran kementerian pertahanan pada staf yang berbeda. Seksi-A (bekas BRANI) diserahkan di bawah kepemimpinan Kolonel Abdoerahman, orang kepercayaan Amir Sjarifoeddin, sedangkan Zoelkifli Loebis menjadi wakilnya. Amir Sjarifoeddin dan Abdoerahman kemudian hari terlibat dalam Peristiwa Pengkhianatan PKI di Madiun pada 1948.

Setelah perang kemerdekaan usai, ketika Pemerintah Republik kembali ke Yogya, KP V dibubarkan dan sebagai gantinya dibentuk intelijen Kementerian Pertahanan (IKP). Di bawah menteri pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dalam posisi sebagai kepala IKP, Zoelkifli Loebis membentuk BISAP (Biro Informasi Angkatan Perang), yang bertugas menyiapkan informasi strategis kepada menteri pertahanan dan pimpinan militer.

Setelah terjadi peristiwa 17 Oktober 1952 IKP “digembosi”. Peran intelijen pada lingkup nasional dilakukan oleh SUAD-I. Pada tahun 1959 Presiden Soekarno membentuk sebuah badan intelijen baru di tingkat nasional, Badan Pusat Intelijen (BPI), yang dipimpin langsung oleh menteri luar negri Soebandrio. Dibawah kepemimpinan Soebandrio, BPI dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh kaum komunis dan simpatisannya. BPI menyusup ke dalam Departemen Hankam, Komando-Komando Militer, dan badan-badan pemerintahan lainnya untuk tugas mengamati lawan-lawan politik Presiden Soekarno. Untuk pertama kali sebuah badan intelijen seperti BPI secara sengaja diarahkan dan digunakan sebagai sebuah instrumen politik dengan tugas khusus untuk mengawasi dan menghabisi lawan-lawan pemerintah seperti yang lazim berlaku di negara-negara yang bercorak otoriter.

Dengan tumbangnya kekuasaan Presiden Soekarno, dan bangkitnya Rezim Orde Baru pada tahun 1965, BPI dibubarkan.sebuah badan intelijen baru dibentuk, yaitu Komando Intelijen Nasional (KIN) pada tahun 1966, tetapi sebelum berusia setahun KIN dibubarkan dan digantikan oleh BAKIN (Badan Koordinasi Intelejen Negara) di bawah pimpinan Kolonel, kemudian Letnan Jenderal Yoga Sugama. Presiden Soeharto tidak sepenuhnya percaya dan menyandarkan dirinya pada BAKIN. Ia membentuk sebuah jaringan Intelijen lain sebagai saingan BAKIN di bawah kendali mayor Jendral Ali Murtopo dengan Operasi Khusus (Opsus)-nya, di luar pengetahuan Bakin maupun staf intelijen Departemen Pertahanan Keamanan/Markas Besar ABRI, serta komando pemulihan keamanan dan ketertiban (Kopkamtib) yang ada pada waktu itu. Dalam melaksanakan tugas intelijennya Ali Murtopo bertanggung jawab langsung kepada Presiden Soeharto. Selain itu di luar Opsus, Presiden Soeharto masih membentuk dan mengendalikan jaringan intelijennya sendiri.

Ali Moertopo merupakan tokoh kepercayaan Presiden Soeharto sejak tahun 1948. Ia adalah tokoh yang dikirimkan oleh Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Kostrad, pada tahun 1965, tanpa sepengetahuan Presiden Soekarno, untuk menemui Des Alwi di Bangkok dalam rangka menjajagi kemungkinan mengakhiri ‘Konfrontasi’ dengan Malaysia. Sejak saat itu Ali Moertopo dengan Opsus-nya ditugasi untuk menangani bidang-bidang khusus politik, diplomasi, dan bisnis, di bawah kendali langsung Presiden Soeharto.

Permainan yang dijalankan Ali Moertopo tidak senantiasa sejalan dengan kepentingan tentara, yang dipresentasikan oleh Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro, yang didukung oleh BAKIN. Persaingan antara Opsus dengan Kopkamtib berakhir dengan show down pada 15 Januari 1978, yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) yang berakhir dengan lengsernya kedua tokoh, baik Ali Moertopo maupun Jenderal Soemitro, dari arena politik.

Sesudah Peristiwa Malari Presiden Soeharto memanggil Brigadir Jenderal Benny Moerdani dari posnya di Seoul untuk menggantikan Ali Moertopo. Ia diangkat sebagai asisten intelijen Dephankam /ABRI, dan mengambil alih kepemimpinan CSIS dari tangan Ali Moertopo. Pada waktu itu Pusintelstrat (Pusat Intelijen Strategis) yang berada di bawah kendali asisten intelijen Dephankam/ABRI, berfungsi hanya sebagai “lembaga pusat” dengan tugas pokok terbatas pada merumuskan doktrin dan menyelenggarakan latihan semata. Jenderal Benny Moerdani tidak puas dengan hal itu, dan mereorganisasikan “tenaga pusat” itu menjadi sebuah ‘badan’ -agency- yakni BAIS (Badan Intelijen Strategis) ABRI dengan tugas-tugas yang sangat luas. Di bawah kepemimpinan Jendral Benny Moerdani BAIS tidak saja merambah sampai kepada perumusan politik luar negeri (yang membuatnya tidak disenangi oleh kalangan Pejambon), tetapi terutama ia berhasil menyakinkan Presiden Soeharto untuk memberikannya kewenangan melaksanakan sesuatu “operasi tertutup” melakukan invasi ke Timor Portugis pada tahun 1975. Kegiatan operasi itu sedemikian tertutupnya sampai-sampai Menhankam/Pangab Jenderal Surono tidak mengetahuinya sampai detik-detik terakhir Hari–H serbuan, yang dengan sekaligus menandai berakhirnya peran Opsus yang masih melakukan kegiatan intelijen di timor portugis dengan nama sandi “Operasi Komodo”.

Untuk “mensinergikan operasi-operasi intelijen” sesudah peristiwa Malari, Presiden Soeharto kemudian menempatkan Jenderal Benny Moerdani sebagai Waka BAKIN, di bawah Jenderal Yoga Sugama. Berdalihkan bahwa BAKIN hanyalah sebuah “badan koordinasi”, maka struktur organisasinya “dilangsingkan” dengan menjadikannya sebuah organisasi yang tidak menjadi badan intelijen yang berfungsi melakukan operasional intelijen secara penuh. Tugas pokoknya lebih ditekankan pada koordinasi. Barangkali karena alasan tersebut, ketika saya mengambil alih pimpinan BAKIN pada bulan April 1999, sarana operasional seperti untuk intelijen komunikasi-elektronika, dan organ untuk operasi lapangan tidak ada. Fungsi komunikasi-elektronika diturunkan menjadi hanya sebuah seksi yang berada pada detasemen markas, yang bertugas untuk pelayanan internal. Karena tiadanya organ operasional lapangan, “laporan intelijen” yang saya terima dari staf, yang diharapkan berisi “analisis” dari intelijen matang, tidak lebih berupa guntingan dari berbagai koran nasional. Sementara itu badan intelijen militer, BAIS, mengendalikan operasi dan kegiatannya mulai dari intelijen lapangan, teritorial dan intelijen strategis, dengan fokus terutama pada intelijen politik dalam negeri. Dalam melaksanakan tugasnya, kadang kala kegiatan intelijen merambah kepada bidang-bidang dan tindakan-tindakan yang dikemudian hari membuat nama “intel” tidak terlalu harum di masyarakat.

Intelijen- Kegiatan Mencari Jawaban Terbaik

Tadi di awal pembicaraan telah dikemukakan bahwa kegiatan intelijen terkait erat dengan proses pengambilan keputusan, pelaksanaan, serta pengendalian hasilnya. Keputusan yang baik ditentukan oleh tersedianya informasi yang benar, faktual, cermat, obyektif, lengkap, terkini, dapat tepat waktu.Dengan kata lain, intelijen adalah kegiatan mencari jawaban terbaik guna mendapatkan solusi terbaik. Untuk memperoleh jawaban terbaik itu, maka pengorganisasian intelijen menuntut segala yang terbaik dalam segenap aspeknya. Sulit untuk mendapatkan jawaban terbaik bila organisasi intelijen tidak mampu melaksanakan fungsi-fungsi dasarnya sekalipun, seperti contoh yang dialami oleh BAKIN tadi.

Organisasi intelijen tidak lain hanyalah sekedar sarana untuk menjalankan misinya. Misi organisasi intelijen, seperti organisasi-organisasi lainnya ditentukan lingkungan strategisnya, tugas utama dan khusus yang dipikulkan keatas pundaknya, serta tantangan yang sedang dan bakal dihadapinya. Mengingat wataknya sebagai organisasi yang mengabdi hanya untuk seorang klien, badan intelijen harus tajam pada spesialisasinya. Organisasi yang terlampau luas dan lebar tanggung jawabnya dapat terjebak kedalam perangkap tahu sedikit tentang banyak hal.

Di bidang intelijen pertahanan konon banyak hal Indonesia masih perlu berbenah diri. Salah satu fungsi dari intelijen pertahanan, misalnya saja di bidang survaillance udara dan maritim, yang belum mampu kita tangani dengan memuaskan. Beberapa kawasan Tanah Air, seperti Laut Natuna, Selat Malaka, Laut Sulawesi, serta laut-laut di kawasan timur Indonesia, tetap masih merupakan black areas untuk intelijen kita. Bukan saja karena kawasan-kawasan tadi belum terliput secara penuh dan efektif oleh sistem jaringan radar kita, juga kalaupun sarana deteksi tersebut tersedia, beberapa faktor baik jenis, kemampuan, dan usia sudah tidak lagi memenuhi kebutuhan sekarang. Beberapa radar buatan Rusia yang sudah jompo tidak memiliki suku cadang lagi. Beberapa lagi, seperti radar Plessey dan Thomson tidak kompatibel satu sama lain, sehingga saling tidak mampu memberikan peringatan dini yang merupakan inti fungsinya suatu jaringan radar. Padahal kemampuan peringatan dini dan deteksi dini dari sistem jaringan radar, baik di atas daratan maupun dibawah permukaan air, akan sangat menentukan kemampuan unsur-unsur surveillance udara dan maritim yang juga masih sanngat terbatas dalam jumlah, kekuatan, dan kemampuannya- dalam rangka membangun pagar pertahanan tanah air yang dapat diandalkan. Jangan lupa, wilayah nusantara yang harus kita lindungi sekarang ini telah meningkat tiga kali lipat, dari yang semula hanya dua juta kilometer persegi kini menjadi enam juta kilometer persegi, sebagai akibat bertambah luasnya wilayah tanggung-jawab keamanan dengan kawasan zona ekonomi eksklusif.

Intelijen bukan hanya berurusan bagaimana mengamati partai-partai politik, tetapi juga bagaimana harus mampu menegakkan hak-hak kedaulatan nasional di lautan dari pelanggaran lalu-lintas ilegal, penyelundupan dan kejahatan di laut, termasuk antara lain pencurian kekayaan laut yang kini telah mencapai triliunan rupiah, maupun ancaman penggerogotan terhadap garis-garis batas nasional. Lautan telah menjadi frontier baru yang menuntut perhatian, karena berkaitan dengan bukan hanya hari ini, tetapi masa depan anak-cucu kita.

Sementara itu negeri ini terbuka telanjang oleh pengamatan pihak-pihak lain melalui geo-stationary orbiting surveillance satellite yang diperlengkapi baik dengan alat pendengar elektronika serta thermal dan satelit fotografik, yang mampu mengamati, menyadap berita, dan memotret sampai detil mulai dari nomor kendaraan pasukan darat, di nomor lambung kapal-kapal yang ada di permukaan laut, jumlah dan jenis pesawat yang masih air serviceable, sampai pada semua pergerakan latihan maupun operasi pasukan-pasukan darat, laut dan udara, mulai dari Aceh, sampai dengan Papua. Kesibukan badan-badan intelijen dengan politicking selama ini telah menjadikannya alpa membangun intelijen pertahanan yang akhirnya akan menentukan kemampuan kita mempertahankan dan melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tanah tumpah darah Indonesia dengan sebaik-baiknya.

Keterbatasan kemampuan udara strategis serta telekomunikasi elektronika sangat menghambat kemampuan intelijen strategis di lapangan. Pekerjaan tersebut selama ini terbatas dilakukan secara terbuka oleh para petugas di perwakilan-perwakilan di luar negeri. Tetapi bila saatnya mengharuskan untuk melakukan pengumpulan keterangan secara senyap di daerah yang bermusuhan, maka kemampuan itu patut dipertanyakan. Barangkali unsur intelijen strategis masih mampu melaksanakan misi infiltrasi, tetapi pekerjaan eksfiltrasi terhadap pasukan tersebut setelah misi berakhir masih merupakan tanda tanya besar. Apresiasi intelijen yang menyatakan dalam tempo sepuluh tahun ke depan tidak akan ada perang sungguh telah menina-bobokkan kita. Bahwasanya contoh-contoh tentang pecahnya perang dadakan seperti di Falkland, Afganistan, Teluk, dan sebagainya, seharusnya tidak mengizinkan suatu angkatan perang alpa dalam mempersiapkan dirinya. Bukankah, si vis pacem para bellum. Titik-titik ledak yang eksplosif berada di tepian Pasifik, seperti semenanjung Korea, kepulauan Daoyu-tai, selat Taiwan, sengketa di pulau-pulau atol Spratley, dan sebagainya, bisa saja terjadi peluberan, karena hampir semuanya berbatasan langsung dengan zona ekonomi eksklusif Indonesia yang menempati posisi silang.

Pertanyaan :

1. Apakah BIN ada menjalin kerja-sama dengan badan-badan intelijen asing untuk mengatasi kekurangan sarana surveillance tersebut di atas?

2. Dengan badan-badan intelijen asing siapa saja dan dalam bidang apa saja?

  1. Menurut informasi alat informasi pada camera-recorder imigrasi di Bandara Cengkareng dipasok oleh pihak Amerika Serikat, dengan catatan mereka berhak menerima hasil pengamatan lalu-lintas orang di Bandara kita?

Apa bentuk kerja-sama BIN dengan badan-badan intelijen asing tersebut dalam “pemberantasan terorisme” di Indonesia, serta peran dari badan-badan intelijen asing tersebut di Indonesia? (BERSAMBUNG)

PRESIDEN IDAMAN

1.Ir.Soekarno :  18 August 1945 – 12 March 1967
2. H.M. Suharto :  12 March 1967 – 21 May 1998
3. Ir.B.J. Habibie :  21 May 1998 – 20 October 1999
4.Abdurrahman Wahid : 20 October 1999 – 23 July 2001
5. Megawati Sukarnoputri : 23 July 2001 – 20 October 2004
6. Susilo Bambang Yudhoyono : 20 October 2004 – 2009

sebuah pemikiran panjang tentang karakter presiden yang diinginkan rakyat, sesuai dengan kondisi negara dan jamannya.

IR. Sukarno benar2 pas dengan karakternya saat itu dalam memimpin negara ini, walaupun kurang pas pada akhir masa jabatannya dan ada beberapa nilai kontroversi yang sengaja dimunculkan untuk membunuh karakter Sukarno.

sebenarnya, Suharto adalah pemimpin yang pas pada jamannya, jika tidak terkontaminasi oleh kepentingan ego2 disekeliling beliau.

IR Habibie dan Gus Dur adalah right man in the wrong place,dan Megawati adalah wrong man/woman in the wrong place.

SBY sebenarnya mempunyai potensi untuk mengarahkan negara ini ke arah yang lebih baik, jika beliau mempunyai team yang pas dan bisa bersinergi.

tanpa mengurangi rasa hormat, Jusuf Kalla adalah pasangan yang sangat tidak pas dilihat dari sisi manapun, walaupun kerjasama keduanya adalah hasil dari keputusan politik kedua partai.

presiden idaman indonesia adalah orang yang :

- mengenal dirinya sendiri

- mengenal Tuhannya

- mengenal lingkungannya

- mengenal wilayah yang dipimpinnya

- mengenal rakyatnya ( walaupun sulit untuk diwujudkan)

- cerdas dalam berfikir, berrencana dan bertindak

- bijaksana dalam berkata, bersikap dan mengambil keputusan

semoga para pemilik kriteria ini segera bertindak cepat dalam mengangkat keterpurukan kondisi mental dan fisik bangsa dan negara kita yang tercinta ini.

intelejen

definisi :

suatu kegiatan pengumpulan informasi dengan beberapa tekhnik untuk diproses, dirumuskan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

infrastruktur :

- suber daya manusia

- tekhnologi

jayalah negeriku

sebagai anak bangsa, kita generasi penyambung masa depan negeri ini harus bangun dari tidur, bangkit dari keterlelapan kemajuan jaman yang meninabobokkan dan mengikis kecintaan dan keperdulian generasi harapan bangsa.

semoga blog ini mengisi daftar ikhtiar dari beberapa pemilik sejati lagu indonesia raya untuk bersama-sama perduli dan membangun negeri tercinta ini.