KONTROVERSI SOEKARNO

 Memed Jafareksa

 

KRONOLOGIS BARANG-BARANG AMANAH SOEKARNO:

trilyun USD Peninggalan Bung Karno (dikenal dng Barang Amanah BK)

 

1). Pd Awal Abad 17 ASET HARTA Raja2 & Kesultanan Nusantara (Cirebon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makasar, Bone, Goa, Luwut,Ternate, dLL,) Dalam Nilai Ratusan Trilyun USD (dalam bentuk emas,logam mulia,berlian,dsb) diSimpan di Bank Zuchrigh (bagi yang tau,tlg di revisi nama Bank-nya) – Jerman (karena pada saat itu Jerman adalah negara makmur, menguasai DUNIA & Bank tsb adalah yg tertua di Jerman)

 

2). Pd Thn 1620 Nusantara di JAJAH BELANDA selama 3,5’Abd. Bgi Kesultanan / Raja2 Nusantara yg Melawan Belanda, DATA Administrasi HARTA di Bumi Hanguskan, Hanya bagi Kerajaan Amangkurat I tetap memiliki DATA UTUH, Krn PnJiLat Blanda.

NOTTE:

Salah satu bukti Amangkurat I sbg penjilat Belanda : Pangeran Girilaya – Raja Cirebon II selaku menantu dari Raja Amangkurat I, atas tipuan ‘Undangan Makan’ ternyata Raja Cirebon II beserta kedua putranya yg berumur 11 & 9 thn ditahan selama 10 thn, hingga wafatnya Raja Cirebon II yg dimakamkan di Girilaya. Atas wafatnya Raja Cirebon II, Sultan TRUNUJOYO diutus untuk menjemput kedua putra mahkota tsb untuk menggantikan tahta Kerajaan Cirebon. Dgn melalui peperangan, akhirnya Trunojoya berhasil membawa Putra Mahkota yg kedua/adiknya. Sedangkan Putra Mahkota yg pertama/kakaknya,diamankan oleh paman dr Ibunya ke Gn.Lawu. Hingga akhirnya berdiri Kerajaan Cirebon mnjadi dua kesultanan,yaitu; KANOMAN & KASEPUHAN.

 

3). Pd Th 1939, AS Setting “Bung Karno” untuk Menata ASET Raja2 Nusantara dan Pngalihan HAK atas nama Pribadi SOEKARNO.

NOTTE:

a].PENYERAHAN HIBAH REKAYASA dilakukan oleh Raja SoLo & Yogya yg Mengatasnamakan Raja2 Nusantara. Selanjutnya Aset Ke 2 RAJA Tsb UTUH/TDK DI HIBAHKAN.

b].HAK AHLIWARIS RajaNusantara, SPESERPUN NIHIL (tdk menerima hak waris).

 

4). Th.1944 Berdirilah BANK DUNIA atas DASAR COLETRAL ASET RajaNusantara!! Dengan dana tsb, Bank Dunia memberikan pinjaman kepada 40 Negara. Semenjak itu AS semakin KUAT utk CETAK UANG & SUSUN STRATEGI PERSENJATAAN utk menguasai dunia.

 

5). Th.1945 ‘PD.-II. JEPANG MNYERAH, Mbri Kmerdekaan.

Beberapa fakta :

a]. Bung Karno dlam salah satu pidatonya pernah berkata (kurang lebih) “..kalau Jepang tidak menyerahkan kemerdekaan kepada kita,maka saya akan minta AS utk mem-bom Jepang..”

b]. Bung Karno diangkat Jdi KETUA PBB, Bukankah pada Waktu itu org Asing Banyak yg Lebih Pintar dr Bung Karno? “TDK ANEH LAGI”. Krn Brdirinya Bank Dunia berasal dr Aset RAJA NUSANTARA. Smp saat ini,tidak ada jabatan Ketua PBB selain Bung Karno,yang ada hanyalah SEKJEN.

NOTTE:

Th.45′ utk Bngun NEGARA Klau Bung Karno JUJUR & BENAR (TDK AMBISIUS), Hrsnya Kumpulkn Sultan2 Nusntara Utk diberi tahu Klau Buyutnya (Raja Nusantara) pd Abd.17’SimpnHrta di Bank Juchrigh-Jerman. Knpa Bung Karno BUNGKAM….?

 

6). Antara thn ’50 – ’53,Bung Karno memberikan PELIMPAHAN COLETERAL kepada Kolega & Keluarganya,yg berasal dari ASET RAJA2 NUSANTARA yg dihibahkan atas nama pribadi Bung Karno. Skrg byk yg sdh pd Balik Nama.

 

7). Th.54, sebagian sisa Dana Koleteral tsb dibagi2kan dalam bentuk AMANAH kpd 73 org Tkoh Negara & Ulama, Krn Ada Kpentingan POLITIK PRAKTIS. Th.55 Pmilu Pertama, Bung Karno diangkat Presiden “SEUMUR HIDUP”

NOTTE:

a]. Penerima PELIMPAHAN COLETERAL mendapatkan Royalti, namun pemegang AMANAH tdk mendapatkan Royalti. Siapakah yg Nikmati Royalti atas Dana Coleteral dr Bank Dunia? Siapa Lagi Kalau Bukan Colega & KLrgnya.

b]. Perlu Pndirian “LEVARN” / Lembaga Executive Verifiksi AsetRaja Nusantra

c]. MKSD+TJUAN: AtsTrsimpannya Aset Raja Nusantra, baik Milik Rja/Ksultanan: Cerbon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Mksar, Bone, Goa, Luwut,Trnate, dLL, yg disimpn pd Awal Abd.17diBank Zuchrigh – Jerman dg Nilai RatusnTrliyun USD yg telah diHibahkan ke Pribadi Ir.Soekarno (Rekyasa JO. AS), Utk MODAL AWAL Pmbentukan BANK DUNIA, kini sdh pd Balik nama bgi a/n Kelrga & Coleganya (di_Luar AMANAH). Hrs Di VERIFIKASI/ Tata Juridis FormiL Utk Ktetapn HAK bgi Ahli WARIS & NEGARA.

d]. Dlm Prtemuan Para Sultan SeIndonesia diBali pd thn lalu. Selaku Ahliwaris Mengharapkan KEADILAN HAK, atas HartaYg di Gelapkan. Smg Para AMANAH dLL, Mnyadari ats Kganjilan Hibah tsb.

 

8). Mngapa BK Keluar dr PBB & Pidatonya antara Th 1959 s/d 1963, Ber-API2 ANTI IMPERIALIS, ANTI NEKOLIM..! Krn ColetraLnya TERNYATA TDK BS DICAIRKAN & DIGUNAKAN UTK PEMBANGUNAN NKRI sesuai dgn REPELITA yg telah diprogram. Alias dipersulit oleh AS

 

9). AS berkepentingan untuk membungkam Bung Karno,selain krn alasan Dana Coleteral tsb, juga krn Bung Karno membentuk POROS SEGITIGA Peking-Jakarta-Pyongyang. Selanjutnya melalui KONSPIRASI & tipu daya,AS bertindak sebagai DALANG atas lengsernya Bung Karno.

 

10). Tiga org Jendral (yg terlibat dlm gerakan BAWAH TANAH buatan AS) memaksa Bung Karno untuk Menandatangani SUPERSEMAR.x

NOTTE:

Kemudian isi Supersemar di-UBAH (dipalsukan) & diserahkan kpd Soeharto. Soeharto tdk mengetahui ttg PEMALSUAN Supersemar tsb & menjalankan Supersemar dng baik. Soeharto baru mengetahui hal tsb skitar thn ‘80an. Namun sdh terlambat & SEJARAH sdh terlanjur dituliskan…. (CERITA LENGKAP AKAN DITULISKAN DLM TREAD TERSENDIRI)

 

11). Soekarno lengser & DALAM PERKEMBANGANNYA MEMBAWA Soeharto menjabat sebagai Presiden RI.

 

12). Skitar Th. 1995, 7 orang pemegang SURAT AMANAH dr Soekarno, menghadap Soeharto agar Pemerintah dapat menggunakan Dana Coletral tsb utk pembangunan RI.

NOTTE:

Dana Coletral tsb (yg ada di Bank Dunia) tdk dpt dicairkan,namun dapat digunakan untuk Jaminan Cetak Uang. Soeharto mengajukan ijin utk pencetakan IDR atas Jaminan Dana Coletral tsb.

 

13). Dilakukan Sidang Moneter Internasional,dng salah satu agenda utk membahas rencana pencetakan IDR oleh pemerintah RI. 10-negara menolak utk memberikan ijin (termasuk AS & sekutunya),sisanya mengijinkan. Atas dasar voting,maka pemerintah RI diijinkan utk mencetak uang sebesar “Rp. 20.000 trilyun” dng jaminan 5 Coletral (Salah satu Coletral tsb adalah milik Kerajaan Cirebon sebesar 13.000 trilyun)

NOTTE:

AS tdk memberikan ijin,krn khawatir Soeharto akan membangkitkan DUNIA ISLAM. Krn thn 1987 Yayasan AmalBaktiMuslimPancasila sdh mulai merintis & menggalakkan bantuan utk pembangunan masjid di sluruh Ind.

 

14). Pencetakan uang dilakukan di Jerman & Israel (pemenang tender adalah Australia). Disisi lain AS & sekutunya mulai melakukan KONSPIRASI utk merusak stabilitas Ekonomi Indonesia.

 

15). Maret 1997, secara bertahap IDR sdh mulai masuk ke Ind (masih berstatus atas nama Amanah yg ditempatkan di luar gudang BI). Baru sekitar 9% IDR tsb yg diregristasi oleh BI,terjadilah KRISIS MONETER krn Goerge Soros melakukan transaksi PEMBELIAN RUPIAH secara besar2an yg dibayar dgn USD. IDR dicetak dalam cetakan uang plastik pecahan Rp.100.000,- thn cetakan 1997.

NOTTE:

Pak HArto berencana dlm periode 1998 – 2003, TrySutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden. Thn 2000 Pak Harto membuat pondasi sbg landasan kuat dlm pembanguna tinggal landas utk take off menuju ADIL & MAKMUR. Thn 2002 Pak Harto berencana utk mengundurkan diri & dilanjutkan oleh wakilnya Try Sutrisno sbg presiden.

 

16). AS semakin gencar melakukan konspirasi,sadar ataupun tdk sadar byk unsur masyarakat yg sdh masuk dalam TIPU DAYA & skenario AS.

NOTTE:

a].Byk mahasiswa, rakyat yg merasa idealis & menuntut lengsernya Soeharto. Namun sesungguhnya mrk tidak sadar bhwa ini semua adalah skenario AS utk menurunkan Soeharto.

b].Bberapa Tokoh Boneka Politik bentukan AS, yaitu 4 org yg dikenal dgn sebutan “SMAG”

c].Terjadinya KERUSUHAN MEI,yg dikoordinir oleh seorang tokoh pemuda atas cetakan SMAG.

 

17). Soeharto lengser & BJ Habibie menjabat sbg presiden RI.

 

18). Smua IDR pada akhirnya smp di Indonesia, Pak Harto memerintahkan 49org JENDERAL (7org Jenderal Bintang-4 & 42org Jenderal Bintang-2) utk mengamankan gudang2 IDR yg masih bersatus atas nama Amanah.

 

19). BJ Habibie dipolitisir oleh AS utk realisasi Referendum di TimTim, dng janji apabila terlaksana dng ‘JUJUR & ADIL’ maka Habibie akan didukung utk menjabat sbg Presiden RI utk selanjutnya.

NOTTE:

Hasil jajak pendapat diMANIPULASI (yg dihitung di Gd.Putih-AS,tdk dihitung di lapangan) & berujung pada lepasnya TimorTimur dr NKRI. Itulah jatuhnya Habibie dampak tertipu politik praktis. Karena Habibie sejatinya bukan org misi AS, melainkan Habibie adalah Jerman-isme.

 

20). Boleh dikata,semenjak itu PEMERINTAHAN hanya menjadi boneka AS & tdk mampu utk lepas dr cengkraman AS.

 

21). ..PENTING..

a]. Ariflah dlm menyikapi tulisan ini. Bangsa Indonesia sngat beruntung telah memiliki 2 org PUTRA TERBAIKNYA yaitu SOEKARNO & SOEHARTO.

b]. Rapatkan barisan,jgn mudah teradu domba oleh KONSPIRASI AS & sekutunya. Tumbuhkan jiwa PATRIOTIK kita,karena bisa jadi..melalui KONSPIRASI AS, lahan perang AFGHANISTAN & IRAK dapat terjadi di TanahAir yg qta Cintai ini..

c]. Atas Cronologis Harta SOEKARNO tsb. Pd Prinsipnya KITA, para PEMEGANG AMANAH & penerima PELIMPAHAN COLETERAL, perlu utk Menyadari Bahwa Pelaksanaan HIBAH ASET RAJA NUSANTARA, Kpd Pribadi Bung Karno adalah “CACAD HUKUM”

e]. Brg_Amanh BK’ Bkn urusan Qt,melainkan Urusan KARUHUN, dan itu semua hanya Panggung Sandiwara.

 

22) TAMBAHAN

Bagi pembaca yg mengetahui sebagian atapun keseluruhan dr fakta ini (Keluarga Pemegang DANA KOLETERAL, penerima AMANAH, Jenderal PENJAGA gudang IDR, ahli waris RAJA NUSANTARA, staf perbankan, dsb) silahkan beri komentar atau masukan.

SALAM INDONESIA..!!

Menafsir ulang makna intelijen

Mendengar kata ‘intelijen’, pertama kali yang tergambar dan terlintas dalam benak kebanyakan orang, hampir bisa dipastikan adalah sesuatu yang berhubungan dengan mata-mata atau spionase, militer, keamanan dan stereotip lainnya. Padahal intelijen tidak hanya urusan spionase, militer, dan keamanan. Memang kegiatan mata-mata merupakan salah satu bagian dari aktifitas intelijen. Sangat tidak utuh dan terlalu naif kalau kita melihat intelijen hanya sekedar urusan mata-mata atau nginteli (dalam bahasa Jawa red).

Distorsi pemaknaan terhadap intelijen di masyarakat kita, terutama bagi mereka yang pernah mempunyai pengalaman kurang baik (korban) akibat ekses dari kegiatan intelijen dimasa lalu (lebih khusus di era Orde Baru) dapat dimaklumi. Mereka mungkin pernah mengalami trauma akibat tindakan represif aparat dilapangan. Selain urusan mata-mata, asumsi umum juga mengatakan, intelijen tidak lebih hanya sebagai alat penguasa untuk mengawasi dan mematai-matai kelompok-kelompok kritis, seperti mahasiswa, LSM, aktifis partai, organisasi buruh dan belakangan kelompok keagamaan yang dicurigai sebagai kelompok teroris.

Hal ini berbeda dengan persepsi masyarakat di berbagai negara lain. Seperti Amerika Serikat, China, Singapura, Israel, Inggris dan negara-negara di Eropa lainnya. Bahkan kurikulum pelajaran anak Sekolah Dasar di Singapura, 25 persennya intelijen minded. Di AS, banyak dijumpai film dengan latar belakang lika-liku kehidupan seorang agen intelijen, di Inggris ada James Bond, di China ada ahli strategi perang legendaris Sun Tzu yang banyak mengilhami doktrin-doktrin intelijen. Pendeknya, di negara-negara maju dan kuat, intelijen tidak dipandang sebelah mata. Intelijen merupakan faktor penting untuk membangun negara bangsa agar kuat dan mampu berkompetisi serta eksis ditengah persaingan global.

Tidak heran bila ada ungkapan; kuat dan tidaknya negara tergantung pada dari kuat dan tidaknya institusi intelijen yang dimiliki oleh negara tersebut. AS mempunyai Central Intelligence Agency (CIA) yang kegiatan intelijennya hampir 90 persen diluar negeri. Itu berarti, sasaran attacking intelligence CIA adalah negara kompetitor dan penggalangannya dilakukan ke berbagai negara dibelahan dunia demi kepentingan nasional AS. Isarael mempunyai Mossad yang diakui kehebatannya oleh dunia. Bayangkan, negara kecil yang hidup dikelilingi oleh musuh-musuhnya (negara-negara Arab) bisa eksis sampai sekarang. Lalu bagaiamana dengan intelijen kita?

Perlu Penafsiran Ulang

Persepsi yang kurang tepat terhadap istilah intelijen saya kira perlu diluruskan, agar intelijen ditempatkan pada kerangka pemahaman yang sesuai dengan proporsinya. Sehingga ketika mendengar kata intelijen, tidak lagi dipandang secara sinis dan negative thinking. Pemahaman yang benar atas makna intelijen sangat penting dalam rangka membangun iklim yang kondusif dan sinergis antara masyarakat dan komunitas intelijen negara. Sebab intelijen itu hanya untuk mengabdi kepada negara yang berkewajiban untuk menSejatinya, intelligence attacking hanya ditujukan kepada pihak lawan, musuh dan kompetitor yang dipandang berpotensi dan dapat mengancam keselamatan serta kepentingan nasional negara. Rakyat, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya bukanlah musuh negara, namun sebaliknya warga negara yang harus dilindungi hak-haknya.

Lalu makhluk apa sebenarnya intelijen itu? Dari segi bahasa, kata intelijen berasal dari bahasa Inggris yaitu intelligence yang artinya kecerdasan. Jadi intelijen sebenarnya lebih dekat dengan wilayah kecerdasan, pikiran atau otak, bukan hanya mengandalkan kekuatan otot semata. Jadi kalau kita mendengar kata-kata perang intelijen, berarti yang dimaksud tidak jauh dari sekitar perang urat syaraf, perang pikiran, perang psikologis dan perang secara tidak kelihatan atau perang yang tidak nampak (silent warfare). Kesemua jenis perang tersebut, tidak mengandalkan pada perang fisik dengan melakukan penggelaran militer, namun kesemuanya menggandalkan taktik dan strategi pikiran yang membutuhkan kecerdasan (meski perang militer juga menggunakan taktik dan strategi).

Jadi, intelijen bisa didefinisikan sebagai kegiatan mengumpulkan informasi, data, fakta, dan bahan keterangan baik secara terbuka maupun tertutup (namun kebanyakan dengan cara tertutup atau rahasia). Setelah informasi tersebut diperoleh, kemudian dianalisa, dievaluasi dan difafsirkan untuk disajikan kepada end user atau pengambil kebijakan sebagai pihak pengguna jasa intelijen. Informasi yang sudah dianalisa disebut merupakan produk intelijen, yang berupa prediksi atau prakiraan terhadap situasi dan kondisi yang akan terjadi dimasa datang dalam jangka pendek dan menengah. Selain prediksi, produk intelijen juga berisi saran tentang problem solving atas suatu persoalan.

Dari sinilah analisa intelijen itu sangat penting sekali. Seorang analis intelijen harus benar-benar menguasai persoalan dan mempunyai kapasitas intelektual yang multidisplin agar menghasilkan produk intelijen yang baik. Produk intelijen yang dihasilkan pada dasarnya adalah peringatan dini terhadap ancaman (early warning system) sebagai langkah untuk menghindari apa yang disebut pendadakan strategis (strategic surprise). Muatan dari produk intelijen yang kedua adalah bagaimana memenangkan sebuah persaingan, hal ini banyak dipergunakan dalam intelijen bisnis atau competitive intelligence.

Membumikan Intelijen Minded

Makna filosofis yang dapat ambil dari definisi intelijen secara proporsional dan tepat adalah adanya cara pandang dan cara berfikir yang berwujud dalam sebuah tindakan yang berlandaskan pada nalar intelijen yaitu antisipatif dan prediktif dan pola laku intelijen yaitu cepat dan tepat (velox et exactus). Disaat kita mampu memprediksi suatu keadaan yang akan terjadi dimasa datang dengan berbagai data, fakta dan informasi yang kita peroleh, maka kita harus melakukan antisipasi. Perkiraan terhadap kondisi dimasa datang akan sangat tergantung sejauhmana kita mampu memahami dan mengetahui pada masa lalu dan masa kini. Sedang pola laku yang cepat dan tepat, harus melekat dalam diri insan intelijen karena ia sangat berhubungan dengan masalah informasi. Disinilah saya kira pentingnya membumikan intelligence minded dalam masyarakat kita yang bertumpu pada peringatan dini, penyelematan dan memenangkan persaingan.

Mengapa intelligence minded perlu dibumikan dalam masyarakat kita. Pertama; karena bicara intelijen tidak hanya urusan mata-mata saja (spy), tetapi lebih dari sekedar itu. Yakni, keberadaan intelijen karena dibutuhkan untuk mensupport pengambil kebijakan yang berdampak pada kepentingan publik. Kedua; seiring perkembangan zaman, para pengguna jasa intelijen tidak hanya sebatas negara saja (state intelligence), tetapi berbagai perusahaan swasta dan organisasi lainnya. Ketiga; intelijen merupakan sebuah ilmu pengetahuan. Memasuki abad 21 ini, intelijen dimasukkan dalam disiplin ilmu tersendiri, setelah sebelumnya hanya dilihat sebagai proses dan kegiatan didalam dunia yang gelap, tertutup dan serba rahasia. Sebagai ilmu pengetahuan, intelijen secara spesifik meneliti pada empat variabel pokok yaitu; organisasi intelijen, tingkah laku agen atau aktor intelijen, kegiatan intelijen dan produk intelijen. Namun belakangan, sesuatu yang terkait dengan ancaman dan penyelematan sebuah perusahaan atau koorporasi dan organisasi swasta lainnya dapat dimasukkan dalam penelitian intelijen.

Keempat; kondisi bangsa dan masyarakat kita yang akhir-akhir ini mudah untuk diadu domba, lemah secara ekonomi dan politik, susah berasatu, saling menyalahkan, miskin nasionalisme, mudah mengadopsi ide-ide dari luar, kehilangan jati diri dan masih banyak lagi yang berhubungan dengan mental dan karakter masyarakat kita, terutama elit penguasa pengambil kebijakan yang tidak juga membuat tanda-tanda bangsa kita akan menjadi bangsa kuat, maju, memenangkan persaingan, melindungi segenap tumpah darahnya. Disinilah pentingnya membumikan intelijen minded dalam masyarakat kita, terutama pada level akar rumput. Sebab siapa tahu, saat ini para elit penguasa kita, kelompok menengah kita, intelektual kita, pengusaha kita dan bahkan aparat kita sendiri telah menjadi agen dari kepentingan bangsa dan negara lain. Kenapa Malaysia, Singapura, Australia, dan tentu AS berani semena-mena dan meremehkan kita, dan mengapa pula bangsa kita selalu rebut di dalam ibarat katak dalam tempurung?

anjing menggonggong curiga ?

anjing tidak menggonggong juga curiga ?

wallahu alam…..

JOYOBOYO’S VISION

KITAB JOYOBOYO & RONGGO WARSITO – BABAD TANAH JAWA

Bangsa ini telah meninggalkan sejarah. Apa yang dikatakan Bung
Karno : “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah)” telah
terabaikan. Padahal yang terjadi saat ini merupakan hasil dari
perjalanan sejarah. Dan apa yang terjadi saat ini telah
diprediksikan oleh para leluhur kita Prabu Jayabaya dan R.Ng.
Ronggowarsito, yang mana hasil karya mereka merupakan ayat-ayat
Allah. Perlu kiranya saya sampaikan cuplikan terjemahan bebas dari
karya mereka :

A. Prabu Jayabaya (Kitab Musarar) :

18. Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi kemudian berganti gajah
meta semune tengu lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga
tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya
rakyat adalah.
Keterangan :
Lung Gadung Rara Nglikasi : Raja yang penuh inisiatif dalam segala
hal, namun memiliki kelemahan suka wanita (Soekarno). Gajah Meta
Semune Tengu Lelaki : Raja yang disegani/ditakuti, namun nista
(Soeharto).
19. Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah
sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkhasiat, pemerintah
rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat
ditolak.
20. Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri
sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka.
Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram.
Keterangan :
– Bupati berdiri sendiri-sendiri : Otonomi Daerah.
– Jaman Kutila : Reformasi
– Raja Kara Murka : Raja-raja yang saling balas dendam.
– Panji Loro semune Pajang Mataram : Dua kekuatan dalam satu kubu
yang saling ingin menjatuhkan (Gus Dur – Megawati ).
21. Nakhoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya.
Sarjana tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan
diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu,
randa loro nututi pijer tetukar.
Keterangan :
– Nakhoda : Orang asing.
– Sarjana : Orang arif dan bijak.
– Rara Ngangsu, Randa Loro Nututi Pijer Atetukar : Ratu yang selalu
diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya
(Megawati).
22. Tan kober apepaes, sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang
yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang
Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.
Keterangan :
Tan Kober Apepaes Tan Tinolih Sinjang Kemben : Raja yang tidak
sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan
(SBY/Kalla).
23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak
membuat kenyang. Hasilnya berkurang. Orang jahat makin menjadi-jadi,
orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan
negara.
24. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-
ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat
dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan
Tuhan dan orang tua.
25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang
seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada
tanda negara pecah.
26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa
dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian
raja Kara Murka Kutila musnah.
27. Kemudian kelak akan datang Tunjung Putih semune Pudak
kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar
Raja Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam
persidangan.
Keterangan :
– Tunjung Putih semune Pudak Kesungsang : Raja berhati putih namun
masih tersembunyi (Satriya Piningit).
– Lahir di bumi Mekah : Orang Islam yang sangat bertauhid.
28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah
Jawa. Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran.
Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
Keterangan :
– Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa : Orang Islam yang sangat
menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa.
29. Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya
diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan
raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.

B. R.Ng. Ronggowarsito :

Dipaparkan ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh
yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas
wilayah “bekas” kerajaan Majapahit , yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo
Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput
Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong
Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan
Wahyu.

Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba
menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :

1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan
penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu
keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat
tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini
ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama
Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin
Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.

2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin yang
berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan
mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga
selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung
Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto,
Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang
ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang
diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau
transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang
dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga
Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.

4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara /
keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang
mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa
Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman
Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-
2000.

5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa
kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang
dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden
Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.

6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah
tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka
gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro).
Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini
adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini
dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan
Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis
sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi
seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai
terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan
mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana
alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus
terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.

7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat
Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan
(Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum /
petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya
kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman
keemasan yang sejati.

3. Dari kajian karya-karya leluhur kita di atas menyiratkan bahwa
segala sesuatunya memang harus dan akan terjadi dan tidak dapat
ditolak. Sementara berkaitan dengan bencana terakhir yang terjadi,
yaitu meletusnya Gunung Merapi yang kemudian disusul dengan Gempa
Yogya dan Pangandaran, serta Semburan Lumpur Panas Sidoarjo yang tak
kunjung berhenti merupakan realita ucapan “Sabda Palon” kepada Prabu
Brawijaya dan Sunan Kalijaga.

Berikut ini saya paparkan Ramalan Sabdo Palon :

1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad
tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan
pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang
bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda-
Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih
baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang
Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa.
Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa.
Sudah digaris kita harus berpisah.

4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang
Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan
mengganti agama Budha (maksudnya Kawruh Budi) lagi, saya sebar
seluruh tanah Jawa.

5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi
makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila
belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya
kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan
laharnya.

6. Lahar tersebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah
pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda
(Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi
takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila
diubah lagi.

7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun:
Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah
datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya
menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah
kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada
ditangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini
ada yang membuatnya.

9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang
bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah
hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya
tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak
yang hilang di hutan.

10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang.
Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab
orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis
banyak maling tapi siang hari banyak begal.

11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan.
Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan
keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya
musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah
Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati.
Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-
pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat
persis lautan pasang.

13. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan
kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai
terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh
suaranya.

14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan
serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak
yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur
lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia.
Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke
dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang
sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh.
Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang
sebentar tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alamnya. Prabu
Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara.
Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala
itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Keterangan :
Tanggal 13 Mei 2006 lalu bertepatan dengan hari Waisyak (Budha) dan
hari Kuningan (Hindu), Gunung Merapi telah mengeluarkan laharnya ke
arah Barat Daya (serta merta pada waktu itu ditetapkan status Merapi
dari “Siaga” menjadi “Awas”). Dari uraian Ramalan Sabdo Palon di
atas, maka dengan keluarnya lahar Merapi ke arah Barat Daya
menandakan bahwa Sabdo Palon sudah datang kembali. 500 tahun setelah
berakhirnya Majapahit (Th 1500 an) adalah sekarang ini di tahun 2000
an.

4. Sampai dengan redanya, letusan Merapi hanya memakan korban 2
orang meninggal. Sebelum letusan itu Sri Sultan Hamengkubuwono X
menyatakan bahwa Merapi akan meletus dalam waktu 10 hari, ternyata
tidak terbukti. Karena ucapan yang mendahului kehendak Allah
(ndisiki kerso) yang tidak sepatutnya dilontarkan secara vulgar oleh
seorang “raja”, maka Jogja pun digoyang gempa (disusul Pangandaran)
yang banyak memakan korban jiwa dan harta benda. Bahkan kita semua
tidak tersadar bahwa Merapi sebenarnya tetap meletus, namun
berpindah tempat di Sidoarjo dengan semburan lumpur panasnya yang
beracun. Semburan lumpur panas ini merupakan peristiwa yang sangat
luar biasa yang dampaknya akan banyak menyedot dana dan memakan
korban jiwa. Secara penglihatan spiritual, teknologi apapun dan
kesaktian paranormal/ulama se-nusantarapun tidak akan mampu
menghentikan semburan lumpur ini. Bahkan peristiwa ini akan
berpotensi memicu terjadinya chaos (goro-goro) yang pada gilirannya
akan dapat menjatuhkan pemerintah. Sementara bencana-bencana ini
akan terus berlanjut. Hanya seorang Waliyullah (kekasih Allah) saja
yang dapat meredakan semuanya. Namun sayang, orang seperti ini
selalu saja sangat tersembunyi.

5. Semua peristiwa alam yang terjadi adalah merupakan peristiwa
gaib, karena semua terjadi karena kehendak Yang Maha Gaib, Allah Aza
wa Jalla. Sehingga tidak dapat dilawan dengan kesombongan akal
pikiran. Solusi atau jawaban tentang apa yang terjadi pada bangsa
ini sebenarnya telah ada di dalam misteri bait-bait Ramalan
Joyoboyo, R.Ng. Ronggowarsito maupun Sabdo Palon. Kebenaran selalu
saja tersembunyi. Kata sandi dari jawaban misteri ini adalah :
JOGLOSEMAR. Joglo telah runtuh, yang ada tinggal Semar. Inilah
hakekat kondisi negara saat ini.
Sebagai panduan perlu saya garis bawahi kata kunci yang ada di dalam
bait-bait karya leluhur kita, yaitu :

1. Di dalam ramalan R.Ng. Ronggowarsito menyiratkan bahwa Satria VI
(Satriyo Boyong Pambukaning Gapura) harus menemukan dan bersinergi
dengan seorang spiritualis sejati satria piningit (tersembunyi) agar
kepemimpinannya selamat.

2. Dalam bait 22 ramalan Joyoboyo dikatakan “Di Semarang Tembayat
itulah yang mengerti dan memahami lambang tersebut.”

3. Dari ucapan Sabdo Palon dalam ramalan Sabdo Palon tersirat bahwa
dengan fenomena alam yang digambarkan (seperti yang terjadi saat
ini) menandakan bahwa Sabdo Palon beserta momongan (asuhan) nya
telah datang untuk mem-Budi Pekertikan bangsa ini (secara rinci
terdapat di dalam Serat Darmogandul). Sabdo Palon secara hakekat
adalah Semar.

4. JOGLOSEMAR = Jogja – Solo – Semarang. Dari peristiwa gempa Jogja
telah membuktikan bahwa kerajaan Mataram Jogja & Solo sudah tidak
memiliki aura lagi. Hal ini terbukti dengan hancurnya Bangsal Traju
Mas (tempat penyimpanan pusaka kerajaan) dan Tamansari (tempat
pertemuan raja dengan Kanjeng Ratu Kidul). Hal lain adalah robohnya
gapura makam HB IX (Jogja) dan PB XII (Solo) di kompleks makam raja-
raja Imogiri, sebagai perlambang bahwa Keraton Jogja – Solo sudah
tidak memiliki aura dan kharisma. Sehingga yang tersisa
tinggallah “Semarang” (Mataram Kendal).

6. Sebagai masukan kepada Yang Mulia Presiden SBY guna mengatasi
carut marut yang terjadi pada bangsa ini, saya menyarankan :
“Kumpulkan ahli-ahli Thoriqoh negeri ini yaitu mursyid/syeh-syeh
yang telah mencapai maqom “Mukasyafah”,  serta
kasepuhan waskito dari Keraton Jogja & Solo, untuk bersama-sama
memohon petunjuk kepada Allah SWT mencari siapa sosok orang yang
mampu mengatasi keadaan ini dan mencari jawab dari misteri ramalan
para leluhur di atas. Gunakan 4 point panduan saya untuk memandu
mereka. Insya Allah, jika Allah Aza wa Jalla memberikan ijin dan
ridho-Nya akan diketemukan jawabannya.”

sejarah kilas pencak silat

Pencak silat tidak diragukan lagi merupakan salah satu budaya bangsa yang sangat berperan dalam sejarah perjuangan bangsa ini dari sejak jaman kolonialisme sampai jaman perang kemerdekaan. Awal mula Sejarah mencatatat bahwa manusia mengembangkan kemampuan beladiri untuk bertahan hidup, kemampuan beladiri ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Beberapa aliran kuno di nusantara memiliki hikayat dan metos bagaimana aliran itu di ciptakan yang sebagian besar nenek moyang kita belajar beladiri kepada binatang atau mengikuti tingkah polah binatang (seperti pada mitos silat cimande, silat bawean, silat melayu). Sebagian besar di lukiskan belajar pada tingkah binatang seperti monyet, macan, ular dan burung.

Beladiri pada perkembangannya digunakan pula sebagai alat untuk memperluas kekuasaan dan mempertahankan kedaulatan kelompok masyarakat yang pada akhirnya pemahaman dan penguasaan beladiri dan kesaktian menjadi sarat untuk menentukan posisi sosial dan politik di masyarakat kala itu. Demikian pula dengan kerajaan – kerajaan di nusantara dimana beladiri ini di ajarkan di lingkungan terbatas dan tidak di ajarkan secara bebas kepada masyarakat umum.

Tercatat kerajaan kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit kala itu memiliki bala tentara yang sangat cakap dalam berperang dan ahli dalam beladiri sehingga bisa memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas pada jamannya. Demikian pula dengan kerajaan Sunda Pajajaran yang tercatat pernah mengalami pertikaian dengan Majapahit pada kasus Puputan Bubat dimana tercatat dalam sejarah semua pengiring putri Pajajaran bertempur sampai darah penghabisan dengan menggunakan paling tidak 7 jurus silat yang di kuasai para pasukan Pajajaran kala pertempuran Bubat terjadi.

Pengajaran silat

Pencak silat mulai berkembang dan melembaga sebagai salah satu mata pelajaran pada masa itu hanya di ajarkan di lingkungan keraton dan lembaga mandala. Di keraton dan istana silat diajarkan pada lungkungan keluarga istana, penggawa sampai pasukan perang. Sedangakan di mandala, silat dan ilmu kebatinan di ajarkan para pendeta dan rohaniawan kala itu, rakyat jelata tidak bisa belajar beladiri begitu saja. Ada status social dan ada aturan yang membatasi penyebaran ilmu beladiri dan kanuragan pada masa itu.

Pada masa awal islam masuk ke bumi nusantara kebiasaan pengajaran beladiri di wiyatamanda ini dilanjutkan, dengan mengajarkan juga silat dan beladiri di lingkungan pesantren guna membantu penyebaran agama islam kala itu. Sehingga akhirnya rakyat bisa mendalami pencak silat ini dan peranan pesantren dan kerajaan islam kala itu sangat besar dalam membantu penyebaran silat di nusantara.

Kebiasaan ini melekat sampai sekarang, budaya solat dan silat masih di pegang teguh pada silat betawi dan Sumatra, kebiasaan berlatih silat di halaman surau setelah shalat isya sampai jam 24 malam menjadi hal yang biasa. Keterikatan antara guru dan murid disimbolkan dengan pengangkatan anak sasian pada silat minang, dimana murid di angkat sebagai anak dari guru. Istilah “lahir silat mencari kawan dan bathin silat mencari tuhan” menjadi sangat popular di tanah minang. Bahkan tinggal di surau dan bersilat sudah merupakan ‘Live Style‘ bagi para pemuda minang kala itu.

Masa kolonialisme

Silat mulai digunakan sebagai alat perjuangan ketika masa kolonialisme, dimulai dengan pengusiran pasukan Portugis dari Batavia oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahilah, tercatat puluhan ribu pasukan dari mataram, Cirebon dan sekitarnya bergerak guna menghalau pasukan Portugis dari Batavia.

Belum lagi perjuangan masyarakat Banten dalam mengusir Belanda yang menghasilkan kebudayaan Debus. Kebudayaan ini dulu di gunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri pasukan Banten dalam melawan pasukan Belanda. Pertempuran antara Banten dan Belanda ini berakhir setelah Belanda melakukan politik adu domba yang mengakibatkan ratanya istana kerajaan Banten.

Perjuangan melawan kolonialisme tidak luput dari penggunakaan silat sebagai alat untuk membela bangsa kala itu, tercatat pertempuran yang paling besar dalam sejarah kolonialisme belanda adalah perang Diponegoro yang menyebabkan kebangkrutan dari VOC.

Kyai Mojo yang merupakan guru sekaligus penaset spiritual Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda dan di buang ke daerah Tondano di Sulawesi utara. Di Tondano ini beliau tinggal di daerah Jaton (Jawa Tondano) beserta para pengikutnya yang kemudian mengajarkan pelajaran agama dan beladiri pada masyarakat sekitar yang sampe saat ini masih dilestarikan dan dikenal dengan Silat Tondano yang sampai sekarang masih di kembangkan dengan nama “Perguruan Satria Kyai Maja”.

Pada masa kolonialisme pengajaran silat di awasi dengan ketat karena di anggap membahayakan keberadaan penjajah kala itu, intelegen sangat memperhatikan siapa saja yang bisa silat dan mengajarkan silat kepada masyarakat dianggap membahayakan dan di jebloskan kepenjara. Ini sangat berpengaruh pada pola pengajaran pencak silat, sehingga pengajaran silat beladiri mulai sembunyi sembunyi dan biasanya di ajarkan dalam kelompok kecil dari rumah ke rumah pada malam hari.

Belanda juga memanfaatkan para jawara dan ahli silat yang mau bekerja sama dengan belanda untuk menjadi opas dan centeng guna menjaga kepentingan para meneer dan tuan tanah kala itu, sehingga tidak jarang terjadi pertikaian dan pertempuran antara para jawara silat ini dengan para pendekar pembela rakyat jelata. Kisah pitung menjadi satu legenda yang terkenal di masyarakat Betawi karena keberaniannya melawan para jawara dan kompeni guna membantu rakyat yang lemah.

Karena pengawasan sosial ini pulalah, maka mulailah di kembangkan silat seni dan ibingan, guna menutupi kesan silat sebagai beladiri, Atraksi ibingan silat ini sangat terkenal dan di tunggu tunggu oleh masyarakat. Orang bisa melihat atraksi silat di upacara perkawinan atau khitanan bahkan pasar malam tanpa di ganggu oleh pihak keamanan pada saat itu karena di anggap sebagai hiburan.

Disinilah mulai di kenal istilah silat kembagan (atau kembang) yang biasanya di tujukan pada silat ibingan dan silat buah yang di tujukan pada silat sebagai beladiri.

Kesadaran Nasionalisme

Dimulai dengan adanya kesadaran politik baru pada awal abad XX dan kebijaksanaan belanda yaitu Etische politiek, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat lewat berbagai program khususnya pendidikan, Peningkatan peranan desa dan di bentuknya polisi desa. Memilik pengaruh pada pola pengajaran silat pada masa itu, silat sudah mulai di ajarkan di sekolah sekolah dasar (desascholen), bahkan kalangan yang dekat dengan belanda seperti priyayi, amtenaren, KNIL bahkan marechausse pasukan khusus Belanda kala itu.

Berjalan dengan timbulnya rasa nasionalisme, maka timbul pula pertetangan di kalangan para pengajar pencak silat (perguruan) pada saat itu tentang siapakah yang berhak mempelajari silat ini. Bolehkah silat di ajarkan pada kaum bangsawan, amtenaren atau hanya untuk bumi putra? Kesadaran akan nasionalisme ini semakin menguat ketika pada tahun 1915 di buka kesempatan untuk mendirikan organisasi politik bagi kalangan bumi putra, pengajaran silat menjadi salah satu materi yang diajarkan di setiap organisasi ini. Seperti pada perkembangan awal Syarikat Islam di daerah Jawa yang diikuti oleh berdirinya persaudaraan Setya Hati oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo yang menyebabkan Belanda sangat mengawasi perkembangan perguruan ini karena memiliki pengikut dan murid yang banyak sekali. Ki Ngabehi Surodiwiryo ini melatih para murid MULO yang pada akhirnya banyak yang menjadi tokoh nasionalis.

Termasuk juga mantan Presiden Sukarno yang Tercatat pernah belajar silat kepada Ua Nampon di Bandung, ini menunjukkan betapa silat sangat berperan dalam meningkatkan rasa kepercayaan diri dan keberanian dalam membela kebenaran.

Masa Penjajaran Jepang

Pada masa penjajahan jepang mulanya menghawatirkan silat di gunakan untuk melawan jepang, namun ternyata tidak di semua tempat terjadi perlawanan terhadap Jepang (sang saudara tua). Akibatnya silat berkembang cukup baik di beberapa daerah bahkan pemerintah jepang yang pada saat itu selain membawa budaya beladirinya ke tanah air seperti karate, judo dan jujitsu. Mereka belajar silat dari para pendekar kita sehingga terjadi pertukaran budaya. Tentara PETA (pemuda pembela tanah air) di ajarkan beladiri Jepang guna berperang melawan Sekutu. Silat mengalami masa militerisasi karena menjadi bagian dari pendidikan militer. Pengajaran silat dilakukan kepada tentara Dai Nippon dan pasukan peta dengan disiplin militer yang sangat ketat.

Masa perjuangan kemerdekaan

Silat menjadi bagian yang tidak bisa di pisahkan dalam perang fisik melawan Sekutu dan Jepang, Sebagai salah satu contoh adalah hasil pendidikan PETA yang dienyam oleh I Gusti Ngurah Rai selama pendidikan di Jawa Barat yang kemudian di ajarkan secara sembunyi – sembunyi kepada pasukannya, pendidikan silat ini sangat berpengaruh dalam perjuangan bahkan pada bentuk silat khas Bali. Silat Bali sekarang banyak di pengaruhi oleh aliran silat dari Jawa Barat.

Pasukan Hisbullah yang di bentuk di pesantren Buntet Cirebon selain mendapatkan pelatihan yang berat selama Pendidikan PETA, para tokoh ulama dan jawara pergabung dalam pasukan ini guna melawan penjajahan Belanda. Pasukan Hisbullah yang di kenal dengan pasukan Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat ikut juga bertempur pada tanggal 10 November di Surabaya, dan berperan serta aktif ketika terjadi gencatan senjata dalam perjanjian Renville.

Penutup

Demikian sekilas tentang perkembangan silat dan kaitannya dalam perjuangan bangsa, masih banyak lagi peranan silat dalam membangkitkan semangat juang para pejuang dan pendekar dalam membela kemerdekaan bangsa ini semasa revolusi fisik dulu. Mudah mudahan tulisan ini membangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan pada budaya tanah air khususnya silat yang merupakan warisan luhur dari budaya bangsa kita.

Pejuang Negara Kepulauan

► SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1429 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin ► Selamat datang di situs gudang pengalaman  ► Thank you for visiting the experience site  ► TOKOHINDONESIA DOTCOM  ► Biografi Jurnalistik   ► The Excellent Biography  ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online  ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya “rumah pribadi” di Plasa Web Tokoh Indonesia?  ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►

Prof Dr Hasjim Djalal

Pejuang Negara Kepulauan

Prof Dr Hasjim Djalal sebagai seorang diplomat senior dan tokoh hukum laut internasional punya andil besar dalam proses mewujudkan pengakuan dunia atas Indonesia sebagai suatu negara kepulauan (archipelagic state). Pria kelahiran  Ampat Angkat, Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Februari 1934, itu berprofesi sebagai diplomat karier sejak masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi.

Penulis buku Indonesian Struggle for the Law of the Sea (1979) dan Indonesia and the Law of the Sea (1995) serta Preventive Diplomacy in Southeast Asia: Lesson Learned (2003), itu pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk PBB (1981-1983), Dubes di Kanada (1983-1985), dan Dubes di Jerman (1990-1993) serta Dubes Keliling hingga masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Sampai setelah dia pensiun, 1994, dia masih aktif menulis buku dan artikel di berbagai media serta berbicara di berbagai forum tentang masalah hukum laut internasional. Juga masih sibuk melayani kontak dari kolega-kolega internasionalnya. Pemikiran dan gagasannya tentang kelautan masih dibutuhkan bangsa ini, sehingga dia masih dipercaya duduk sebagai Anggota Dewan Martim Indonesia, Penasehat Senior Menteri Kelautan dan Perikanan, dan Penasehat Kepala Staf TNI Angkatan Laut serta di Kantor Menteri Percepatan Pembangunan Indonesia Timur.
Suami dari Ny Jurni Hasjim Djalal dan ayah dari tiga anak: Iwan Djalal, eksekutif perusahaan swasta; Dino Pati Djalal, Jubir Luar Negeri Presiden SBY, Direktur Urusan Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar Negeri RI; dan Dini Djalal, wartawan, tinggal di Amerika, itu juga di masa tuanya masih aktif sebagai anggota Komisi Konstitusi yang mengkaji amandemen UUD 45.

Dia tidak mau berdiam diri (mengangur). Sebagai pegawai negeri, pejabat eselon I dan II, memang diwajibkan pensiun pada usia 60 tahun. Tapi sebagai manusia, dia tidak mengenal masa pensiun. Sepanjang hayat masih dikandung badan, dia masih ingin aktif berkarya karena sudah merupakan bagian dari kebiasaan hidupnya. “Saya masih terus berpikir dan menulis. Kalau nggak kerja, rasanya sepi,” katanya.
Sepertinya dia tidak kenal lelah. Karena dia mengaku sangat menikmati kerja. Karena, baginya bekerja tidak sekadar bekerja karena pekerjaannya, tapi juga sekaligus bekerja karena hobi dan sudah menjadi bagian dari kebiasaannya.
Dengan prinsip kerja seperti itu, Hasjim Djalal di masa pensiunnya masih terlihat segar bugar. “Karena saya selalu mengemukakan pikiran saya, secara langsung maupun lewat tulisan. Saya suka ceramah, kuliah, menulis di koran, majalah, membuat paper untuk workshop dan seminar. Pokoknya apa saja. Keep you busy! Kita harus buat kehidupan ini berguna. Bahwa pensiun, ya pensiun. Tapi yang perlu diingat bahwa hidup ini belum berhenti,” kata Hasjim Djalal sebagaimana dikutip Harian Republika, Minggu, 09 Nopember 2003.
Sebagai manusia biasa, dia tentu juga perlu isterahat. “Tapi kadang kan orang bekerja dengan istirahat,” katanya memperkuat betapa dia sangat menikmati (hobi) pekerjaan yang digumulinya. Selain itu, untuk memelihara kebugaran, Hasjim Djalal aktif berolahraga golf, bukan untuk mengejar poin, melainkan menikmati jalan kakinya itu.

Dalam usia senja, visinya masih tetap jauh menatap masa depan. Dia gelisah atas tingkah-polah beberapa pemimpin saat ini yang tampaknya hanya berpikir jangka pendek, hanya memikirkan jabatan. Tidak seperti para pemimpin terdahulu, terutama para pendiri bangsa ini, yang berjuang untuk kepentingan bangsanya, kendati pun harus mati dan dibuang.

Maka dia melihat perlunya aktualisasi Deklarasi Djoeanda yang visioner itu jauh ke depan. Sebagaimana dituturkan kepada Wartawan Tokoh Indonesia Haposan Tampubolon, Saud Situmorang dan Wilson Edwart (fotografer), Kamis 13 Desember 2007:

“Makanya saya sedang mikir-mikir, pada tahun 1945 kita memproklamirkan kemerdekaan dengan wilayah nasional sebagaimana dimiliki Hindia Belanda 3 mil dari pantai, sehingga laut-laut itu bukan laut nasional kita. Tetapi Djoeanda menjadikannya menjadi laut nasional. Itu sangat visionaris.

Coba kita pikirkan. Setelah 50 tahun Deklarasi Djoeanda, ke mana bangsa kita mau pergi. Pada tahun 1957 penduduk Indonesia masih sekitar 80 juta jiwa, sekarang 240 juta jiwa. Untuk 50 tahun yang akan datang ke mana mau kita bawa lagi bangsa ini. Djoeanda dulu membawanya kepada Kesatuan Nusantara.

Nanti setelah kekayaan alamnya habis, demikian pula hutannya, ikannya, terumbu karangnya, pemikir-pemikir kita sudah harus mulai belajar dari Pak Djoeanda untuk memikirkan masa depan bangsa 50 tahun yang akan datang.”

Sang Diplomat Karir

Hasjim Djalal seorang diplomat karir. Dia memang sudah bercita-cita jadi diplomat sejak kecil. Ketika dia masih duduk di kelas 2 SMP (1948) dia sudah senang dan banyak membaca sejarah. Saat itu zaman perang kemerdekaan dan Belanda menduduki Bukittinggi. Dia sering membeli buku-buku kecil mengenai sejarah. Dia antara lain membaca kisah kehidupan Jose Rizal, Gandhi, cerita-cerita tentang sejarah Romawi, atau kisah Pangeran Diponegoro.

Dia senang membacanya terutama pada waktu-waktu senggang dan ketika pulang sekolah naik kereta api. Kebiasaan membaca itu terus menjadi hobi hingga dia dewasa. Bahkan sampai hari tuanya dia tidak pernah berhenti dari kebiasaan membaca. Baik dalam mobil perjalanan pergi-pulang ke kantor, ataupun dalam perjalanan jauh di pesawat, dia terus membaca.

Salah satu yang paling berkesan baginya dari bacaan sejarah itu adalah kisah zaman ketika orang berupaya melakukan perdamaian di Eropa sesudah Perang Dunia II pada awal abad ke-19. Kisah itu memantik berkeinginannya menjadi diplomat. Saat lulus dari SMA di Bukittinggi, tahun 1953, cita-citanya menjadi diplomat yang sudah tumbuh sejak SMP, menyala semakin kuat.

Dia berbahagia, karena kedua orang tuanya, H Djamaludin dan Ny Salamah, yang walau warga dusun, memberi dukungan penuh. besar. Maka selepas SMA, Hasjim pun berangkat ke Jakarta untuk sekolah di Akademi Dinas Luar Negeri. Oleh karena kondisi ekonomi kala itu, orangtuanya membekalinya dengan uang sangat pasan-pasan. Beruntung dia pun dibekali sebuah sepeda pemberian Paman Marah Sutan Maraju, sehingga mobilitasnya terbantu.

Setamat dari Akademi Dinas Luar Negeri, Hasjim mulai meniti karir di Depatemen Luar Negeri RI, 1 Januari 1957 (pensiun sebagai pegawai negeri pada 1994). Pertama kali dia ditugaskan ke luar Jakarta (luar negeri) adalah ke Irian (Kala itu Irian memang sudah wilayah RI, tapi tengah dikuasasi Belanda dan sedang berlangsung diplomasi untuk dikembalikan kepada Indonesia, dan kesepakatan tercapai tahun 1962).

Hasjim ditempatkan di perwakilan pemerintah pada UNTEA (United Nations Temporary Executive Administration) di Irian, sebuah badan PBB yang punya misi mempersiapkan peralihan pemerintahan di Irian dari Belanda ke PBB lalu ke Indonesia. Hasjim bertugas sebagai legal advisor. Namun, lama-lama tanpa disengaja dia jadi interpreter untuk Administrator PBB, Djalal Abduh, asal Iran.

Dia menyertai Administrator PBB itu keliling-keliling di Irian. Karena Administrator PBB itu tidak bisa berbahasa Indonesia, maka Kepala Perwakilan Indonesia di UNTEA, Soedjarwo Tjondronegoro (almarhum), menugasi Hasjim jadi penerjemah. Dia pun menjalankan tugasnya dengan baik.

Setelah bertugas di Irian dia kembali ke Jakarta, bertugas di basisnya, Direktorat Hukum Deplu, sekarang namanya Direktorat Perjanjian Internasional. Setelah itu, dia ditempatkan ke Beograd, Yugoslavia (1964), masa kepemimpinan (komunis) Josip Broz Tito (sahabat Bung Karno).
Hasjim punya pengalaman menarik dengan Tito. Sebagai pegawai kedutaan dia merasa bangga pernah ngobrol-ngobrol lama dengan Tito dia atas kapal. Kejadiannya tidak disengaja. Kala itu, Hasjim pulang dari sekolah di Amerika, akhir 1960, dengan naik kapal dari New York ke Jakarta. Kapal itu mampir-mampir di beberapa tempat, termasuk Eropa, sehingga seluruhnya memakan waktu 35 hari.

Di tengah perjalanan dari New York sampai ke Eropa, selama satu minggu, Hasjim satu kapal dengan Tito, yang sama-sama suka main di geladak. Sebagai seorang anak muda, pulang sekolah, orang Indonesia yang friendly terhadap Yugoslavia, Hasjim mula-mula berbicara akrab dengan para security officer yang menjaga di sekeliling Tito. Sehingga lama-lama para security officer itu tidak keberatan Hasjim berdiri dekat Tito dan akhirnya ngobrol di geladak kapal itu.

Memang, hanya obrolan ringan. Hasjim mengaku lebih banyak mendengar dan banyak belajar. Tito yang bersahabat dengan Bung Karno bicara mengenai Indonesia, bicara juga mengenai Yugoslavia. Bicara juga soal Presiden Soekarno yang baru saja (menghadiri) persiapan Konferensi Boegrad tahun 1961 mengenai Non Blok dan soal Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.

Dalam pandangan Hasjim, pemimpin Yugoslavia itu seorang pribadi yang senang bergaul, orangtua yang human, dan pejuang bagi bangsa dan negerinya. Tito juga punya pandangan-pandangan tajam terhadap Non Blok. Namun waktu itu, kata Hasjim, kemampuannya untuk memahami pembicaraan Tito, belum terlalu banyak.

Hasjim pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk PBB (1981-1983), Dubes di Kanada (1983-1985), dan Dubes di Jerman (1990-1993) serta Dubes Keliling hingga masa pemerintahan Presiden BJ Habibie. Saya pernah jadi Duta Besar Keliling selama enam tahun pada zaman Presiden Soeharto dan Habibie.

Selama bertugas di luar negeri, Hasjim memanfaatkan sebagian waktunya untuk sekolah. Hanya enam bulan setelah jadi pegawai negeri, dia pergi ke Amerika untuk sekolah S-2 dan S-3 selama empat tahun di University of Virginia. Tahun 1961 dia sudah selesai S-3 dengan disertasi mengenai kelautan: The Limit and Territorial Sea in International Law.
Sejak itu, Hasjim makin gigih memperjuangkan hukum laut. Sebuah fokus perjuangan diplomasi yang paling berkesan baginya. Dia tertarik masalah kelautan karena waktu mulai belajar di Amerika pada 1957, dia melihat Indonesia banyak sekali menghadapi persoalan yang merongrong kesatuan bangsa. Di Sumatera Barat, kampungnya sendiri, dan Sulawesi Utara ada pemberontakan PRRI/Permesta. Ada juga masalah Darul Islam yang waktu itu belum selesai, dan perjuangan Irian Barat belum selesai-selesai.

Indonesia pernah menganut sistem parlementer dan konstituante sesudah Pemilu 1955. Tapi tidak berjalan baik. Sistem partai politik yang dicoba waktu itu, kurang membawa kestabilan. Lantas, Hasjim berpikir, how do you create national unity? Apa penyebab semua ini?

Hasjim berpikir, barangkali bangsa kita tidak memahami fungsi laut sebagai pemersatu bangsa. Bukankah negara kita sebuah negeri kepulauan. Indonesia berbeda dengan India, Rusia, Cina, Jerman, atau Amerika, yang negerinya kontinental. Bagi mereka fungsi laut lebih pada fungsi ekonomis.
Sementara, bagi Indonesia, di samping fungsi ekonomis, berfungsi juga sebagai pemersatu bangsa. Tapi ironisnya, selama ratusan hingga ribuan tahun sejarah kepulauan Indonesia, laut malah menjadi berfungsi sebagai pemecah bangsa.

Sebab itu, Hasjim ingin mengembangkan satu attitude bahwa laut itu jangan menjadi pemisah, tapi menjadi pemersatu antarpulau Indonesia. Dia memberi contoh, Selat Sunda jangan jadi pemisah antara Jawa dan Sumatera, tapi justru sebagai penghubung dan pemersatu antara Jawa dan Sumatera.

Bahkan sampai saat itu, fungsi ekonomi laut pun tidak ada artinya bagi Indonesia. Nelayan-nelayan tradisional di sepanjang pantai hanya bisa menangkapi ikan teri. Tapi laut lepas atau laut bebas, tidak dimanfaatkan. Kala itu, yang menangkapi ikan tuna di Laut Banda, orang Jepang. Alasannya, itu laut bebas. Kita tidak bisa melarang.

Lalu pada 13 Desember 1957, Perdana Menteri Ir Djoeanda mendeklarasikan bahwa laut antarpulau Indonesia adalah wilayah Indonesia. Deklarasi ini mendapat tantangan dari seluruh dunia, terutama Amerika, Jepang dan Australia. Tindakan Indonesia dianggap ”merampok” laut. Tapi pemerintah bersikukuh bahwa itu merupakan hal yang sangat vital bagi kesatuan dan masa depan bangsa.

Dari kasus itulah, Hasjim menulis disertasi tentang kelautan. Dialah orang Indonesia pertama menulis disertasi tentang kelautan. (Pada waktu Hasjim pulang meraih gelar S-3, Mochtar Kusumaatmadja, yang tengah mengajar di Universitas Padjadjaran Bandung, juga sedang mempersiapkan  disertasi tentang hukum laut. Sejak saat itu, Hasjim mempunyai hubungan cukup erat dengan Mochtar yang kemudian hari menjadi Menlu).

Sehingga kala itu disertasi Hasjim mendapat perhatian dari kelompok-kelompok tertentu, terutama TNI Angkatan Laut. Maka sepulang dari Amerika, Kepala Staf TNI AL, Laksamana Martadinata langsung meminta disertasi Hasjim tersebut. Hasjim pun dilibatkan aktif menjadi sekretaris Panitia Hukum Dewan Maritim yang diketuai KSAL Laksamana Martadinata.

Banyak pihak yang memandang disertasi Hasjim agak aneh. Tetapi pihak University of Virginia sendiri yang menganut intelectual liberty, menganggapnya sebagai karya ilmiah yang sepatutnya dihargai. Sementara beberapa pihak menganggapnya aneh. Merasa aneh ada negara nusantara, negara kepulauan.

Sementara, pada 1948, sudah ada orang Norwegia, Jens Evensen, yang menulis bahwa gugus pulau itu bisa dianggap sebagai satu unit. Hal ini oleh Hasjim dan Mochtar dijadikan salah satu acuan disertasi. Jens Evensen merinci gugus pulau itu dalam ukuran kecil-kecil (seperti Pulau Seribu). Teori itu berkembang, lalu dalam konvensi tahun 1958 dikatakan bahwa gugus pulau sepanjang pantai juga bisa dianggap menyatu dengan pantai unitnya itu.
Walaupun teori Jens Evensen, tidak cocok bila digunakan untuk Indonesia yang pulaunya besar-besar. Gugusan pulau yang bertebaran seperti di Indonesia dengan jarak ribuan mil, susah bagi orang mencari teori bagaimana menyatukannya.

Tapi Hasjim dan Mochtar mengembangkan teori bahwa satu negara yang terdiri atas kepulauan, dianggap satu, dan menyatukan seluruh perairan di dalamnya sebagai wilayah nasionalnya.
Perjuangan atas teori dan gagasan itu ditempuh melalui jalan panjang dan berliku. Hasjim dan Mochtar menghadiri berbagai konferensi internasional untuk mengetes sikap berdasarkan teori itu. Hasjim sendiri hadir dalam pertemuan di Kairo tahun 1964. Namun kala itu tak ada reaksi dan dipandang tidak ada urgensinya untuk dibahas.
Kemudian setelah ada persiapan ke arah Konferensi ke-3 PBB, yang dimulai tahun 1967, dan Indonesia menjadi anggota PBB pada 1969, Hasjim ditugaskan pemerintah menjadi peninjau. Kala itu sudah ada yang mulai tergerak perihal pandangan negara kepulauan itu.

Lalu pada pertemuan Badan Hukum Asia Afrika di Colombo,  1971, sudah tertarik untuk membahas. Dalam kesempatan ini, Hasjim mengemukakan teori itu dan mulai mendapat simpati, meskipun lebih karena solidaritas sesama Asia-Afrika.

Dengan perjuangan diplomasi panjang bertahun-tahun dan manfaatkan solidaritas sesama negara Asia-Afrika, akhirnya Indonesia mendapat dukungan dunia internasional. Pada 1972 Indonesia pun rumuskan prinsip-prinsip pokoknya.
Ketika Konferensi PBB 1973, Hasjim aktif menggalang negara-negara tetangga dan negara-negara yang kira-kira sama dengan Indonesia merupakan negara-negara kepulauan, seperti Filipina, Fiji, dan Mauritius. Juga organisasi dunia lainnya didekati. Konferensi Asia Afrika, tiap tahun didukung. Organisasi negara-negara Afrika, juga digarap. Hasjim beberapa kali menghadiri pertemuan di bidang kelautan di berbagai belahan dunia. Akhirnya mereka banyak mendukung teori (gagasan) negara kepulauan. Termasuk pada 1974, koferensi di Caracas yang berlangsung delapan tahun.

Sementara Amerika, Inggris, Jepang dan Australia, sebagai negara-negara maritim internasional, yang punya perkapalan, angkatan laut, dan punya apa-apa di seluruh dunia, berupaya keras menentang. Mereka antara lain kuatir bahwa wawasan nusantara itu akan merintangi dan menghalangi mobilitas angkatan laut mereka dari satu samudera ke samudera lain.

Namun karena keuletan para diplomat Indonesia, di antaranya Hasjim Djalal dan Mochtar Kusumaatmadja, gagasan wawasan nusantara itu akhirnya bisa diterima dunia. Hasjim sendiri sampai lupa berapa kali dia bernegosiasi dengan Amerika, Jepang, dan Rusia, saking seringnya. Dalam setiap pertemuan itu, Hasjim menjelaskan dan menegaskan sikap bahwa negara kepualauan itu mutlak bagi Indonesia.

Ketika Presiden Soeharto ke Tokyo (Jepang), Hasjim ditugaskan ke sana antara tahun 1974-1975. Salah satu tugas utamanya adalah bagaimana supaya ketika Pak Harto datang, Jepang mau mengeluarkan pernyataan mengakui wawasan nusantara Indonesia. “Bagi saya ini suatu tugas yang sangat vital bagi bangsa Indonesia,” kenang Hasjim Djalal. Misi ini pun berhasil.

Setelah setiap persoalan terselesaikan dalam berbagai pertemuan seminar dan diplomatik, dirumuskanlah dalam Konvensi Hukum Laut Internasional pada tahun 1982. Seluruh negara pun mengakui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.

Namun, sampai saat ini (era reformasi), Hasjim merasa prihatin bahwa setelah itu dapat, bangsa Indonesia kurang mampu memanfaatkannya. Menurut Hasjim, posisi strategis Indonesia sudah sangat banyak diketahui bahwa kita sangat penting. Dalam arti letak perairannya berada di antara dua samudera dan dua benua. Susah mencari negara di dunia yang memiliki posisi seperti itu.

Namun, kata Hasjim, permasalahan yang dihadapi bangsa kita sejak dahulu, sudah berlangsung ratusan tahun, yang pandai memanfaatkan posisi itu justru orang luar. “Sampai hari ini kita tidak mampu mengambil keuntungan dari posisi yang sangat strategis itu. Yang pandai dan mampu adalah Singapura,” ujarnya.

Singapura dalam posisi di tengah jalan mampu mengembangkan industrinya, perkapalannya dan segala macam. Kita kelihatannya belum mampu, padahal memiliki unsur-unsur yang sangat strategis. Tidak ada orang yang bisa lewat dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik tanpa melalui kita, atau dari Pasifik ke Hindia.

Itu satu poin. Yang kedua, walau keadaan kita sangat strategis, besar, banyak, dan kaya, Singapura tidak mempunyai resources karena dia kecil, tetapi karena kita kurang pandai memanfaatkan alam maka banyak dicuri orang. Sejak jaman penjajahan sudah begitu, sampai sekarang masih seperti itu juga. Kekayaan alam kita banyak tetapi tidak mampu memakmurkan rakyat.

Yang ketiga, karena kita besar, kekayaan alam banyak, akhir-akhir ini terasa kita lebih banyak merusak daripada memanfaatkannya. Seperti hutan yang hancur, laut kita juga sudah rusak. Sekarang kita menghadapi terumbu karang yang rusak. Karena tidak paham, kita menganiaya alam. Maksudnya mungkin tidak untuk menganiaya, tapi begitulah yang terjadi.

” Indonesia Raja “

Indonesia Tanah Airkoe
Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri
Djadi Pandoe Iboekoe

Indonesia Kebangsaankoe
Bangsa dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe
Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe
Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra’jatkoe Semw’wanja
Bangoenlah Jiwanja
Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Tanahkoe Negrikoe jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja

Indonesia Tanah jang Moelia
Tanah Kita jang Kaja
Di Sanalah Akoe Berdiri
Oentoek Slama-lamanja
Indonesia Tanah Poesaka
Poesaka Kita Semoeanja
Marilah Kita Mendo’a
Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja
Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra’jatnja Sem’wanja
Sadarlah Hatinja
Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Tanah Jang Soetji
Tanah Kita Jang Sakti
Di Sanalah Akoe Berdiri
‘Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri
Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji
Indonesia Abadi

Slamatlah Ra’jatnja
Slamatlah Poetranja
Poelaoenja, Laoetnja, Sem’wanja
Madjoelah Negrinja
Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

Antisipasi Penyalahgunaan Ilmu Intelijen

Bagi seorang intel betulan, digunakannya identitas lain, dalam melakukan operasi intelijen, merupakan strategi tersendiri. Istilahnya cover atau penyamaran. Segala sarana dan prasarana yang dapat mendukung kesempurnaan dalam menjalankan cover-nya, sudah disiapkan lebih dahulu. Jangan heran kalau dalam melakukan penyamaran, adakalanya si intel itu bahkan bisa jauh lebih hebat dibandingkan dengan sosok yang dimainkannya.
Itulah sebabnya mengapa Mossad, CIA atau KGB, bisa sampai bertahun-tahun lamanya dalam menyiapkan cover. Jauh sebelum si agen itu beroperasi dan melakukan penetration atau infiltration ke organisasi atau negara sasaran yang dituju. Kalau perlu sampai menikah dengan orang setempat agar cover-nya sempurna dan lepas dari kecurigaan.
Ketahuan? Jangan harap bisa selamat alias bebas begitu saja. Minimal kena hukuman penjara karena melakukan kegiatan mata-mata. Kecuali kalau sasaran yang dituju ternyata lebih cerdik. Bisa-bisa si agen yang tertangkap, malah dijadikan double agent bahkan triple agent. Tentu saja risiko seorang double atau triple agent akan jauh lebih besar dihadapi. Syukur-syukur kalau negara sasaran tidak punya undang-undang yang bisa dikenakan terhadap orang yang melakukan kegiatan mata-mata. Misalnya di Indonesia. Bagi intel asing, kalau ketahuan melakukan kegiatan mata-mata, paling-paling cuma diusir dan dideportasi. Itu pun kalau ada bukti.
Sedangkan bagi warga negara sendiri yang melakukan kegiatan mata-mata yang jelas-jelas merugikan negara, cuma dikenakan pasal-pasal dalam KUHP tentang kejahatan terhadap keamanan negara, yang isi pasal maupun sanksi hukumannya sangat fleksibel.
Nasib paling bagus ya cuma kena blacklist. Itu pun alamat karier selesai. Di dunia intelijen, kalau penyamaran terungkap, daripada kena hukuman, blacklist dan malu seumur hidup, lebih baik memilih mundur, menghilang, ngumpet, atau mati saja sekalian. Makanya, para agen infiltrasi itu banyak yang memilih bunuh diri kalau cover-nya ketahuan musuh.
Pada kasus Ersa, di mana pihak GAM menduga bahwa kedua istri perwira itu melakukan kegiatan mata-mata, berawal dari kecurigaan GAM bahwa TNI melakukan operasi intelijen dengan menggunakan cover sebagai wartawan atau petugas PMI. ”Kami memperkirakan intelijen TNI sudah lumpuh sehingga mereka terpaksa menggunakan identitas kewartawanan dan palang merah untuk bisa masuk ke wilayah kami,” ujar Ishak Daud, yang menjadi Panglima Operasi GAM untuk wilayah Peureulak, Aceh Timur
Bagi GAM, kecurigaan itu muncul sebagai langkah antisipatif GAM terhadap bocornya pertahanan mereka oleh pihak TNI lewat penggunaan cover tersebut. Padahal strategi yang sama juga dilakukan oleh intel GAM sendiri. Misalnya dengan menyamar sebagai penduduk. Menurut informasi yang didapat intel TNI di lapangan, banyak anggota GAM yang menggunakan KTP penduduk dengan berbagai cara termasuk merampas sehingga memiliki identitas lain sesuai dengan identitas pada KTP yang ada.
Memang, dengan alasan operasi atau kegiatan intelijen, tindakan yang sebenarnya dapat dikategorikan sebagai perbuatan kriminal, umumnya dilegitimasi oleh pelaku sebagai perbuatan yang wajar dan dianggap ”sah-sah” saja.

Undang-undang Intelijen
Saat ini, didirikannya International School of Intelligence di Batam dan Institut Intelijen Negara di Sentul sebagai sekolah intelijen pertama di dunia , tentu akan membawa paradigma baru dalam bidang intelijen. Paling tidak, adanya perubahan paradigma dalam memandang ilmu intelijen sebagai ilmu dan seni. Selama ini intelijen dianggap tabu untuk dipelajari secara terbuka.
Berawal dari diterapkannya ilmu intelijen dalam bisnis (intelligent business/competitive intelligent) pada beberapa negara di dunia. Amerika, Swedia, Perancis, Jerman, Australia, Inggris, Belanda, Swiss, Rusia, RRC dan Jepang sudah memanfaatkan intelijen bisnis atau intelijen kompetitif sejak bertahun-tahun lalu. Penggunaan intelijen dalam industri atau perusahaan membuat industri mereka dapat merajai industri dunia.
Di Indonesia sendiri, beberapa tahun belakangan ini intelijen bisnis mulai dipelajari secara terbuka sebagai salah satu mata pelajaran pada beberapa jurusan manajemen. Hal itu menjadi salah satu dasar mengapa ilmu intelijen kemudian dipandang ”layak” untuk dipelajari secara terbuka.
Sehingga, ketika Presiden Megawati meminta BIN untuk lebih mengantisipasi kejahatan transnasional dan terorisme dunia setahun lalu, permintaan itu disambut oleh BIN dengan ide mendirikan sekolah untuk mempelajari ilmu intelijen secara terbuka.
Sama halnya seperti ilmu kepolisian yang juga mulai dipelajari pada beberapa universitas. Di Universitas Indonesia sendiri, ilmu kepolisian sudah dijadikan sebagai jurusan tersendiri untuk tingkat Strata-2 sejak delapan tahun lalu.
Tentu saja belajar ilmu kepolisian tidak otomatis menjadikan lulusannya sebagai polisi. Sama halnya dengan ilmu intelijen. Belajar ilmu intelijen, mestinya memang tidak otomatis menjadikan lulusannya sebagai agen intel di lembaga intelijen tertentu. Sebagai multi disiplin ilmu, tentunya berbagai ilmu yang ada baik ilmu murni maupun ilmu terapan dapat terkait dengan ilmu intelijen.
Hanya saja, ada satu hal yang perlu dipikirkan. Memberi kesempatan pada masyarakat umum untuk mempelajari ilmu intelijen secara terbuka, harus diimbangi dengan perangkat lain untuk dapat mengantisipasi jika terjadi dampak negatif dari penerapan ilmu intelijen yang tidak pada tempatnya.
Apalagi jika kemudian dipelajari beberapa hal yang sifatnya teknis seperti fotografi rahasia, penyadapan, penyelidikan, pengamanan dan penggalangan atau hal lain yang bersifat teknis dalam melakukan operasi atau kegiatan intelijen.
Ada dogma bahwa menjadi ”orang intel” dan berkecimpung dalam ”komunitas intelijen” (intelligent community), bukan berarti bekerja pada sebuah lembaga intelijen tertentu dan menjadi agent action di lembaga tersebut. Ia bisa saja hanya merupakan orang binaan atau sekedar informan pada jaringan tertentu.
Ini yang ”berbahaya”, karena sifatnya laten dan tidak terkontrol. Apalagi jika kemudian orang tersebut lepas dari user-nya, yaitu orang atau agent handle yang mengendalikan orang binaan atau informan tersebut
Bisa-bisa, sekedar untuk memenuhi need-nya, intelijen malah dijadikan lahan bisnis tersendiri yang cukup empuk. Kalau sudah begitu, yang ada bukan lagi intelijen bisnis tapi bisnis intelijen alias bisnis informasi untuk kepentingan tertentu.
Untuk itu, rasanya perlu dipikirkan, agar dapat dibuat semacam undang-undang tentang intelijen. Tentunya isi undang-undang tersebut untuk mengantisipasi berbagai kegiatan atau operasi intelijen dari pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab, yang akibatnya dapat merugikan bangsa dan negara lewat pemanfaatan ilmu intelijen secara salah.
Adanya undang-undang tersebut juga merupakan alat legitimasi bagi negara, yang tentunya dijalankan oleh polisi, untuk dapat mengambil tindakan hukum terhadap berbagai tindak kejahatan yang terjadi, yang merupakan bagian dari sebuah kegiatan atau operasi intelijen. Bukan tidak mungkin, ke depan, akan berkembang modus-modus kejahatan baru dengan menyimpangkan penggunaan ilmu intelijen tersebut. Jika itu terjadi, mau tidak mau tentu polisilah sebagai pihak yang memiliki wewenang untuk mengambil tindakan hukumnya. Sudah siapkah Polri menghadapi hal itu?

Reformasi Intelijen

7 tahun setelah bergulirnya reformasi, apakah reformasi intelijen juga terjadi?

Bila kita menilik perubahan signifikan dalam lembagai intelijen tertinggi di republik ini, maka sekilas kita akan melihat sosok Badan Intelijen Negara (BIN) yang berbeda dengan Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) di masa lalu. Sayang, letak perbedaannya hanya pada kata koordinasi…..yang bisa diartikan hilangnya fungsi koordinasi atau mungkin juga upaya menjadikan badan yang sungguh-sungguh memiliki operasionalisasi yang memadai.

Lebih lanjut, bila kita menilik badan intelijen lain semisal Badan Intelijen Strategis (BAIS) milik militer dan Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) milik Polri, unit intelijen Departemen seperti di Depkumham, Kejaksaan Agung, Direktorat Sospol Depdagri maka tidak sedikitpun perubahan. Bahkan apa yang kita kenal sebagai komunitas intelijen yang dikoordinir BIN masih tetap berjalan. Karena bentuk komunitas intel itu lebih mirip ngobrol sambil ngopi bareng serta “sedikit” pengarahan, maka pengaruhnya bisa jadi sangat-sangat lemah.

Ketika Amerika Serikat diguncang teror bom yang kita kenal dengan sebutan 9/11, serta-merta terjadi desakan dilakukannya reformasi nasional atas organisasi dan gelar operasi seluruh jajaran intelijen. Tidak ada sesuatupun yang berdampak serius ke dalam organisasi, karena kongres dan eksekutif sangat menghargai keberadaan organisasi intelijen seburuk apapun kinerja mereka.

Tapi di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya, fungsi intelijen semakin kerdil, marjinal dan saya perkirakan hanya kan menjadi mata-telinga penguasa menjelang pesta demokrasi lima tahunan, akibatnya profesionalisme organisasi semakin terabaikan.

Tingkat frustasi para intel telah mendekati suatu kondisi yang memprihatinkan. Dengan sistem single client yang patuh total pada presiden, maka tidak mau tidak semua unsur intelijen, khususnya BIN telah berubah menjadi alat politik yang signifikan.

Kalau benar-benar diperhatikan apa fungsi dari Badan Intelijen di negara RI, kita tinggal melihat ke dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu bisa dijabarkan sebagai berikut:

“Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, yang dijabarkan dalam bentuk tugas mengkoordinasikan perencanaan umum dan pelaksanaan operasional kegiatan intelijen diantara instansi-instansi lainnya yang memiliki fungsi intelijen dan mendukung penyelenggaraan tugas pokok intelijen masing-masing instansi. Memberikan keterangan-keterangan rahasia yang akurat dan tepat waktu kepada presiden dan kabinet. Mengumpulkan keterangan rahasia luar negeri, keterangan rahasia dalam negeri, melakukan analisa, melaklukan kontra-spionase, dan melakukan kontra-terorisme.”

Tetapi apa daya mimpi tak sampai, kooptasi organisasi intelijen oleh kekuatan politik dan kepentingan sesaat para penguasa telah melemahkan organisasi intelijen itu sendiri. Ini apa yang saya sebut sebagai hilangnya profesionalisme dan nurani kerakyatan/kebangsaan yang seharusnya melekat di hati setiap insan intelijen.

Sekedar bukti-bukti politik:

· Perkembangan intelijen di tanah nusantara mulai tumbuh setelah RIS dilebur menjadi RI dan menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950. Dimana mantan presiden Soekarno pada bulan Desember 1958 membentuk Badan Koordinasi Intelijen (BKI), tetapi pada bulan November 1959, Badan Koordinasi Intelijen (BKI) dirubah namanya menjadi Badan Pusat Intelijen (BPI) yang dalam bahasa Inggris = CIA. Tokoh yang ditugasi dan diberi tanggung jawab oleh mantan presiden Soekarno untuk mengurus dan menjalankan Badan Pusat Intelijen (BPI) adalah Menteri Luar Negeri Subandrio (orang dekat presiden yang kemudian juga terseret dalam sengketa politik nasional).

· Ketika terjadi pergantian kekuasaan ke tangan Jenderal Soeharto, itu Badan Pusat Intelijen (BPI) dibubarkan dan “dibersihkan” pada tanggal 22 Agustus 1966, digantikan oleh Komando Intelijen Negara (KIN) yang langsung dibawah komando Jenderal Soeharto dengan bantuan tokoh intel kawakan Sudirgo tentunya. Kemudian pada tanggal 22 Mei 1967, Komando Intelijen Negara (KIN) berganti nama menjadi Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), pemimpin lembaga baru ini adalah Jenderal-jenderal terdekat dengan presiden yang sedang menjabat. Nama-nama tokoh intelijen Indonesia seperti Letjen (purn) Sutopo Yuwono, Jenderal (purn) Yoga Soegomo, Letjen (purn) Sudibyo, Letjen (purn) Moetojib, Letjen (purn) ZA Maulani, Letjen (purn) Arie J. Kumaat, Jenderal (purn) AM. Hendropriyono, dan terakhir Mayjen (purn) Syamsir Siregar semuanya adalah orangnya presiden.

· Kiprah pemimpin BAKIN yang pertama tidak terlalu lama karena pertentangan dengan para petinggi militer, sehingga pada tahun 1974 harus digantikan oleh pemimpin yang lebih disenangi kalangan militer aktif dan khususnya mantan presiden Suharto.

· Pada masa mantan Presiden Suharto, kepemimpinan Jenderal Yoga Soegomo jelas tidak bisa dipungkiri nama besarnya, karena ranking militernya yang jenderal penuh didukung oleh model operasi gaya Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB). Kepemimpinan gaya flamboyan yang melebihi wewenang berdasarkan hukum positif itu telah mengabaikan pentingnya penataan hukum nasional dalam bidang pertahanan dan keamanan (security). Keberadaan hukum antisubversi dan kekuatan politik nasional yang bersandarkan pada militerisme telah membuat terbuai organisasi intelijen. Jelas sekali peran intelijen sebagai kepanjangan tangan penguasa, dan kedekatan BAKIN dengan mantan Presiden Suharto tidaklah mungkin untuk dibantah.

· Anomali organisasi BAKIN terjadi setidaknya dua kali yaitu pertama ketika Ali Moertopo waktu itu berpangkat Brigjen memegang posisi sebagai salah satu Deputi Operasi yang sangat berpengaruh. BAKIN kalah terkenal oleh apa yang masyarakat kenal sebagai Opsus (Operasi Khusus). Kedua yaitu ketika Benny Moerdhani yg masih Mayjen menjabat sebagai Wakil Kepala BAKIN, upaya pengrusakan organisasi sipil dibawah militer sangat kentara terjadi di BAKIN. Akibatnya intelijen sipil benar-benar mandul, impoten dan dikuasai oleh militer seutuhnya. Pada anomali organisasi yang kedua, yaitu dibawah kepemimpinan Sudibyo yang terjadi adalah kemandulan organisasi BAKIN tersebut tidak segera diatasi dengan revitalisasi organisasi yang mengupayakan kemandirian intelijen sipil. Anggota intelijen lebih banyak disuapi “bingkisan” dari rekanan pengusaha pimpinan dan lupa dengan tugas pokok organisasi. Sehingga peranan BAIS jelas jauh lebih menonjol ketimbang BAKIN yang secara teori jauh lebih tinggi.

· Adalah Letjen (purn) Moetojib yang pertama berusaha lebih netral dalam soal politik nasional, yaitu ketika memutuskan untuk tidak turut serta dalam rekayasa penggembosan PDI (Megawati).

· Upaya serius memperbaiki kinerja BAKIN diawali oleh gebrakan Letjen (purn) ZA Maulani yang sempat memiliki waktu untuk mengevaluasi kerja BAKIN saat menjabat sebagai pimpinan Setwapres. Letjen (purn) ZA Maulani sangat menyadari kualitas produk BAKIN yang diibaratkan sebagai garbage in garbage out (semuanya analisa BAKIN bagaikan sampah busuk). Disadari atau tidak oleh orang-orang BAKIN, pernyataan Letjen (purn) ZA Maulani tersebut tidak mengherankan, karena faktanya BAKIN telah terperosok ke dalam jurang kehancuran organisasi melalui dominasi militer dan hilangnya jiwa pengabdian intelijen yang profesional.

· Letjen (purn) ZA Maulani masih sempat meninggalkan berkas reformasi organisasi yang bertujuan merombak organisasi dan gelar operasinya. Berkas tersebut dilanjutkan oleh Letjen (purn) Arie J. Kumaat karena seperti biasa pergantian presiden berarti pergantian Kepala Badan Intelijen. Betapa beratnya kepemimpinan Letjen (purn) Arie J. Kumaat karena konon ia bukan pilihan Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid).

· Reformasi intelijen dalam tubuh BAKIN yang kemudian dikukuhkan menjadi BIN di era Letjen (purn) Arie J. Kumaat tersebut semakin berkibar ketika pemimpin flamboyan Letjen (purn) AM Hendropriyono diangkat sebagai Kepala BIN dengan status setingkat Menteri Negara. Langkah-langkah perbaikan organisasi juga dilaksanakan sejalan dengan semangat menjadikan BIN sebagai organisasi yang profesional. Sayangnya nuansa politis masih terasa seperti juga pada masa-masa kepemimpinan sebelumnya. Kedekatan Letjen (purn) AM Hendropriyono yang kemudian mendapat pangkat kehormatan sebagai Jenderal dari mantan presiden Megawati tidak diragukan lagi kedekatannya dengan presiden. Sebuah upaya positif adalah memperkuat posisi sipil dalam organisasi BIN, bahkan ikut mengusulkan agar Kepala BIN bisa dipimpin orang sipil.

· Terakhir adalah menurunnya kembali status Kepala BIN. Meski fakta pangkat militer pemimpin yang terakhir hanya berbintang 2, tidak berarti kemampuannya memimpin organisasi intelijen patut diragukan. Mayjen (purn) Syamsir Siregar sebagai teman dekat presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sekarang berkuasa, memikul beban yang sangat berat baik secara internal maupun eksternal. Dengan pengalaman memimpin lembaga intelijen TNI (BIA/BAIS) tentunya harapan membawa BIN menjadi organisasi yang profesional, disegani dan disayangi rakyat menjadi tugas utamanya. Kemandegan reformasi intelijen yang tidak jelas mau kemana, persoalan profesionalisme intelijen, dan semakin menurunnya citra intelijen di mata publik seyogyanya segera diatasi secara profesional. Tentu saja soal kedekatan Kepala Badan Intelijen dengan presiden juga patut mendapat sorotan, karena selayaknya kedekatan itu tidak kembali menjerumuskan dan menghancurkan organisasi yang dibangun demi kejayaan bangsa Indonesia.



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.